Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

SENI & BUDAYA

11 Juni 2021|10:23 WIB

Jejak Peninggalan Kerajaan Demak

Masjid Agung Demak yang dibangun tahun 1479 masih berdiri kokoh sampai saat ini

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageMasjid Agung Demak. Sumber foto: Wikipedia/dok

JAKARTA – Dalam sejarah Indonesia, Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam tertua di Pulau Jawa. Memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Kerajaan Demak sendiri mulai berjaya setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit. 

Kini, meski Kerajaan Demak sudah tidak ada, masyarakat Indonesia masih bisa menelusuri sisa-sisa kejayaan masa lampau melalui Masjid Agung Demak, yang berada di Kauman, Demak, Jawa Tengah. 

Sebagaimana diketahui, Masjid Agung Demak adalah salah satu Masjid tertua di Indonesia. Pertama kali, Masjid ini dibangun pada 1479 masehi dan digagas langsung oleh Raden Patah bersama Wali Songo. 

Masjid Agung Demak juga pernah menjadi pusat pembelajaran Islam bagi para ulama atau wali dalam syiar di Pulau Jawa, pada abad ke-15. Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Demak adalah simbol arsitektur tradisional asli Indonesia.

Meskipun zaman sudah semakin modern, Masjid Agung Demak tetap mempertahankan desain aslinya. Bagian atap masjid berbentuk limas yang bersusun tiga, merupakan gambaran akidah Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan. 

Uniknya, pintu bledheg atau pintu utama masjid dipercaya bisa menahan petir yang dibuat langsung oleh Ki Ageng Selo. Di Masjid ini juga wisatawan atau pengunjung bisa melihat berbagai peninggalan masa kerajaan. 

Misalnya, situs kolam wudhu yang dibangun bersamaan dengan berdirinya masjid. Situs ini dulunya digunakan oleh para santri atau musafir sebagai tempat berwudu.

Namun saat ini, situs itu sudah tidak dapat dipakai lagi untuk berwudu, hanya menjadi bagian dari peninggalan sejarah Kerajaan Demak. Ukuran kolam situs ini cukup besar yaitu 25x10 meter dengan kedalaman hingga lima meter.

Terdapat dua bedug dan dua kentongan kayu yang dibuat khusus untuk Masjid Agung Demak. Masing-masing bedug yang ada di Masjid Agung Demak memiliki ukuran yang berbeda, pada sisi utara berukuran 99 cm dan yang sisi selatan 87 cm.

Kedua bedug tersebut digantungkan pada dua gawangan kayu. Kentongan yang ada di Masjid Agung Demak berbentuk seperti tapal kuda. Filosofi tentang kentongan yang berbentuk tapal kuda adalah sebagai pengingat warga untuk dapat pergi ke masjid secepat naik kuda.

Bedug dan Kentongan digunakan sebagai penanda akan dilakukannya ibadah salat di setiap waktunya. Bedug dan Kentongan ini masih ada hingga sekarang di Masjid Agung Demak.

Lalu juga ada Soko Tatal atau yang juga dikenal dengan nama Soko Guru. Adalah tiang penyangga dari Masjid Agung Demak khas rumah orang Jawa. Tiang berjumlah empat dan terbuat dari material kayu dengan diameter 1 meter. 

Semua Soko Guru ini dibuat oleh Sunan Kalijaga. Menurut cerita yang beredar, sedianya baru ada tiga Soko Tatal, Masjid Agung Demak ketika sudah masuk dalam tahapan pemasangan atap dan membuat Sunan Kalijaga dikejar waktu.

Akhirnya Sunan Kalijaga mengumpulkan kulit kayu atau tatal yang berasal dari sisa pahatan. Dari 3 Soko Tatal dan kekuatan spiritual yang dimiliki Sunan Kalijaga, akhirnya dibuat 1 Soko Tatal baru.

Tidak ketinggalan adanya Pawastren. Pawestren adalah tempat salat berjamaah perempuan, yang artinya jemaah salat laki-laki serta perempuan sudah dipisahkan. 

Pawestren merupakan sebuah bangunan dengan total delapan tiang penyangga dan empat tiang utamanya ditopang oleh balok bersusun tiga, lengkap dengan ukiran motif Kerajaan Majapahit.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA