Selamat

Senin, 26 Juli 2021

PARIWISATA

15 Juli 2021|18:17 WIB

Kemolekan Ratu Boko Dan Sejarah Berdirinya

Terlepas dari berbagai versi sejarahnya, Ratu Boko adalah salah satu magnet wisata di Yogyakarta

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageCandi Ratu Boko Yogyakarta, Indonesia. Shutterstock/dok

JAKARTA – Nama Candi Ratu Boko sempat menjadi buah bibir pada tahun 2016, tatkala menjadi salah satu lokasi syuting film "Ada Apa Dengan Cinta 2". Di situ, Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra sedang bernostalgia dengan mantan pacarnya, Cinta, yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo.

Perlu diakui, Ratu Boko memang menjadi salah satu magnet wisata di Yogyakarta. Dua gapura dan sisa reruntuhan kerajaan di masa lalu, menjadi daya tarik tersendiri. 

Tapi jauh sebelum itu, keberadaan candi itu sarat akan cerita legenda tentang Ratu Boko dan Bandung Bondowoso. Ada yang menceritakan bahwa Ratu Boko adalah sosok raksasa yang jahat dan tinggal di aula istana. 

Karena jahat, ia seringkali memakan manusia sampai pada akhirnya dikalahkan oleh Bandung Bondowoso, yang tidak lain adalah seorang ksatria.

Setelah runtuh, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh arkeolog Belanda, N.J. Krom menemukan sebuah prasasti yang bertuliskan tentang nama Nagari yang digunakan oleh keluarga Sailendra, atau keberadaan kerajaan Ratu Boko di masa lalu. Akan tetapi banyak juga yang meragukan keberadaan tersebut.

Salah satu keraguan peradaban Kerajaan Ratu Boko di masa lalu, karena material batuan dasar dataran ini adalah batu kapur. Di mana batu kapur memiliki karakter berpori sehingga air tidak bisa bertahan lama. 

Pada tahun 1950-an, orang-orang yang tinggal di sekitar situs adalah petani dan memiliki permasalahan pada persediaan air.

Padahal jika memang dulunya ada sebuah kerajaan, jelas air menjadi sumber utama penghidupan. Pun, tempat ini harus menampung ratusan orang yang tinggal.

Meski begitu, ada kemungkinan lain yang masuk akal, yaitu asumsi bahwa lokasi Ratu Boko merupakan bagian dari kompleks istana yang luas. Kegiatan kerajaan dapat dilakukan di dataran rendah, sedangkan dataran di atas digunakan untuk ritual khusus keluarga kerajaan.

Pada abad ke-19, pengunjung yang datang dari Eropa juga cenderung menerima penjelasan bahwa Ratu Boko hanyalah sebuah legenda. 

Namun, arkeolog profesional yang datang ke tempat ini, seperti Brandes pada tahun 1903, Bosch pada tahun 1918, Stutterheim yang datang pada tahun 1926, dan Krom yang datang pada tahun 1931, mendukung gagasan bahwa dataran utama berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan.

Ada pula arkeolog, Bernet Kempers, yang berasumsi bahwa Ratu Boko adalah bagian dari taman istana. Hal itu sejalan dengan konsep taman Kerajaan Jawa dimana terdapat fasilitas mandi, kegiatan keagamaan seperti meditasi di gua-gua, dan tembok tinggi yang mungkin telah digunakan untuk benteng, meskipun mereka tidak berniat melakukannya.

Atas segala argumentasi di atas tiga, wilayah di kompleks Ratu Boko memang cocok untuk kerajaan, misalnya kegiatan keagamaan termasuk meditasi, dan pemandian. 

Terlepas dari semua itu, Ratu Boko memang menjadi salah satu destinasi wisata favorit kala berkunjung ke Jogja.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER