Selamat

Senin, 26 Juli 2021

PARIWISATA

10 Juli 2021|15:40 WIB

Dark Tourism, Wisata Mengenang Sisi Kelam Sejarah

Istilah dark tourism pertama kali dipopulerkan oleh John Lennon dan Malcolm Foley lewat bukunya berjudul “Dark Tourism: The Attraction of Death and Disaster”.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi Museum Tsunami Aceh. Antarafoto/Irman Yusuf

JAKARTA – Jika biasanya berwisata identik dengan mengunjungi lokasi-lokasi yang menyenangkan dan menyegarkan, tidak demikian halnya dengan dark tourism. Lini pariwisata bergenre ‘gelap’ ini malah menawarkan wisatawannya mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan sejarah kelam, tragedi, perang, bencana, hingga kematian. Penasaran seperti apa?

 Istilah dark tourism pertama kali dipopulerkan oleh John Lennon dan Malcolm Foley lewat bukunya berjudul “Dark Tourism: The Attraction of Death and Disaster”. Awalnya, dark tourism hanya dikaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kematian, perang, dan bencana.
 
Seiring perkembangan zaman, dark tourism berubah menjadi perjalanan wisata ke situs-situs yang menyimpan kisah tentang kematian umat manusia secara tragis dan memilukan. Berkunjung ke tempat-tempat tersebut, akan menguatkan ingatan kita tentang peristiwa pilu sekaligus mengenang dan mempelajari latar belakang kejadian.

Indonesia memiliki beberapa lokasi dark tourism yang layak dicoba. Di sana, Anda bisa merasakan langsung kengeriannya dan mempelajari lebih dalam budaya atau konteks zaman yang membuat suatu tragedi terjadi.

Mengutip Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Indonesia memiliki Museum Tsunami Aceh yang menjadi monumen bagi bencana alam tsunami tahun 2004 silam. Di museum tersebut, terpajang sisa-sisa barang yang mengingatkan pengunjung betapa ganasnya tsunami menerpa bumi serambi mekkah 17 tahun lalu. Ada pula nama-nama korban meninggal akibat tsunami sebagai pengingat bahwa musibah itu pernah terjadi.

Kemudian ada Desa Trunyan Bali. Desa Trunyan memiliki adat istiadat yang unik dalam memandang kematian. Masyarakat desa menyiapkan tiga lokasi kematian bagi anggota keluarga. Ketiganya terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu orang yang meninggal dengan kondisi baik, kedua tidak dalam kondisi baik misalnya karena kecelakaan, dan untuk anak bayi.
 
Berbeda dengan pemakaman lain, mereka akan menaruh jasad anggota keluarganya di tanah tanpa di kubur. Mereka hanya dipagari dengan anyaman bambu untuk menjaga dari binatang. Masyarakat Trunyan percaya jasad mereka akan terserap tanah dengan sendirinya.
 
Selanjutnya ada Makam Juang Mandor di Kalimantan Barat.  Makam Juang Mandor menjadi salah satu situs bersejarah karena dulunya tempat ini menjadi lokasi pembantaian kurang lebih 21.037 orang oleh tentara Jepang pada tahun 1943 hingga 1944.  
 
Terakhir adalah Tugu Peringatan Bom Bali. Di tugu tersebut terdapat ratusan nama korban dari ganasnya ledakan bom Bali di Jalan Legian Kuta pada Oktober 2002. Tugu ini dibangun untuk memberikan penghormatan kepada para korban dan menjadikannya pelajaran sejarah bagi generasi penerus.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER