Selamat

Jumat, 24 September 2021

15 September 2021|20:01 WIB

Dodge Challenger Jadi Idaman Polisi

Sejak tahun 1979, aksi pengejaran yang dilakukan polisi telah membuat sebanyak lebih dari 5.000 warga tewas

Penulis: Kevin Sihotang,

Editor: Rikando Somba

ImageDodge Challenger Series. Dodge/dok

JAKARTA – Kita tentu sudah kerap kali melihat aksi kejar-kejaran antara polisi Amerika Serikat dan para penjahat di tayangan televisi. Tidak hanya di film-film, aksi kejar-kejaran itu juga kerap terjadi di kehidupan nyata. 

Kedegilan para pelaku kejahatan itu membuat kepolisian harus bersusah payah mengejarnya seolah tengah melakukan balapan. Maka, tak heran polisi pada akhirnya meminta pasokan mobil-mobil dengan kecepatan tinggi untuk berjaga-jaga kalau harus mengejar para penjahat di tengah patroli. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh para polisi di Departemen Kepolisian Prescott Valley, Arizona, AS.

Baru-baru ini, departemen kepolisian tersebut membeli sepasang unit mobil Dodge Challenger R/T guna menindak para pelanggar lalulintas dan pengemudi-pengemudi mobil yang sembrono. Dikutip dari Motor 1, Rabu (15/9) agar tidak mudah dikenali saat sedang berpatroli, mobil-mobil Challenger tersebut akan dicat layaknya mobil biasa, kemungkinan silver dan abu-abu.   

Mobil Challenger itu juga “ditugaskan” secara khusus untuk mengawasi dan mengatasi para pengemudi nakal yang ugal-ugalan dan kerap memacu kecepatan melebihi batas. Selain itu, kedua unit mobil baru tersebut juga ditugaskan untuk patroli harian, mengatasi kecelakaan lalulintas, menjaga keamanan para pejalan kaki dan pesepeda, serta potensi-potensi pelanggaran mengemudi yang mungkin terjadi di jalanan.

Mengapa Challenger?
Seperti diketahui, Dodge Challenger merupakan salah satu mobil tercepat di dunia. Mobil ini memiliki mesin Hemi V8 5,7L yang menghasilkan 375 horsepower (280 kilowatt) dan torsi 400 lb-ft (542 Newton Meter). Hal ini dianggap akan banyak membantu pihak kepolisian menegakkan hukum khususnya di bidang lalulintas. 

Data yang dimiliki oleh Kepolisian Arizona itu menunjukkan bahwa terjadi lonjakan kasus pelanggaran kecepatan hingga 290% di wilayah mereka. Statistik tersebut juga menghitung banyaknya kasus pengemudi ugal-ugalan.

Kepolisian Arizona bukanlah satu-satunya yang menggunakan Challenger sebagai mobil patroli. Departemen Kepolisian di Florida juga memiliki mobil “berotot” ini. Pengadaan mobil-mobil tersebut berasal dari donasi warga atau hasil sitaan yang pada akhirnya menjadi milik kepolisian. 

Dodge Challenger sejatinya memiliki spesifikasi yang agak mirip dengan versi lainnya, Dodge Charger Pursuit yang memang kerap dijadikan mobil kepolisian AS. Beberapa pihak menilai pengadaan mobil Challenger hanya menjadi suatu hal yang mubazir. Banyak yang mengkritisi, keberhasilan polisi mengejar penjahat bukan hanya soal mobilnya, namun kepiawaian sang pengemudi yang turut menentukannya. 

Membunuh Warga
Aksi kejar-kejaran antar polisi dan penjahat bukan tanpa risiko. Bahkan, bisa menimbulkan risiko kematian. Data yang dirangkum USA Today menunjukkan bahwa sejak tahun 1979, aksi pengejaran yang dilakukan polisi telah membuat sebanyak lebih dari 5.000 warga tewas. Kemudian sejumlah lebih dari 10.000 orang mengalami luka-luka. 

Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang kebetulan ada di lokasi kejar-kejaran tersebut baik yang sedang berjalan kaki atau sedang berada di mobil sendiri. Sebagian besar dari mereka tewas ditabrak oleh para pengemudi yang sedang melarikan diri. 

Dilaporkan, kepolisian AS mengejar puluhan ribu pengendara setiap tahunnya. Namun, kebanyakan karena pengendara tersebut melakukan pelanggaran-pelanggaran ringan seperti tidak mengenakan sabuk pengaman, menikung terlalu tajam, hingga melanggar garis atau marka jalan. 

Kehadiran polisi lantas membuat mereka panik dan kemudian melaju dengan kecepatan tinggi. Hal ini kemudian menjadi perhatian dan kekhawatiran banyak warga di AS yang merasa bahwa aksi kejar-kejaran yang dilakukan para polisi itu terlalu berbahaya, apalagi hanya karena pelanggaran kecil.

Kembali lagi, pihak kepolisian hanya menjalankan tugas dan hendak menegakkan kedisiplinan serta hukum berlalu lintas. Namun, bila kepolisian bersikeras mengejar pelanggar yang kedapatan tidak memakai sabuk pengaman, kemudian aksi kejar-kejaran itu menewaskan beberapa warga lain yang sedang melintas, maka segala risiko tersebut sepatutnya ditinjau dan diperhitungkan kembali, atau memilih alternatif lain dalam pengejaran dan penangkapan para pelanggar.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER