Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

28 Juli 2021|15:09 WIB

Ibu Tetap Bisa Menyusui Walau Positif Covid-19

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 memperlihatkan, baru 52% bayi di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif

Oleh: Faisal Rachman

ImageIlustrasi ibu menyusui. dok.ist

JAKARTA – Tak hanya khawatir pada kesehatan diri sendiri, pasien covid-19 yang memiliki anak kecil juga punya kekhawatiran tambahan terkait kondisi anak-anaknya. Apalagi jika anak masih harus mendapatkan asupan ASI dari sang ibu. 

Namun, tak perlu khawatir berlebihan. Selain kekhawatiran bisa mengurangi imunitas tubuh, sejatinya masih ada beberapa solusi untuk mengatasi hal tersebut. 

Menurut Pakar Nutrisi UNICEF Indonesia Sri W. Sukotjo atau akrab disapa Ninik, ibu menyusui yang terkonfirmasi positif covid-19, sebenarnya bisa tetap aman memberikan ASI pada bayinya, asalkan tak abai menerapkan protokol kesehatan.

Menurut Ninik, berbagai studi menunjukkan, seorang ibu yang terkonfirmasi positif covid-19 tetap aman menyusui karena virus SARS-CoV-2 tidak terdeteksi di dalam ASI. Sedangkan bayi memiliki risiko rendah terkena infeksi virus itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF sejak Maret 2020 terus menggaungkan, pentingnya menyusui pada masa pandemi termasuk pada para ibu yang terkena covid-19. 

Pasalnya, manfaat menyusui itu tergolong besar dibandingkan potensi risiko penularan antara lain mengurangi risiko kematian bayi secara signifikan.

"Jadi, sebetulnya tidak ada alasan untuk menghindari atau berhenti menyusui pada masa pandemi termasuk mereka yang terkonfirmasi positif," ujar dia dalam konferensi pers daring bertajuk "Perlindungan Menyusui Tanggung Jawab Bersama" yang digelar AIMI, Rabu (28/7), seperti dilansir Antara. 

Hanya saja, saat menyusui, ibu tetap harus menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker medis dengan tepat. Lalu menggantinya secara berkala, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menghindari memegang mata dan hidung, serta membersihkan dan mendisinfeksi permukaan benda yang sering disentuh ibu.

"Protokol ini hendaknya betul-betul harus dipatuhi saat menyusui," kata Ninik yang juga mengatakan ibu menyusui tidak memerlukan tambahan susu formula.

Namun, ada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan ibu menyusui langsung anaknya. Misalnya karena terlalu sakit atau bergejala berat selama perawatan covid-19. Di kondisi ini, seorang ibu bisa memerah ASI lalu memberikannya pada bayi.

Ninik menuturkan, bila ibu sudah cukup sehat untuk menyusui, maka dipersilahkan untuk langsung menyusui anaknya. Dia tak menyarankan ibu menunggu terlalu lama, karena tidak ada interval waktu yang tetap untuk hal ini.

Di sisi lain, ibu juga perlu mendapat dukungan dari tenaga kesehatan atau konselor menyusui yang mendampinginya sampai dia nyaman untuk menyusui lagi.

Terkait vaksinasi pada ibu menyusui, Ninik mengatakan, mereka ini termasuk kelompok yang bisa mendapatkan vaksinasi covid-19 demi bisa melindungi diri dari paparan penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 itu. 

Sekalipun WHO sendiri, sudah menyatakan ibu menyusui memungkinkan bisa mendapatkan semua jenis vaksin yang tersedia, semisal Moderna, AstraZeneca, Sinovac, Pfizer.
 
 "Yang disuntikan itu bukan virus hidup jadi secara biologis dan klinis tidak menimbulkan risiko bagi bayi yang menyusui. Berbagai studi di Eropa dan Amerika memperlihatkan antibodi ibu setelah vaksinasi, dialirkan melalui ASI untuk memproteksi bayi," tutur Ninik.
 
 Tetapi tentu saja sebelum diberikan vaksinasi, ibu harus menjalani pemeriksaan atau skrining kesehatan seperti suhu tubuh di bawah 37,5º elcius, tidak demam atau batuk selama 7 hari terakhir. Jga tidak kontak dengan pasien covid-19 dalam waktu 14 hari terakhir, tekanan darah di bawah 180/110 mmHg dan memenuhi syarat sesuai skrining riwayat kesehatan. 

Ilustrasi pemberian ASI. dok.ist

 

Kerugian Ekonomi
Sementara itu, Koordinator Substansi Pengelolaan Konsumsi Gizi Direktorat Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Mahmud Fauzi menyebutkan sejumlah kerugian bila ibu tak mau menyusui bayinya, termasuk dari sisi ekonomi.
 
"Kalau banyak di Indonesia ibu yang tidak menyusui, akan mengalami kerugian secara ekonomi. Otomatis dia akan membeli makanan pendamping ASI dan ini mengeluarkan biaya," kata dia dalam konferensi pers daring Perayaan Pekan Menyusui Sedunia yang digelar AIMI, Rabu.

Masalah lainnya yakni kelangsungan hidup anak akan sangat berpengaruh. Merujuk studi dalam jurnal The Lancet pada tahun 2016, praktik menyusui bisa menyelamatkan sekitar 820.000 nyawa bayi setiap tahun, sekaligus menurunkan angka kematian anak di bawah usia 3 bulan akibat infeksi.

"Karena rentannya seorang bayi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, maka perlindungan menjadi penting dan kita harus mewaspadai perihal penggunaan pengganti ASI yang tidak layak. Sehingga bagaimana pemasaran produk harus betul-betul dijaga agar tidak memberikan informasi salah pada masyarakat," tutur Mahmud.

Oleh karena itu, dia mengatakan, edukasi mengenai pentingnya menyusui perlu terus dilakukan. Baik melalui konseling atau telekonseling seperti yang ditempuh AIMI.

Di sisi lain, pemerintah sudah berkomitmen melindungi ibu menyusui di Indonesia. Antara lain melalui UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Permenkes No.15 tahun 2012 tentang tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui dan atau memerah ASI.

Selain itu, ada Permenkes No.15 tahun 2014, tentang tata cara sanksi administratif bagi tenaga kesehatan, penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan. Termasuk untuk penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, serta produsen dan distributor susu formula bayi atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat keberhasilkan program pemberian ASI eksklusif.
 
Pada masa pandemi covid-19 saat ini, lanjutnya, pemerintah tetap melanjutkan komitmennya yakni dengan memprioritaskan program dan layanan menyusui. 

Kemudian mengakhiri promosi produk pengganti ASI, inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi dan mengimbau semua pemangku kepentingan, untuk mempromosikan serta meningkatkan akses ke layanan yang mendukung ibu agar melanjutkan praktik menyusui.
 
Terkait situasi praktik menyusui di Indonesia saat ini, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 memperlihatkan, baru separuh atau 52% bayi berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Median lama pemberian ASI eksklusif hanya 3 bulan.
 
Mahmud menambahkan, keberhasilan ibu bisa menyusui memerlukan dukungan semua pihak sedari ibu hamil sampai menyusui dan perlunya pengoptimalan implementasi kebijakan serta evaluasi terkait menyusui.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER