Selamat

Rabu, 20 Oktober 2021

11 Oktober 2021|16:22 WIB

Melihat Jejak Manusia Purba Di Desa Wisata Sangiran

Museum Manusia Purba Sangiran menjadi tempat penelitian ilmuwan dunia.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageDesa sangiran. Sumber Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id/dok

JAKARTA – Desa Krikilan yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, menyimpan pesona pariwisata yang cukup menarik untuk didatangi. Salah satu objek wisata yang bisa dinikmati adalah Museum Manusia Purba Sangiran, yang lokasinya di bawah kaki Gunung Lawu.

Hanya berjarak sekitar 17 kilometer dari Kota Solo, tempat ini telah merupakan daerah cagar budaya yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia pada tahun 1996 oleh UNESCO.

Mengutip laman Kemendikbud, pembangunan Museum Manusia Purba Sangiran pertama kali dilakukan pada tahun 1977. Luasannya mencapai 56 kilometer persegi, yang membentang di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kalijambe, dan Kecamatan Gondangrejo. Kala itu tempat ini diberikan nama Museum Prasejarah Sangiran.

Sebenarnya, penemuan fosil dan jejak peradaban manusia di Desa Krikilan ini sudah terjadi sejak lama. Ya, sebelum museum dibangun, semua fosil ditempatkan di rumah Toto Marsono, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Desa Krikilan. Satu-satunya alasan museum ini di bangun, tidak lain karena rumah Toto sudah tidak bisa lagi menampung fosil-fosil yang ditemukan.

Museum Manusia Purba Sangiran menjadi tempat penelitian para ilmuwan asing. Beberapa peneliti yang pernah datang ke museum ini antara lain, pakar anatomi asal Belanda, Eugene Dubois. Namun dalam penelitiannya, Dubois tidak menemukan apa yang ia cari, dan memindahkan lokasi penelitiannya ke Trinil, Ngawi, Jawa Timur, dan mendapatkan fosil Pithecanthropus erectus.

Selain itu, paleontolog asal Jerman-Belanda, G.H.R Von Koenigswald juga pernah melakukan penelitian di Sangiran dan menemukan fosil Homo erectus beserta fosil binatang purba lainnya. Homo erectus adalah jenis manusia purba modern yang pernah bertahan sekitar 100 tahun di Pulau Jawa. 

Sebagaimana diketahui, Homo erectus adalah manusia modern yang berevolusi sekitar dua juta tahun lalu dan spesies manusia pertama yang bisa berjalan tegak.

Dari berbagai penelitian, disimpulkan bahwa persebaran Homo erectus di Jawa berada di daerah Trinil, Sambungmacan, Mojokerto dan Ngandong. Kepunahan manusia purba diperkirakan karena hujan meteor, letusan gunung berapi dan perubahan lingkungan yang drastis.

Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan ini merupakan visitor center di antara museum yang lainnya. Wisatawan akan melihat gambaran kehidupan manusia atau nenek moyang pada masa lampau di dalam museum ini.

Perlu diketahui, tempat ini merupakan situs fosil manusia paling lengkap di Jawa. Selain itu, di dalam museum ini wisatawan juga akan mempelajari kehidupan manusia pra sejarah dengan melihat-lihat fosil-fosil manusia, hasil budaya manusia, fosil flora dan fauna serta gambaran statigafinya.

Dengan segala atribut dan jejak sejarah yang ada tempat ini, tidak ubahnya sebagai perpustakaan bagi ilmu pengetahuan, terutama bagi ilmu penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoantropologi, geologi, dan tentu saja untuk bidang kepariwisataan.

Selain tentang Museum Manusia Purba, Desa Wisata Sangiran juga memiliki peninggalan masa lalu yaitu Punden Tingkir. Masyarakat lokal percaya bahwa tempat ini adalah peninggalan Joko Tingkir karena di lokasi itu terdapat tiga buah makam yang dipercaya milik Joko Tingkir dan dua anak buahnya.

Sementara itu untuk kerajinan khas Desa Krikilan di antaranya  Watu Sangir, Watu Lurik, Kapak Batu, Kaligrafi Bambu, dan Gelas Bambu. Watu Sangir merupakan batu yang digunakan untuk mengasah alat seperti pisau, sabit dan sejenisnya agar menjadi tajam. Selain kerajinan, juga terdapat kesenian khas, seperti Gejog LesungTembang Dolanan, dan Gamelan Bonang Renteng.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER