Selamat

Senin, 26 Juli 2021

TEKNO

21 Juli 2021|11:34 WIB

Mengenal G-Force, Gaya Gravitasi Dalam Balapan

Gaya gravitasi atau tekanan dari setiap akselerasi dan percepatan yang harus dilawan oleh pembalap

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi balapan. Pixabay/dok

JAKARTA – Sempat ramai diperbincangkan di media sosial mengenai insiden dalam ajang Formula 1 GP Inggris 2021. Kala itu, pembalap Red Bull, Max Verstappen sedang mempertahankan posisinya di tikungan dari serangan pembalap Mercedes, Lewis Hamilton. 

Namun, mobil Verstappen justru bersinggungan dengan Hamilton yang membuatnya tergelincir keluar lintasan dan menabrak pembatas. Sementara Hamilton terus melaju, meskipun kemudian disalip oleh pembalap Ferrari, Charles Leclerc, usai insiden. 

Balapan itu dihentikan untuk sementara waktu, sebab mobil Verstappen yang hancur harus segera diangkut dan pembatas juga harus segera dibetulkan kembali, agar keamanan selama balapan bisa tetap terjaga. Diketahui, saat mobil Verstappen meluncur ke pembatas, ia mendapatkan dampak 51 G. Apa yang dimaksud dengan 51 G?

Dalam ajang balap mobil, ada yang namanya G-Force. G-Force merupakan gaya gravitasi yang diakibatkan dari akselerasi atau percepatan. Hal ini membuat tubuh untuk bergerak berlawanan. 

G-Force bisa ditemukan di hampir semua teknis balapan. Mulai dari ketika melewati tikungan, saat menaikkan kecepatan, atau ketika mengerem. Semisal, ketika dalam kecepatan lebih dari 200 km/jam, kemudian pembalap mengerem dan kecepatannya menurun menjadi 80 km/jam. Tubuhnya akan menerima dorongan ke depan, namun pembalap harus mempertahankan posisinya.

Semakin besar G-Force yang diterima, maka akan semakin besar pula dorongannya pada tubuh. Pada Formula 1 sendiri misalnya, pembalap akan mendapatkan 5 G ketika mengerem, 2 G saat menaikkan kecepatan, dan 4 sampai 6 G ketika melintasi tikungan. 

Sementara yang dialami Verstappen, ia menerima 51 G atau dorongan gravitasi yang setara dengan 51 kali lipat berat badannya, ketika mobilnya menghantam pembatas di sirkuit Silverstone, Inggris. 

Namun beruntung, setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, pembalap asal Belanda itu dinyatakan dalam keadaan baik. Meskipun sebenarnya, G-Force bisa berakibat fatal.

Verstappen bukan yang pertama kalinya mengalami G-Force sebesar itu. Sebelumnya di 2020 saat Formula 1 GP Bahrain, pembalap Haas Romain Grosjean juga menabrak pembatas dalam kecepatan 192 km/jam dan menerima dampak 67 G. 

Grosjean harus dirawat di rumah sakit hingga akhir musim, apalagi ia juga mengalami luka bakar setelah mobil yang dikendarainya terbakar di pinggir sirkuit. 

Rekor lainnya dipegang oleh mendiang Jules Bianchi dalam ajang Formula 1 GP Jepang 2014. Ia meluncur ke pembatas dalam sirkuit yang basah dan mendapatkan dampak 92 G. Bianchi mengalami cedera kepala yang cukup berat, hingga akhirnya meninggal sembilan bulan setelah balapan.

Sementara rekor G-Force paling besar yang pernah ada terjadi dalam balapan Indy Car, yang menimpa pembalap Kenny Brack di 2003. 

Saat itu, Brack sedang berada dalam kecepatan 220 km/jam di tikungan 3 sebelum akhirnya bersenggolan dengan mobil Tomas Scheckter. Mobilnya terpental.

Dampak dari kecelakaan itu mencapai 214 G atau dorongannya mencapai 214 kali lipat berat badan Brack. Beruntung, ia dapat selamat dengan mengalami banyak patah tulang di bagian paha kanan, tulang dada, punggung bawah, dan lutut. 

Dikutip dari Medical Daily, manusia sendiri sebenarnya hanya bisa mampu menahan 46,2 G. Penelitian itu dilakukan oleh angkatan udara AS John Stapp, di mana tubuhnya harus melawan dorongan seberat 3.492 kg.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER