Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

PARIWISATA

20 Mei 2021|20:47 WIB

Mengelola Cita Para Perantau

Membangun dan membuka lapangan kerja di desa menjadi kunci hambat urbanisasi

Penulis: Dwi Herlambang, Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageDesa Wisata Kemiri, Panti, Jember, Jawa Timur. Antara foto/dok

JAKARTA - Dulu, kota-kota besar, termasuk Ibu Kota Jakarta menjadi magnet kuat bagi orang-orang kampung. Cerita-cerita soal mudahnya mengisi pundi dari para tetangga dan saudara yang lebih dulu merantau, menjadi menarik hati. Alhasil, satu per satu pun warga desa ikut mengadu nasib di kota.

Belakangan, pamor itu kian pudar. Apalagi pada dua tahun belakangan, setelah pandemi melanda. Sebaliknya, bukan orang yang berdatangan ke kota. Para perantau, sebaliknya "dipaksa" pulang ke kampung halaman. 

Penyebabnya jelas. Banyak sektor usaha mati suri disebab pandemi. Ratusan ribu, bahkan jutaan pekerja, baik formal maupun informal tak lagi memiliki pekerjaan. Dari pada luntang-lantung di kota, kembali ke desa menjadi pilihan terbaik mereka. 

Budi adalah salah satunya. Setelah empat tahun menjadi warga ibu kota, dia terpaksa hengkang sementara waktu. Tempat kelahirannya, Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah, kembali menjadi tempat labuhannya.

Dia terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja sebagai seorang teknisi. Sebenarnya dia mafhum dengan kondisi itu. Namun, kekalutan tak bisa hilang. Hal yang terbayang adalah bagaimana memberikan nafkah dan penghidupan kepada istri yang belum lama dinikahinya. 

Sempat dia bertahan, berharap ada pekerjaan baru. Namun keberuntungan tak kunjung datang, Akal sehatnya mengantarkan Budi dan sang istri pulang ke Wonogiri. Dengan mengandalkan uang sisa pesangon, Budi memilih untuk membuka kedai mi ayam.  

Kenapa harus mi ayam? Sederhana saja, ilmu meracik mi ayam sudah ia kuasai. Keahlian itu sudah dimiliki hampir semua anggota keluarganya. "Dengan sisa pesangon yang saya terima dari perusahaan, saya 'berjudi' disitu buat pemasukan," cerita Budi kepada Validnews, Selasa (18/5).

Setahun berjalan, kios itu bisa memberikan penghidupan. Meski demikian, Budi tetap menyimpan rindu, kembali mengadu nasib di Jakarta. "Kalau ada yang ngajak bisa dipertimbangkan. Tapi kalau harus nyari (pekerjaan) dulu, ya mending jualan ada di sini," tuturnya.

Semacam Tradisi

Di Indonesia, urbanisasi seakan menjadi sebuah tradisi yang muncul saban Hari Raya Idulfitri usai. Biasanya, perantau yang mudik kemudian membawa teman atau sanak saudara ke kota. Padahal, biasanya belum jelas nantinya mereka akan bekerja di mana dan sebagai apa. 

Nah, hal-hal itu kemudian menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan urbanisasi tercepat di dunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, setiap tahunnya Jakarta  terus diserbu mereka yang ingin mencari pekerjaan. 

Pada tahun 2016, Jakarta kedatangan sebanyak 68.763 jiwa, 2017 sebanyak 70.752 jiwa, 2018 69.479 jiwa, dan tahun 2019 71.000 jiwa. Hal itu belum termasuk angka para komuter yang mencapai angka 1.255.771 juta dari wilayah penyangga. 

Tingginya arus urbanisasi tak ubahnya sebagai fenomena gunung es. Hal yang akan terus meninggi kalau pembangunan di desa tidak digenjot. Jika desa tetap tidak bisa berinovasi membuka dan memberikan lapangan pekerjaan. 

Atas dasar itulah kampanye "Kembali ke Desa" terus digaungkan oleh pelbagai pihak. Sebenarnya dengan jika dilakukan dengan serius, tidak ada desa yang tidak bisa berkembang. Setiap desa sejatinya memiliki potensinya masing-masing. Tiap rezim, punya program senada.

Sekarang, upaya-upaya itu justru datang dari masyarakat. Kalau dilihat, tidak sedikit warga yang mulai berinvestasi di kampung halamannya. Melakukan inovasi dan kreasi, setidaknya bisa membuka peluang kerja bagi kaum muda di sana.

Suparno, sangat menyadari betul akan hal itu. Puluhan tahun merantau di Jakarta, tidak membuatnya terlena dan melupakan dari mana ia dilahirkan. Melalui sektor pariwisata, Suparno ingin daerahnya lebih dikenal oleh masyarakat.

Sebagai putera daerah yang berasal dari Sidoharjo, Wonogiri, Suparno berinvestasi mendirikan beberapa tempat wisata di daerahnya. Ada banyak didirikannya sejak 2011. Sebut saja Kitagawa Pesona Bali, Museum Topeng Sewu Rai, dan yang paling fenomenal adalah Istana Parnaraya. Dimana arsitekturnya mirip dengan istana negara di Jakarta. 

Apa diperbuat untuk kampung halaman tercinta bukan berbicara tentang uang semata. Lebih dari itu, dia ingin pariwisata di Wonogiri jauh lebih hidup dan tidak kalah dari daerah di sekitarnya. Di benaknya, sektor pariwisata pasti bisa mengangkat nama Wonogiri lebih tinggi dari sebelumnya. 

Bagi Suparno, kampung halaman memiliki banyak potensi wisata. Masalahnya, tinggal bagaimana seluruh pihak bersinergi. Apalagi perkembangan media sosial yang hari ini begitu diandalkan, Suparno percaya Wonogiri bisa merebut hati wisatawan lokal bahkan internasional. 

"Dibanding daerah lain, Wonogiri masih tertinggal dengan wilayah lain. Kami masih perlu dibangkitkan karena dampak terhadap ekonomi luar biasa," kata Suparno ketika berbincang dengan Validnews, Senin (17/5).

Sederhananya, membuka tempat wisata akan memberi peluang kerja bagi masyarakat setempat. Belum lagi produk UMKM akan memiliki pasar yang lebih luas. Wisata yang dia buat dan kembangkan itu juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Misalnya, bagi warga sekitar yang belum pernah ke Jakarta, setidaknya bisa berkunjung ke Istana Parnaraya, yang dibuat seperti Istana Negara. 

Di daerah lain, banyak hal serupa. Ada semangat menggenjot sektor wisata yang ada di desa-desa. Salah satu yang menjadi fokus Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif adalah pembangunan desa-desa wisata. Dalam RPJMN 2020-2024 Kemenparekraf menargetkan sebanyak 244 desa wisata bersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024.

Wisata Alternatif

Desa wisata sendiri dikategorikan sebagai pariwisata alternatif (alternative tourism) atau wisata tematik yaitu wisata–wisata yang mengedepankan wisata alam, budaya, keunikan, atau karakteristik lokal yang ada di sebuah daerah. Pariwisata alternatif merupakan tujuan wisata bagi wisatawan yang tidak ingin berkunjung ke tempat ramai karena ingin menemukan suatu hal yang baru. 

Sekarang pariwisata alternatif menjadi tren baru bagi para wisatawan. Ke depan, wisata yang bersahabat dengan alam dan masyarakat lokal, diproyeksikan menjadi tren yang kian digemari. 

Itu juga mendasari pengembangan Desa Wisata Sindangkasih, di Garut, Jawa Barat. Kerennya, desa wisata ini dibangun atas kesadaran masyarakat. 

Awalnya, desa ini diusulkan sebagai kampung wisata sejarah, karena dulunya Desa Sindangkasih memiliki memori ditinggali oleh orang Belanda. Hal tersebut terbukti dari peninggalan Belanda berupa bengkel air yang sampai hari ini masih ada. Juga ada peninggalan gua Jepang. 

Namun keinginan itu ditolak. Alasannya, peninggalan masa penjajahan tersebut tidak terlalu menonjol. Maka dijadikanlah desa wisata dengan menjual pelbagai pesona alam yang ada. 

"Awalnya kami itu mengusulkan kampung wisata sejarah, soalnya di sini itu bekas perkampungan orang-orang Belanda. Tapi sekarang perkampungannya itu udah jadi lahan sawah," ujar Ketua Bidang Homestay Desa Wisata Sindangkasih, Garut, Jawa Barat, Dedi Sopandi, Selasa (18/5).

Dan pada Oktober 2019, desa ini resmi menjadi desa wisata. Ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Desa Wisata. Peresmiannya sendiri dilakukan pada 19 Desember 2019 oleh Bupati Garut. 

Wisata yang ditawarkan sendiri adalah wisata sejarah dan budaya, homestay di rumah-rumah warga, wisata tirta, dan wisata river tubing. Yang terakhir ini menjadi wisata yang paling populer, karena lokasinya yang lebih dekat dengan jalan provinsi, sehingga aksesnya mudah. 

Pembukaan desa wisata memberikan pekerjaan bagi warga. Anak-anak muda di desa kini juga turut andil dengan bekerja sebagai pemandu wisata. Menurut Dedi, dalam satu hari, anak-anak ini bisa mendapatkan uang hingga Rp150 ribu. 

Perekonomian masyarakat pun melejit. Produk rumahan, seperti rengginang, cemprus, gula aren, sapu ijuk, dan sapu lidi yang semuanya khas dari Desa Siindangkasih, bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Dalam pengelolaannya, Dedi mengaku harus melibatkan semua elemen masyarakat. Dimana Desa Wisata ini berpondasi pada kearifan lokal yang telah lama ada sehingga mereka melihat semuanya untuk kemajuan desa.

Hadirnya desa wisata ini, juga menekan laju urbanisasi masyarakat ke kota. Menurut Dedi, 80% masyarakat di des aini tidak lagi mencari pekerjaan di kota. Mereka lebih memilih berkontribusi di desa. 

Tantangan Terbesar

Meski demikian, ada tantangan berat yang harus dijawab. Mau tidak mau, membuka tempat wisata di desa dengan tenaga kerja dari warga lokal sangatlah susah. Dibutuhkan lagi peningkatan SDM. Suparno sadar betul hal ini. Memberikan pelayanan yang parupurna kepada para pengunjung adalah kunci. Maka, memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM menjadi hal penting. 

"Memang buat SDM, beda banget orang Wonogiri yang hijrah ke kota lain dengan orang yang menetap meskipun sama-sama seusia dan sebaya itu jauh lebih enak mendidik orang yang merantau," ujarnya.

Meskipun berat, Suparno tidak menyerah untuk mempekerjakan masyarakat sekitar. Tantangan yang biasa ditemui adalah tindakan indisipliner seperti bolos kerja dan tidak mau melakukan absensi. Sehingga lambat laun proses screening akan menghasilkan orang-orang yang benar mau bekerja.

"Jadi memang perlunya sebuah screening, edukasi, SOP dan ya kendalanya disitu, banyak gangguan juga misalkan jam kerja tiba-tiba hilang, nggak absen," ujarnya. 

Terhadap upaya serupa, dia menyerukan agar pemerintah juga memberikan ruang bagi warga yang ingin mengembangkan daerahnya. Dia meyakini, banyak perantau punya keinginan sama; memajukan desanya. Karenanya, pemda harusnya proaktif.

Manejemen kerinduan perantau, perlu diupayakan. Sejauh manapun kaki melangkah, tujuan akhir adalah rumah dan kampung halaman. Suparno, Dedi, dan banyak perantau sukses lainnya, meyakini punya rasa rindu sama. Membangun desa tak bisa dilakukan sendirian.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA