Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

11 Juni 2021|14:10 WIB

Mengenal Penyakit Mematikan Scleroderma

Informasi mengenai penyakit autoimun ini masih minim sehingga belum ada data jumlah penderita scleroderma di Indonesia.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageSkleroderma adalah sekelompok penyakit langka yang lebih sering menyerang wanita. Shutterstock/dok

JAKARTA – Bulan Juni menjadi bulan bagi para penyandang penyakit autoimun scleroderma. Berbeda dengan penyakit autoimun lain, seperti HIV atau Lupus, informasi tentang scleroderma ini masih minim. Bahkan tidak diketahui jumlah pasien scleroderma di Indonesia. 

Lalu, apa itu scleroderma? Scleroderma adalah penyakit jaringan ikat kronis yang umumnya digolongkan sebagai salah satu penyakit reumatik autoimun mematikan di dunia. 

Autoimun sendiri merupakan kondisi di mana sistem kekebalan tubuh terlalu aktif secara tidak wajar. Jadi, justru menyerang dan menyebabkan kerusakan organ tubuh yang sehat, alih-alih melindungi diri dari bakteri, virus atau serangan asing lainnya.

Pendiri Yayasan Pipi Merah, Metta Ratana, menjelaskan scleroderma menyebabkan kolagen di tubuh tidak normal sehingga menyebabkan jaringan kulit mengeras. Lebih lanjut, scleroderma menyerang semua jaringan ikat yang ada di bagian tubuh seperti kulit, otot, persendian, pembuluh darah, kerongkongan, saluran pencernaan, paru-paru, ginjal, dan jantung.

"Hal ini dapat berakibat fatal. Seringkali scleroderma itu menyerang wanita dan juga kaum menengah ke bawah," kata Metta kepada Validnews, Jumat (11/6). 

Menurut Metta, penyebab penyakit scleroderma sampai hari ini masih belum diketahui. Metta mengaku, ia pernah bertemu dengan pasien yang tiba-tiba terkena scleroderma. Saat bangun tidur, pasien tersebut merasakan adanya pengerasan di kulitnya. 

Ditambah lagi, obat untuk penyakit scleroderma sampai hari ini belum ditemukan. Apalagi penyakit ini susah didiagnosis karena minimnya informasi. 

"Umumnya semua penderita scleroderma mengalami perubahan wajah yang membuat penderita memiliki kemiripan satu sama lain," ujarnya.

Metta menilai, hingga saat ini masyarakat Indonesia masih belum sadar akan penyakit ini. Berdasarkan catatannya, setidaknya hanya ada 1–3% orang yang tahu tentang scleroderma di Indonesia. 

"Sedikit sekali yang tahu. Kalau penyakit autoimun yang terkenal itu biasanya HIV, Lupus, nah, itu penyakit yang terkenal di autoimun. Jadi persentasenya sedikit sekali orang Indonesia yang tahu," tegasnya.

Selain itu, sampai hari ini belum diketahui jumlah orang Indonesia yang terkena scleroderma. Belum ada statistika khusus yang coba mendata penderita scleroderma. 

Namun, Metta meyakini sudah banyak orang Indonesia yang menderita penyakit ini. 

Scleroderma seringkali menyerang kaum menengah ke bawah sehingga penyebarannya sulit terdeteksi. Maka itu, di momen peringatan bulan scleroderma, Metta mengajak semua orang lebih aware terhadap penyakit berbahaya ini.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA