Selamat

Selasa, 21 September 2021

01 Mei 2021|09:37 WIB

Mengenal Fenomena Gelombang Ekstrem di Bawah Laut Bali

Gelombang internal yang muncul di kedalaman laut bisa menciptakan arus vertikal yang berbahaya

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi gelombang laut. Pixabay/dok

JAKARTA - Laut Bali termasuk kawasan perairan dalam di Indonesia. Jika di sebagian besar kawasan laut Jawa hanya memiliki kedalaman maksimal 46 meter, maka laut Bali memiliki kedalaman di atas 200 meter. Bahkan menyentuh 1.000 meter jika sudah mendekati perairan Lombok di sisi timurnya.

Di laut Bali inilah, kejadian nahas menimpa KRI Nanggala-402. Di mana kapal selam buatan Jerman itu meluncur tenggelam ke kedalaman 800-an meter. Hingga kini, investigasi masih dilakukan untuk mendapatkan penjelasan komprehensif terkait penyebab kejadian tersebut.

Sebagai salah satu kawasan laut dalam, Laut Bali memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan wilayah laut lainnya. Sejumlah penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa laut Bali memiliki karakter yang cukup ekstrem, dan tentunya cukup membahayakan bagi kegiatan penyelaman.

Peneliti bidang Oseanografi LIPI, Adi Purwandana menjelaskan, secara garis besar, perairan Bali terdiri dari dua jenis aliran, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah. Lapisan atas yaitu aliran yang dihitung dari permukaan hingga kedalaman 100 meter. Dengan kata lain, arus di lapisan ini sangat dipengaruhi oleh fenomena angin muson (barat dan timur).

Lalu lapisan kedua yaitu arus di kedalaman di atas 100 meter, yang menjadi arus lintas Samudra Pasifik dan Hindia. Adi mengatakan, yang perlu diperhatikan pada lapisan dalam ini yaitu fenomena gelombang bawah laut yang terbentuk dari arus samudra Hindia yang masuk ke selat Lombok.

“Kita harus mewaspadai bahwa di Selat Lombok ada sebuah tonjolan (gundukan) bawah laut yang kemudian bisa memicu aktivitas gelombang internal, gelombang bawah laut yang amplitudonya yang paling ekstrem bisa 100 sampai 200-an meter yang pernah diobservasi,” ungkap Adi kepada Validnews, Sabtu (1/5).

Gelombang bawah laut dengan ketinggian seperti itu terbilang sangat ekstrem. Gelombang itu menjalar ke utara Lombok, sampai sisi utara Pulau Bali, sebelum akhirnya pecah di selatan Pulau Kangean. Menurut Adi, gelombang itu bisa membahayakan bagi kapal selam.

“Ini bisa menyebabkan ketika ada kapal selam yang mengaktifkan sonar untuk mengukur kedalaman, akurasi pengukurannya bisa berkurang karena aktivitas gelombang internal ini, karena kecepatan suara akan berubah akibat laju gelombang,” paparnya.

Lebih jauh, gelombang internal tersebut akan menciptakan arus vertikal yang ekstrem dan sangat berbahaya bagi kapal, ataupun penyelaman. Akan terbentuk arus naik dan turun yang sangat kuat, dengan ketinggian ratusan meter. Kejadian arus ini biasanya dalam periode waktu setiap 12 jam.

“Ketika ada aktivitas gelombang internal ini, akan terjadi arus vertikal yang bisa berubah secara drastis pada periode 10-30 menitan. Arus yang sangat kuat ke bawah, ketika ada lembah gelombang, kemudian naik arus dengan kecepatan yang sama menuju ke atas. Dan ini terjadi ketika ada gelombang internal tadi lewat,” jelasnya.

Adi melanjutkan, kekuatan gelombang bawah laut itu bervariasi dari waktu ke waktu. Namun, periode Desember hingga April adalah periode dengan potensi gelombang paling kuat. Karena di periode ini, terjadi pelapisan massa air yang kuat di Selat Bali. (Andesta Herli)

.
Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA