Selamat

Selasa, 21 September 2021

17 Juli 2021|16:48 WIB

Childfree, Pilihan Hidup Yang Bertentangan Budaya Indonesia

Budaya di Indonesia cenderung lebih ingin mengingingkan kehadiran anak dan cucu

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi childfree. Shutterstock/dok

JAKARTA - Keputusan untuk tidak memiliki keturunan memang telah dipikirkan Victoria Tunggono (37), sejak masa SD. Sebelumnya, dia pernah diperkenalkan tentang UNICEF oleh orang tuanya. Lewat lembaga tersebut, dia melihat banyaknya anak-anak yang terlantar di dunia. 

Berangkat dari situ, penulis buku "Childfree and Happy" itu mengungkapkan, banyak orang yang berpikir bahwa akan berbeda ketika memiliki anak kandung dengan adopsi.

"Bahkan, kebanyakan dari mereka hanya bisa mencintai anak sendiri. Orang tersebut nggak bisa mencintai anak orang lain. Artinya, dia tidak benar-benar memberikan kasih kepada anak-anak. Sebab, semua anak itu layak dicintai tanpa dibeda-bedakan,” ujarnya kepada Validnews, Sabtu (17/7).

Hingga akhirnya hampir semua orang di dunia lebih memilih untuk memiliki anak kandung. Padahal, masih banyak anak-anak yang terlantar dan kelaparan. 

"Ketika SMP saya melihat Angelina Jolie melakukan adopsi, walaupun tanpa suami saat itu. Nah, dari situ saya berpikir lebih baik adopsi kalau begitu. Namun, sekarang saya berpikir untuk tidak adopsi, karena umur yang sudah semakin tua dan keterbatasan finansial juga," ceritanya.

Meskipun tidak mengadopsi anak, wanita yang biasa disapa Tori itu seringkali mengurus para keponakannya. Rasa penasaran akan merawat anak-anak pun sudah hilang, sehingga Tori tidak lagi berminat untuk adopsi anak.

Baginya, mengurus anak bukanlah hal yang mudah karena tanggung jawabnya besar dan seumur hidup. Sebab itu, penulis buku tersebut memilih untuk menerapkan konsep childfree dalam kehidupannya.

"Saya sudah tahu bagaimana pusingnya mengurus anak, namun bukan berarti tidak suka dengan anak-anak ya mbak. Apalagi akan ada masa mereka berontak ketika remaja. Jadi, sudah terbayang bagaimana merawat anak itu," jelasnya.

Sementara itu, gerakan childfree ini memang cukup tertutup di Indonesia. Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., Psikolog Sosial Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengatakan, tidak menutup kemungkinan gerakan ini memunculkan beberapa dampak stigma negatif.

"Sebab, orang tua dari pasangan suami istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anak-anaknya. Salah satunya harapan untuk memiliki cucu yang meneruskan keturunannya," jelasnya yang dikutip dari laman resmi UNS.

Tentunya, pandangan tersebut tidak lepas dari perspektif budaya kolektif di Indonesia. Di mana kultur masyarakatnya mengharapkan seseorang yang telah memasuki usia dewasa untuk menikah. Setelah itu, mereka akan ditanyakan perihal kehadiran anak.

Victoria menambahkan, akibat kultur tersebut beberapa dari mereka yang menyadari childfree harus mengubur keputusannya itu. Terkadang, mereka pun menjadi menyesal karena mempunyai anak tersebut.

"Kasus seperti ini pun banyak dialami oleh para penganut childfree, mereka terpaksa memiliki anak karena dorongan dari pasangan atau lingkungan sekitar. Bahkan, ada juga dari mereka yang bercerai hingga harus mengurus anak seorang diri. Hingga menimbulkan kebencian terhadap anaknya," paparnya.

Jika memang belum siap memiliki anak atau keturunan, maka jangan terpengaruh pikiran orang lain. Hingga akhirnya mereka menyesal karena karirnya terhambat karena situasinya mempunyai anak.

"Intinya, jangan pernah hidup dalam penyesalan, bila memang belum siap katakan saja tanpa harus terpengaruh orang lain. Sebab, anak tidak pernah minta dilahirkan dari keluarga yang mana," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA