Selamat

Rabu, 20 Oktober 2021

06 Oktober 2021|21:00 WIB

Membungkam Rasisme Dari Lintasan Balap

Tidak mudah menjadi kulit hitam dan berjuang di salah cabang satu olahraga

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Rendi Widodo

ImageWilliam Darrell 'Bubba' Wallace. Sumber Foto: Ist/dok

JAKARTA – Senin, 4 Oktober 2021 mungkin menjadi hari yang paling menakjubkan untuk Bubba Wallace. Lewat kemenangan pertamanya di ajang balap National Association for Stock Car Auto Racing (NASCAR) Cup Series YellaWood 500, Bubba mengukir sejarah.

Bubba menjadi pembalap kulit hitam kedua yang menaklukan ajang balap itu setelah Wendell Scott pada 1963. Namun, sepak terjang sebenarnya, patut membuat Bubba di atas Wendell.

Di lintasan, Wallace memacu mobilnya dan berhasil memimpin di lap 113. Balapan dilangsungkan saat hujan yang terus menerus membasahi lintasan Talladega Superspeedway.

Hujan deras, penglihatan yang terbatas, serta tidak adanya lampu penerangan di sirkuit akhirnya membuat steward melambaikan bendera merah, tanda balapan diberhentikan untuk sementara waktu.

Pembalap dan tim diminta menunggu bagaimana nasib balapan ajang bergengsi itu. Tak terkecuali Wallace yang duduk dalam harap cemas di dalam pit.

Pada saat sama, dia bungah. Jika Race Director memutuskan balapan selesai, dirinya bisa dengan mudah melangkah ke podium sebagai juara. Sebaliknya jika balapan diteruskan, ia pun harus kembali berjudi dengan licinnya lintasan basah.

Hampir 45 menit berlalu, matahari yang dinanti pun tak kunjung datang. Keputusan pun bulat, NASCAR Cup Series YellaWood 500 yang seharusnya digelar 188 lap pun disudahi pada lap 117.

Pukul 3.30 sore waktu setempat, Wallace akhirnya diumumkan sebagai pemenang kompetisi balap itu.

"Kalau kami kembali membalap, tidak masalah. Kami memiliki banyak fans yang berada di belakang kami, di pitbox yang menyemangati kami. Jadi ini menaikkan sedikit semangat, tetapi saya sangat bangga pada orang-orang di 23XI Racing," tutur Wallace dikutip dari Business World.

Tidak hanya itu, kemenangan Wallace juga menjadi kemenangan pertama untuk 23XI Racing, tim balap NASCAR Cup Series asal Amerika Serikat. Tim ini dimiliki oleh legenda basket Michael Jordan dan pembalap NASCAR Denny Hamlin.

Ini adalah pencapaian tertinggi yang diraih oleh tim balap yang baru berpartisipasi di ajang NASCAR Cup Series di tahun ini.

Satu-satunya Kulit Hitam
Lahir dengan nama William Darrell Wallace Jr, sejak kecil Bubba telah menunjukkan ketertarikannya di dunia balap. Sebelum turun ke ajang NASCAR Cup Series, Wallace pernah mengikuti program pengembangan pembalap Toyota. Ia membalap paruh waktu untuk Joe Gibbs Racing di ajang NASCAR Xfinity Series dan Kyle Busch Motorsports pada kompetisi NASCAR Truck Series.

Debut Wallace di NASCAR Cup Series dimulai ketika pembalap Richard Petty Motorsports, Aric Almirola mengalami kecelakaan yang cukup berat bersama dengan Joey Logano dan Danica Patrick pada 2017. Insiden itu membuat Almirola harus absen untuk pemulihan. Dari sana, Wallace menapaki langkahnya di NASCAR Cup Series sebagai pembalap pengganti.

Musim berikutnya, Almirola memutuskan untuk hengkang dari tim balap itu. Posisi Wallace pun aman. Performanya terhitung baik dengan mampu finis di urutan ke-26.

Bergabungnya Wallace ke Cup Series menjadikannya pembalap kulit hitam satu-satunya yang membalap di ajang tersebut sejak terakhir kali pada 1971.

Tidak hanya itu, Wallace juga menjadi satu-satunya pembalap Afrika-Amerika yang membalap untuk tiga ajang NASCAR setiap tahunnya, mulai dari Cup Series, Xfinity Series, dan Truck Series. Ini menjadikan Wallace salah satu pembalap Afrika-Amerika paling sukses dalam sejarah NASCAR.

Melawan Rasisme
Tidak mudah menjadi kulit hitam dan berjuang di salah satu olahraga yang masih sangat rentan terpapar isu rasial di Amerika Serikat. Wallace harus menghadapi tekanan tak hanya di soal balapan, namun juga isu-isu rasial.

Berbeda dengan pembalap berkulit putih lainnya yang bisa 100% fokus hanya pada kompetisi. NASCAR, sejak lama terasosiasi dengan dominasi para pembalap kulit putih.

Insiden pembunuhan warga kulit hitam George Floyd pada Mei 2020 oleh pihak kepolisian Minneapolis Minnesota menjadi pemantik Wallace melawan aksi rasisme dan kesetaraan ras di NASCAR.

Pada Juni 2020, Wallace meminta NASCAR secara tegas untuk melarang pengibaran bendera Konfederasi di ajang balap tersebut oleh para fans. Bendera yang sering menjadi simbol perbudakan dan supremasi kulit putih.

"Tidak ada yang seharusnya merasa tidak nyaman ketika mereka datang ke balapan NASCAR. Ini bermula dari bendera konfederasi. Bawa mereka keluar dari sini. NASCAR tidak punya tempat untuk mereka," tutur Wallace pada CNN.

Gayung bersambut, NASCAR mengabulkan permintaannya. Para fans dilarang membawa bendera Konfederasi ke sirkuit, apalagi mengibarkannya. Mereka akan digeledah sebelum memasuki bangku penonton. Apabila ketahuan membawa bendera tersebut, bendera akan disita.

Jika petugas luput dan ada fans yang ketahuan mengibarkannya di area sirkuit, mereka akan segera ditegur. Apabila menolak menyimpan bendera Konfederasi, mereka akan dikeluarkan dari area sirkuit secara tegas.

Inisiatif serupa pernah dilakukan oleh NASCAR sebelumnya, namun gagal. Pada 2015, NASCAR pernah meminta para fans untuk tidak membawa bendera tersebut ke sirkuit setelah insiden laki-laki kulit putih bernama Dylann Roof membunuh sembilan laki-laki kulit hitam di Charleston, South Carolina.

Tekanan Wallace pada NASCAR pun terlihat seperti satu titik cerah. Stigma olah raga yang didominasi pria kulit putih ini bisa mendengarkan keinginan satu-satunya pembalap kulit hitam di kejuaraan. Sayangnya tidak demikian.

Insiden Noose dan Tekanan Donald Trump
Masih pada bulan Mei 2020, terjadi kegaduhan di garasi tim Wallace. Salah satu anggota tim Wallace menemukan noose atau tali untuk menjebak hewan yang digantungkan layaknya tali gantung diri di garasi Wallace.

Kejadian tersebut terjadi di Talladega Speedway menjelang balapan. Diduga, hal ini merupakan bentuk perlakuan rasis pada seseorang yang tidak suka pada Wallace.

Tidak ingin tinggal diam, penyelenggara seri balap berbasis di Daytona ini sangat marah dan menganggap serius tindakan tersebut. Mereka bahkan melakukan investigasi besar-besaran untuk menemukan pelaku yang bertanggung jawab atas insiden itu dan mengeliminasi pelaku dari olahraga tersebut selamanya.

Wallace sendiri sangat menyayangkan perbuatan itu. Dalam cuitannya di Twitter, Wallace mengaku sangat sedih pada perilaku rasisme dan kebencian di dalam NASCAR.

Namun, dirinya berjanji bahwa insiden tersebut tidak akan memengaruhinya atau membuatnya mundur dari olahraga yang sangat dicintainya itu.

FBI yang terlibat dalam penyelidikan menyatakan bahwa noose sudah ada di garasi itu sejak tahun lalu. Mereka menyebutnya sebagai tali biasa untuk menarik pintu garasi. Dalam laporannya, mereka juga mengatakan kalau Wallace bukan korban dari perilaku kebencian atau rasisme.

Sebaliknya, Wallace, tim, dan NASCAR yakin bahwa tali yang mereka temukan adalah noose, bukan tali biasa. Apalagi berdasarkan pemeriksaan di garasi-garasi lainnya tidak ditemukan tali serupa berbentuk noose seperti yang ada di garasi Wallace.

Bak bumerang, pernyataan FBI “menyerang” Wallace.  Ia mulai menerima serangan online di media media secara bertubi-tubi.

Paling mencolok adalah serangan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa Wallace telah melontarkan kabar bohong dan harus meminta maaf pada seluruh pembalap NASCAR dan tim.

Membungkam Rasisme
Trump yang kala itu selalu hadir di berbagai isu rasial, juga mengatakan usaha NASCAR dalam melarang pengibaran bendera Konfederasi membuat rating ajang balap itu mencapai titik terendahnya. Padahal sebaliknya, dari laporan ESPN justru menunjukkan peningkatan pada penonton lomba yang diadakan sejak dekade 50-an itu.

Wallace tak beringsut. Dia membuat cuitan yang mengatakan bahwa cinta akan selalu mengalahkan benci dan akan datang dengan sendirinya ketika orang-orang diajarkan rasa kebencian. Respons Wallace dalam menjawab tekanan rasial di olahraga balap ini pun, menjadi semangat NASCAR untuk membungkam rasisme tak berujung di tanah Amerika Serikat.

Beberapa pembalap dan atlet dari olahraga lainnya juga merespons Trump. Mereka menyebut Wallace tidak perlu minta maaf dan mereka akan terus mendukung pembalap itu.

NASCAR juga mengeluarkan pernyataan yang akan terus mendukung Wallace, pembalap lainnya, dan siapapun yang membuat olahraga balap itu terbuka dan inklusif untuk semua orang.

Perjuangan Wallace membuatnya tak sembarang pembalap. Dari semua pembalap, mungkin hanya dia yang “berhadapan” dengan seorang presiden.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER