Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

VISTA

21 Juli 2021|21:00 WIB

Menebar Nilai Keluhuran Lewat Wayang Puspa Sarira

Dengan wayang berbahan sederhana, dia berkeliling menuturkan cerita, mengajak khalayak menguatkan kepedulian.

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageMbah Djo, pengembang Wayang Puspa Sarira. Sumberfoto: Instagram.com/wayangsuketpuspasarira

JAKARTA – Wayang suket dan isu lingkungan menjadi dua hal tak terpisahkan bagi Mbah Kardjo, yang bernama asli Syamsul Subakri. Pria asal Kota Malang, Jawa Tengah itu kerap menampilkan pertunjukan wayang suketnya dengan dongeng tentang lingkungan dan alam.

Di sebagian besar pedesaan Jawa Tengah hingga Timur, wayang berbahan rumput tersebut lazim dimainkan untuk anak-anak. Cerita yang dibawakan pun tidak jauh berbeda dengan pertunjukkan wayang kulit, yakni mencukil khasanah Mahabarata maupun Ramayana.

Tak sedikit seniman ternama yang menggunakannya untuk media bertutur. Satu di antaranya adalah Mbah Kardjo, pencipta Wayang Puspa Sarira. 

Semangat berkesenian telah memancar, sejak Mbah Kardjo kanak-kanak. Tepatnya, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga akhirnya, dia memutuskan berhenti sekolah saat SMA, demi serius menggeluti bidang tersebut.

Awal dekade 1990-an, Mbah Kardjo mulai menekuni media kartu wayang. Dia mulai sering berkumpul dengan orang-orang berminat sama di Kota Malang. Kebiasaan itu menajamkan kemampuannya bercerita, sekaligus mendapat jaringan baru dalam dunia seni.

“Saya lebih memilih menggeluti dunia kesenian daripada sekolah di tahun 1984 itu. Pada tahun 1991, saya mulai menekuni media kartu wayang,” cerita Syamsul kepada Validnews, Minggu 19 Juli lalu.

Mbah Kardjo bukan berasal dari keluarga yang benar-benar menggeluti kesenian. Ibunya memang seorang juru gambar di pabrik keramik Dinoyo. Namun kemampuan itu hanya digunakan untuk kepentingan nafkah, bukan apresiasi seni.

Sementara, ayahnya bekerja sebagai pegawai toko di Malang. Mbah Kardjo justru mengenal seluk-beluk seni dari teman-teman orangtuanya.

Terjun Ke Dunia Wayang
Semula, Mbah Kardjo memilih wayang golek sebagai media bercerita. Tak melulu kisah-kisah pewayangan umum yang dibawakannya. Ia kerap mengusung cerita berlatar kehidupan masa kini, hingga soal-soal lingkungan, alam, serta konservasi.

Keluasan tema yang dikuasai Mbah Kardjo itu dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai pelestari kebudayaan pada sebuah lembaga konservasi pada tahun 2001.

Saat masih aktif di lembaga tersebut, Mbah Kardjo bertugas menjadi pemateri menggunakan media boneka. Isu-isu yang dibawakan, antara lain eco-green, konservasi alam, sampai masalah pengolahan limbah. 

“Pada saat itu saya masih menggunakan boneka. Nah, bonekanya ini dibuat seperti majoret (boneka Eropa) dengan tali,” katanya.

Tahun 2005, Mbah Kardjo memutuskan keluar, untuk berkarya sendiri. Dia lantas membuat wayang dengan apapun yang tersedia di sekitarnya. Selama tujuh tahun beragam bahan dicobanya. Dari tas keresek, plastik, serabut kelapa, kain perca, pita plastik, bambu, hingga yang terakhir bunga kering. 

“Sebab, dulu banyak teman-teman yang mengajak tampil, tapi dadakan. Misalnya, hari ini baru dikasih tahu ada pertunjukkan dan besoknya langsung tampil. Jadi, bikin wayangnya juga dengan bahan yang ada saja,” tuturnya.

Wayang Puspa Sarira
Setelah menikah pun, usaha-usaha untuk menciptakan wayang aneka bahan tetap berlanjut. Bahkan sang istri, Sulaikha, turut terlibat, sampai sengaja mempelajari pembuatan wayang di satu sanggar daerah Singosari, Malang pada 2012. 

Mbah Kardjo lantas tertarik dengan hasil buatan Sulaikha yang dibawa pulang ke rumah. Kebetulan, wayang tersebut tersusun dari suket atau rumput.

Wayang tersebut kemudian diperbarui. Batang tanaman Mendong dipilih sebagai bahan, yang diambilnya dari daerah Wajak, Kabupaten Malang. Mbah Kardjo lalu menamai karyanya dengan Wayang Puspa Sarira. Puspa berarti bunga dan sarira bermakna badan.

Mbah Kardjo menambah ornamen rambut pada wayang menggunakan kelopak-kelopak bunga kering. Inilah yang menjadi ciri khas Wayang Puspa Sarira sehingga berbeda dengan kelumrahan wayang suket milik seniman-seniman lain.

“Ketika saya menikah dengan istri, kami melahirkan sebuah wayang bernama Puspa Sarira tersebut. Jadi, wayang ini memang seperti anak kami berdua karena hasil kolaborasi bersama,” ceritanya.

Keberadaan Wayang Puspa Sarira ini pun menjadi ladang rejeki untuk keduanya. Tak jarang mereka diundang ke berbagai acara besar. Seperti yang terjadi pada tahun 2014, ketika Mbah Kardjo diundang dalam acara pekan kekerabatan nasional yang diselenggarakan Keuskupan Katolik Malang. 

“Saya diundang untuk mengisi materi tentang penjernihan air dan permainan ramah lingkungan. Acara yang berlangsung selama empat hari tersebut dihadiri oleh tiga ribu siswa dari SD, SMP, dan SMA dari seluruh Indonesia,” katanya.

Wayang Puspa Sarira ini pun sempat diapresiasi oleh Presiden Jokowi saat dihadirkan di Universitas Islam Malang, tahun 2018 lalu. Mbah Karjo pun langsung menghadiahkan karyanya kepada orang nomor satu di Indonesia itu.

“Waktu itu saya memberikan sepasang wayang kepada Presiden Jokowi. Wayang berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Singo Menggolo Jalmowono, sedangkan wayang perempuannya belum sempat dinamakan karena saya membuatnya saat Pak Jokowi pidato,” ungkapnya.

Menurut Mbah Kardjo, nama Singo Menggolo melambangkan Jokowi sebagai pemimpin. Lalu, Jalmowono berasal dari dua kata, yakni Jalmo dan Wono. Maknanya, manusia dan hutan.

“Lewat penamaan wayang tersebut, saya berharap Presiden Jokowi dapat lebih memperhatikan kondisi hutan yang ada di Indonesia,” harapnya.

Pembuatan Wayang Puspa Sarira
Tangan Mbah Kardjo sudah terbiasa merakit wayang. Dia mampu menghasilkan wayang di mana saja, tanpa terbatas pada tempat, sepanjang bahan tersedia.

“Saya terbiasa membawa bahan kemana saja di dalam tas, sebab takut ada panggilan dadakan juga. Di samping itu, saya juga menguji kemampuan dalam membuat wayang. Apalagi bahan dan cara membuatnya juga tak sulit,” jelasnya.

Pria berkacamata yang kini berusia 54 tahun itu menceritakan, pernah membuat wayang di tengah keriuhan demonstrasi. Bahkan jemarinya tetap terampil merajut wayang suket, ketika menumpangi kapal laut, angkot, hingga pesawat terbang.

“Waktu itu tiga kali saya membuat wayang di atas pesawat. Pada awal tahun 2018, saya membuat wayang di dalam penerbangan Bali-Surabaya, usai acara sosialisasi anti narkoba di Pulau Dewata. Akhir 2018, saya juga membuat saat mau berangkat ke kongres kebudayaan di Jakarta dan pulangnya turut melakukan hal yang sama,” paparnya.

Bagi Mbah Kardjo, keunggulan wayang Puspa Sarira terletak pada kemudahan proses pembuatannya. Rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar 11–30 menit, tergantung ukuran. 

“Kecepatan pembuatan wayang ini lah yang jarang ditemukan pada wayang lainnya. Apalagi wayang Puspa Sarira ini seringkali jadi rebutan para penonton, terutama anak-anak,” jelasnya.

Nyaris pada tiap akhir pertunjukkan, Mbah Kardjo selalu menunjukkan kepada penonton proses pembuatan wayang. Baginya, semakin banyak yang tahu, kian mudah pula mengakrabkan wayang suket pada khalayak.

Saat yang sama, interaksipun digelar. Mbah Kardjo kerap menanyakan kepada hadirin, mengenai hikmah-hikmah dari cerita yang sudah dipentaskan. Sebab, pertunjukkan Wayang Sarira yang dibawakannya, mesti lebih dari sekadar menghibur. Siapapun yang menyaksikan diharapkan bisa memetik nilai keluhuran dari pertunjukkan itu. 

“Saya seringkali memberikan beberapa pertanyaan kepada penonton seputar cerita yang telah disampaikan. Jika mereka berhasil menjawabnya, maka akan dapat wayang Puspa Sarira ini. Alhamdulillah, para penontonnya selalu antusias setiap pertunjukkan mbak,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER