Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

13 Oktober 2021|20:00 WIB

Dedikasi Empriani Magi Untuk Literasi

Kehidupan "keras" anak-anak di tanah kelahirannya, menjadi pemantik Empri untuk mengabdikan diri sebagai penyambung ilmu

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageEmpriani Magi, pendiri Sekolah Alam Dyatame. Sumber Foto: Instagram/(@emprianimagi)

JAKARTA – “Good afternoon Miss Empri, how are you today?” Seru puluhan anak yang berkumpul di sebuah areal tanah lapang. Miss Empri sigap menjawab dengan hangat, “I’m fine, thank you. And you?” Setelah itu, kelas pun dimulai.

Begitulah rutinitas yang dijalani Empriani Magi (28 tahun), seorang perempuan Desa Mareda Kalada, kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Hampir 5 tahun terakhir, ia mengelola sebuah kelompok belajar bernama Sekolah Alam Dyatame.

Setidaknya, ada sekitar 150 anak di Desa Mareda Kalada yang menjadi muridnya. Ratusan anak itu hadir di sesi pembelajaran secara bergiliran setiap harinya, mulai dari Senin hingga Rabu.

Apa yang dipelajari? Macam-macam, dari bahasa Inggris, bahasa Indonesia, matematika, kimia hingga biologi. Seperti sekolah pada umumnya lah.

Akan tetapi, model pembelajaran Dyatame terlihat berbeda dengan pembelajaran di sekolah-sekolah formal. Di sini, pembelajaran tak melulu dilakukan dengan penyampaian materi oleh guru, melainkan dibarengi dengan bermain, bernyanyi, membaca cerita, hingga praktik eksperimental di lapangan.

Suatu hari, Empri dan murid-muridnya belajar pengenalan diri dan public speaking dalam bahasa Inggris. Pada hari lainnya lagi, ia mengajak murid-muridnya bereksperimen tentang reaksi-reaksi kimia pada berbagai benda yang ada di lingkungan.

Kemudian pada hari Kamis hingga Minggu, Empri menyeberang ke beberapa desa lain di sekitar Mareda. Di desa-desa tersebut, puluhan anak-anak selalu setia menunggu kedatangan ibu guru Empri atau yang akrab disapa Miss Empri.

Semuanya ada empat desa tempat kegiatan sekolah alam Dyatame dilangsungkan. Desa Mareda Kala sebagai pusat, lalu cabang-cabangnya di Desa Waimangura (Kecamatan Wewewa Barat), Desa Omba Rande (Kecamatan Wewewa Tengah), dan Desa Maliti Ndari (Kecamatan Wewewa Timur).

Di luar kegiatan belajar dan mengajar, sesekali, Empri dan anak-anak Dyatame menggelar acara seni, ataupun menggelar kegiatan membersihkan sungai dari sampah-sampah plastik.

Empri mengatakan, total jenderal, ada 300 murid yang tergabung dalam Sekolah Alam Dyatame, yang tersebar di beberapa desa. Para murid tersebut berasal dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak tingkat SD, SMP, hingga SMA.

Tentu, Empri tidak seorang diri menghadapi 300 anak tersebut. Ia dibantu oleh para relawan, baik yang datang dari Sumba maupun luar daerah yang merasa tertarik dan mendedikasikan waktunya untuk terlibat dalam gerakan Dyatame.

"Kalau murid-murid itu mulai dari PAUD hingga SMA, bahkan sekarang sudah ada yang kuliah, mereka ikut membantu mengajarkan adik-adik di Dyatame. Lalu ada para relawan. Sekarang ini totalnya ada 20 orang relawan ikut membantu," ungkap Empri saat berbincang dengan Validnews beberapa waktu lalu.

Begitu ramainya Sekolah Alam Dyatame, dan begitu padatnya “kelas” yang dikelola Empri. Sebenarnya, siapakah Empriana Magi ini, dan apa yang ia lakukan dengan sekolah alamnya?

Naluri Mendidik Sarjana Teknik
Empriani Magi memulai Dyatame pada tahun 2017. Sebelumnya, ia adalah lulusan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur, yang kemudian bekerja sebagai pegawai kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sumba Barat Daya.

Sejatinya, ia tak memiliki riwayat pendidikan keguruan. Hanya saja, gairah untuk mendidik ia warisi dari orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. Ia selalu antusias membimbing adik-adiknya dalam belajar di rumah, terutama mengajarkan bahasa Inggris. Dari rutinitas kecil inilah Dyatame bermula.

Dari sekadar mengajar bahasa Inggris untuk Naura, adiknya yang duduk di bangku SD, kegiatan mengajar jadi berlanjut dan meluas, lantaran Naura mengajak beberapa temannya untuk belajar bersama-sama di rumah. Lama-kelamaan, semakin banyak kawan-kawan Naura yang ingin ikut belajar bahasa Inggris bersama Empri.

Sebagai seseorang yang senang mengajarkan ilmunya, Empri tak menutup diri. Ia terus menerima setiap anak-anak yang datang ke rumahnya untuk belajar. Namun pertanyaannya, kenapa bahasa Inggris?

“Bahasa Inggris itu sangat penting, sebagai jendela melihat dunia yang luas. Paling tidak, kita tahu bahwa Sumba semakin dilirik dunia sebagai tujuan wisata, maka itu kita harus kuatkan sumber daya manusia kita, salah-satunya yang paling mendasar, ya, bahasa Inggris,” jelas Empri.

Namanya belajar di rumah, tentu tidak kaku seperti pembelajaran di sekolah. Anak-anak muridnya belajar sambil tertawa, bisa bertanya tentang apa saja, serta penuh dengan canda sehingga proses belajar terasa lebih menyenangkan.

Hal ini membuat teman-teman Naura semakin banyak yang berdatangan. Dari awalnya hanya lima orang, bertambah menjadi sepuluh, kemudian menjadi 20 orang dan terus bertambah.

Seiring jalan, tak hanya Bahasa Inggris, Empri pun menjadi guru semua mata pelajaran bagi anak-anak tersebut. Mulai dari IPA, IPS, Matematika hingga pengetahuan-pengetahuan umum lain.

“Saya membiarkan anak bertanya apa saja yang mereka penasaran. Kalau di sekolah kan mereka tidak bisa eksplor. Kalau di kita, anak-anak bisa tanya leluasa, apa saja, baik terkait pelajaran yang kurang ngerti di sekolah, atau soal-soal umum. Jadi saya mengikuti mood anak-anak,” ceritanya.

Seiring bertambahnya anak-anak didik, semakin kuat pula keyakinan Empri tentang pentingnya menjadi ‘guru kedua’ bagi anak-anak tersebut. Empri memandang, betapa anak-anak Sumba, khususnya di wilayahnya, masih minim dalam hal pendidikan dan literasi.

Kenyataan yang ada, anak-anak sekolah setiap hari, namun mereka tak banyak belajar setelah pulang karena harus bekerja atau sebagiannya lagi asyik bermain.

Dari situ Empri semakin serius dengan kelas belajarnya. Banyaknya jumlah murid yang harus diampu, mau tak mau, membuat kegiatan belajar pun mesti digelar di area tanah lapang, tak jauh dari rumah Empri. Mulai saat itulah, Empri memperkenalkan Dyatame secara luas kepada masyarakat di desanya.

Empri mulai menaruh harapan besar akan Dyatame yang ketika itu masih dinamakan sebagai kelompok belajar. Ia berharap, ruang sekolah non-formal yang ia ciptakan itu, bisa meningkatkan modal intelektual bagi generasi penerus di daerahnya.

Menurutnya, anak-anak Sumba memiliki potensi. Hanya saja, orang tua masih belum terbuka hatinya melihat pendidikan sebagai jalan menuju hidup yang lebih baik. Banyak anak yang harus putus sekolah dan bekerja sampai ke luar negeri. Selain itu, pernikahan dini hingga kasus human trafficking juga terbilang tinggi.

"Alasan-alasan itulah yang membuat saya berpikir, ya ampun mereka harus dibantu ini, mereka setidaknya harus punya bekal lah, mereka harus lebih cerdas dan punya sudut pandang yang luas, dan dengan pikiran lebih terbuka," tutur Empri.

Bertumbuh, Menepis Skeptis
Setahun berjalan, Dyatame berkembang pesat. Ratusan anak-anak ikut bergabung dalam kegiatan belajar yang rutin digelar setiap Senin hingga Rabu sore itu. Bersamaan, Empri juga perlahan sudah membangun perpustakaan Dyatame yang menghadirkan buku-buku bacaan umum maupun buku mata pelajaran.

“Jadi, sejak itu saya kan juga memposting kegiatan-kegiatan Dyatame di media sosial, sehingga banyak orang mengapresiasi, mereka mendonasikan buku-buku untuk kita,” jelas Empri soal asal-muasal buku-buku tersebut.

Aktivitas Empri pun semakin padat, sebab dalam waktu bersamaan ia masih bekerja sebagai pegawai kantor DLHK, akhirnya resign dan bekerja sebagai guru kontrak di salah satu sekolah di Sumba Barat Daya. Ia mesti merelakan sebagian waktu istirahatnya untuk mengajar anak-anak Dyatame.

Pada tahun 2018, sudah ada 150 anak yang bergabung dalam kelompok belajar Dyatame. Mereka datang berjalan kaki, sebagian menempuh jarak yang cukup jauh (3-4 Km) untuk bisa bergabung dengan Empri. Maka semakin masyhur pula nama Dyatame.

Pada tahun itu juga hingga tahun 2019, satu persatu relawan berdatangan, baik yang datang untuk menetap maupun sekadar berkunjung selama beberapa waktu. Kedatangan para relawan itu membuat kegiatan Dyatame menjadi semakin beragam.

Ketika datang relawan yang berprofesi sebagai dokter, anak-anak belajar seputar ilmu kesehatan dasar. Jika yang datang seorang jurnalis, anak-anak itu pun diajarkan menulis dan kompetensi public speaking. Belakangan, enam orang adik Empri, termasuk Naura, juga kemudian menjadi relawan, membantu proses pembelajaran di Dyatame.

Empri bercerita, perkembangan yang pesat itu bukan tanpa persoalan-persoalan di dalamnya. Ternyata, ada banyak orang tua yang juga tak menyukai aktivitas anak-anak mereka bersama Dyatame. Ditambah dengan popularitas Dyatame yang membuat Empri sering disorot kamera wartawan dan memancing pikiran negatif pada para orang tua.

"Ada banyak, banyak sekali orang tua yang marah waktu itu. Mereka pikir ‘ini anakku di foto-foto doang’, buat saya terkenal, buat dapat duit. Tapi kembali lagi, yang penting kita niat baik, itu selalu saya ingin tunjukkan ke mereka," kisah Empri.

Omongan-omongan miring seperti itu hanya bisa dijawab oleh waktu dan dedikasi seorang Empri. Tak terlalu lama, ia nyatanya berhasil membawa perubahan-perubahan baik pada anak-anak di desanya, baik dalam hal prestasi akademik, maupun karakter si anak.

Banyak anak-anak Dyatame yang akhirnya juga bisa menunjukkan potensi besarnya lewat berbagai kompetisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional. Mulai dari lomba puisi, cerdas cermat, pidato hingga menulis.

Beberapa di antaranya seperti menjuarai lomba pidato tingkat kabupaten, menjuarai ajang nasional Aksi Nyata Anak Bangsa (Millennials Berkarya), hingga menyabet penghargaan kategori pendidikan dari Astra International Tbk tahun 2018.

Empri juga mengatakan, antusiasme anak-anak Dyatame terhadap pendidikan di sekolah formal juga lebih tinggi. Selain itu, di Dyatame, ia juga menekankan pentingnya praktik berkomunikasi yang santun, memiliki kreativitas, serta memiliki sudut pandang yang luas tentang dunia.

"Orang-orang akhirnya aware. Promosi dari mulut ke mulut tentang Dyatame. Itu pula akhirnya membuat ibu-ibu di desa lainnya tertarik dan mereka ingin ada cabang Dyatame di desa mereka. Maka dari situ kita akhirnya berkembang di beberapa desa," tutur Empri.

Hingga saat ini, Dyatame masih terus bergeliat dengan sederet kegiatan positif. Tidak lagi sebatas gerakan pendidikan, tapi kelompok yang pada tahun 2019 resmi dinamakan Sekolah Alam Dyatame ini meluas ke berbagai gerakan sosial, kemanusiaan hingga lingkungan. Salah satunya kegiatan pembersihan sungai dari sampah plastik yang dilakukan setiap bulannya.

Empri masih menaruh harapan besar atas masa depan Sekolah Alam Dyatame. Ia masih ingin mengembangkan pembelajaran untuk bidang seni bagi murid-muridnya.

Ia sadar, selama ini ha tersebut masih belum tereksplorasi karena keterbatasan relawan yang mumpuni di bidang tersebut. Selain itu, Empri juga memiliki cita-cita suatu hari nanti, anak-anak Dyatame tidak lagi harus belajar di lapangan terbuka, tapi di tempat yang lebih teduh dan lebih nyaman.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER