Mengintip Uniknya, Kampung Pitu Yang Hanya Diisi 7 Kepala Keluarga | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

22 November 2021|20:28 WIB

Mengintip Uniknya, Kampung Pitu Yang Hanya Diisi 7 Kepala Keluarga

Aturan tersebut merupakan wasiat atau pepunden dari leluhur yang hingga hari ini masih dipertahankan oleh masyarakat meskipun zaman sudah beranjak menuju era modern.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Rendi Widodo

Mengintip Uniknya, Kampung Pitu Yang Hanya Diisi 7 Kepala KeluargaPemandangan dari Puncak Watu Wayang yang ada di Kampung Pitu. Dok. Ist/Septian Kristiadi

JAKARTA – Yogyakarta tidak pernah berhenti memberikan keistimewaannya kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah Kampung Pitu yang memiliki keunikannya sendiri.

Terletak di Desa Nglanggeran Timur, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul dan berada di ketinggian 1.000 MDPL Gunung Merapi Purba, Kampung Pitu yang jika diterjemahkan menjadi Kampung Tujuh, merupakan salah satu tempat di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi leluhurnya berupa aturan pembatasan jumlah penduduk.

Percaya atau tidak, hanya ada tujuh kepala keluarga saja di kampung ini. Aturan tersebut merupakan wasiat atau pepunden dari leluhur yang hingga hari ini masih dipertahankan oleh masyarakat meskipun zaman sudah beranjak menuju era modern.

Menilik sejarahnya dari berbagai sumber, Kampung Pitu diawali dengan ditemukannya sebuah pusaka yang berada di dalam pohon Kinah Gadung Wulung di puncak Gunung Nglanggeran oleh seorang abdi Keraton yang bernama Eyang Iro Dikromo melalui sebuah sayembara. Sebagai hadiah, Eyang Iro Dikromo mendapatkan tanah yang cukup untuk anak serta keturunannya dari pihak Keraton. 

Mendapatkan hadiah tersebut, ia mengajak teman-temannya untuk menempati lahan dekat pohon Kinah Gadung Wulung untuk menjaganya. Agar keberadaan pusaka tersebut tidak menjadi bahan rebutan masyarakat, Eyang Iro Dikromo pun membuat tiga peraturan bagi pada penduduk di Kampung Pitu.

Pertama, kepala keluarga yang menempati daerah sekitar pohon Kinah Gadung Wulung hanya boleh berjumlah tujuh, kedua, jika ada keturunan dari tujuh orang tersebut yang ingin tinggal di sekitar pohon Kinah Gadung Wulung, mereka harus menunggu hingga ada kepala keluarga yang meninggal dunia; dan ketiga jika ingin tetap tinggal di sana, tetapi kepala keluarga sudah berjumlah tujuh, maka keluarga mereka harus menginduk pada satu di antara tujuh kepala keluarga yang ada.

Masalahnya jika aturan tersebut dilanggar masyarakat percaya hal itu akan mendatangkan musibah. Beberapa kisah menjelaskan bahwa sempat ada beberapa orang yang ingin tinggal di Kampung Pitu karena merasa tanah tersebut milik negara.

Meskipun sudah diperingatkan, keluarga tersebut bersikeras untuk tetap tinggal dan hal yang di luar nalar terjadi yakni satu keluarga berjumlah empat orang tersebut meninggal dunia setelah satu bulan tinggal di Kampung Pitu. Adapun sebelum keluarga tersebut meninggal mereka diserang oleh berbagai penyakit misterius.

Selain itu, jika masyarakat ingin menggantikan salah satu kepala keluarga dan tinggal di Kampung Pitu ia harus lebih dahulu mendapatkan wahyu dan ini menandakan orang yang bisa tinggal disini merupakan bukan orang sembarangan. Setelah diperbolehkan tinggal, mereka juga harus menjalankan kejujuran, menjalin hubungan yang baik dengan penduduk lain, dan ikut melestarikan kampung.

Di sisi lain semua masyarakat Kampung Pitu menganut ajaran Islam dengan sinkretisme budaya Jawa sehingga mereka selalu menyelenggarakan syukuran  untuk berbagai upacara keagamaan yang berkaitan dengan tahapan hidup manusia, seperti perkawinan, kelahiran, dan kematian.

Meskipun masyarakat di sana mempercayai aturan kepala keluarga yang harus berjumlah tujuh,untuk urusan perkawinan tidak ada aturan adat yang menjelaskan bahwa keturunan dari Kampung Pitu harus menikah dengan sesama keturunan yang tinggal di dalam kampung tersebut. Dengan kata lain mereka bisa menikah dengan orang dari luar kampung.

Kini dengan segala keunikannya, Kampung Pitu yang berada di Desa Wisata Nglanggeran turut menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam ajang UNWTO Best Tourism Villages 2021. Selain Desa Wisata Nglanggeran, Indonesia juga mengirim dua wakil lainya yaitu Desa Wisata Tetebatu dari Lombok, dan Desa Wisata Wae Rebo dari Manggarai Nusa Tenggara Timur.

Ketiga desa wisata ini akan beradu keindahan alam dengan desa wisata lainnya dari berbagai belahan dunia.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA