Selamat

Senin, 26 Juli 2021

GAYA HIDUP

21 Juli 2021|21:00 WIB

Cairan Pra-Ejakulasi Tetap Bisa Membuat Hamil

Cairan pra-ejakulasi juga mengandung sperma

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi sperma. Pixabay/dok

JAKARTA – Ketika berhubungan seksual tanpa pengaman dan menginginkan tidak terjadinya kehamilan, biasanya laki-laki akan melakukan ejakulasi di luar dari vagina. Namun ternyata, hal itu tetap bisa membuat seseorang hamil melalui cairan pra-ejakulasi. 

Cairan pra-ejakulasi merupakan cairan yang keluar dari kelenjar Cowper. Dikutip dari Very Well Family, cairan pra-ejakulasi berfungsi untuk menetralkan asam pada saluran kencing sebelum ejakulasi. Hal Itu dikarenakan sperma sensitif terhadap kadar pH. 

Sperma pun bisa saja mati apabila saluran kencing yang menjadi tempat keluar sperma menjadi terlalu asam, akibat urine juga keluar dari saluran yang sama. Untuk itulah, cairan pra-ejakulasi dibutuhkan agar sperma bisa keluar saat ejakulasi dan berenang hingga mencapai sel telur. 

Selain itu, cairan pra-ejakulasi juga dibutuhkan sebagai pelumas saat berhubungan seksual agar ketika terjadi gesekan tidak melukai baik penis ataupun vagina.

Banyak orang mengira bahwa cairan pra-ejakulasi tidak dapat membuat seseorang hamil, tapi anggapan itu salah. Sperma bisa saja ada pada cairan pra-ejakulasi, meskipun tidak sering terjadi. 

Sebuah penelitian menemukan bahwa 41% sampel cairan pra-ejakulasi mengandung sperma. Sementara sekitar 37% diantaranya memiliki sperma yang masih hidup dan aktif. Artinya, ada kemungkinan bahwa sperma yang ada di cairan pra-ejakulasi bisa mencapai rahim dan membuahi sel telur sehingga terjadi kehamilan.

Tidak hanya itu saja, cairan pra-ejakulasi juga bisa menularkan infeksi menular seksual. Mulai dari HIV (Human Immunodeficiency Virus), Chlamydia, Gonorrhea, dan Hepatitis B. Untuk itu, ada baiknya melakukan hubungan seksual dengan menggunakan pengaman, guna menghindari kehamilan di luar rencana dan infeksi menular seksual. 

Kehamilan di luar rencana sendiri bisa mendukung terjadinya aborsi. Sementara berdasarkan perkiraan BKKBN pada 2009, ada sekitar 2,4 juta kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia.

Penelitian lainnya di 2017 juga menunjukkan bahwa ejakulasi di luar vagina tanpa pengaman memiliki risiko kehamilan yang lebih besar, yakni hingga 20%. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan hubungan seksual menggunakan kondom 13%, pil kb 8%, ataupun IUD (Intrauterine Device) 1%. 

Sementara data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan bahwa ejakulasi di luar vagina juga tidak efektif untuk mencegah kehamilan dengan risiko sekitar 22%.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER