Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

10 Juni 2021|18:52 WIB

Bijak Gunakan Antibiotik

Penggunaan yang tidak sesuai bisa menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik

Oleh: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi obat. Pixabay/dok

JAKARTA - Masyarakat diingatkan untuk bijak dan rasional dalam menggunakan obat, termasuk antibiotik. Gunakanlah sesuai kebutuhan klinis, agar tidak terjadi resistensi antibiotik. 

Direktur Promosi kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Imran Agus Nurali mengatakan, penggunaan antibiotik hanya untuk infeksi bakteri. Disarankan untuk tidak membelinya sendiri, melainkan perlu resep dokter, dan jangan menyimpannya di rumah sebagai stok, serta jangan memberi antibiotik sisa pada orang lain.

"Tepat untuk kebutuhan klinis. Antibiotik hanya untuk infeksi bakteri, tidak dapat membunuh virus atau mikroba lain seperti jamur parasit dan protozoa. Berbahaya bila tidak sesuai kebutuhan klinis, penyakit virus tidak memerlukan antibiotik tetapi antivirus," kata Imran, dikutip dari Antara, Kamis (10/6). 

Sejumlah penyakit yang diketahui akibat infeksi bakteri dan membutuhkan antibiotik antara lain, demam tifoid, meningitis, tuberkulosis (TBC), infeksi paru seperti pneumonia, difteri, infeksi saluran cerna sepert disentri, infeksi saluran kemih, gonore (kencing nanah) dan sifilis.

Di sisi lain, para tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk membantu masyarakat agar bijak dan rasional menggunakan antibiotik. Salah satunya dengan memberikan antibiotik sesuai indikasi, yakni hanya untuk infeksi bakteri, memperbaiki dan mempercepat diagnostik infeksi serta melakukan pemantauan dan evaluasi penggunaan antibiotik.

Selain itu, memberikan dosis antibiotik memenuhi kebutuhan yang umumnya minimal untuk 5 hari, terkait indikasi penyakit dan penggunaan obat untuk jangka waktu yang cukup serta biaya terjangkau.

Mereka juga perlu memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan antimikroba secara bijak, salah satunya memanfaatkan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat). Gerakan ini juga bertujuan meningkatkan kemandirian dan perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan obat secara benar serta meningkatkan penggunaan obat secara rasional.

"Advokasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, optimalisasi tenaga kesehatan. Berbagai sisi, dari tenaga medis termasuk peranan masyarakat melalui cara belajar aktif," tutur Imran.

Resistensi antibiotik sendiri merupakan kondisi saat bakteri bertahan hidup dari serangan antibiotik, yang sebenarnya berfungsi mengatasi infeksi bakteri penyebab penyakit serius seperti diare parah.

Dalam sejumlah kasus, kondisi ini sulit disembuhkan dan memerlukan perawatan di rumah sakit serta biaya pengobatan yang lebih mahal.

"Pembiayaan jadi meningkat, ini dampak besar penggunaan obat yang sebabkan resisten. Pengobatan jadi lebih mahal dari antibiotik sebelumnya," kata Imran.

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter (overuse & misuse), merupakan salah satu penyumbang terbesar angka resistensi antimikroba (AMR) di dunia kesehatan.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan antibiotik meningkat 91% secara global, dan meningkat 165% di negara-negara berkembang pada periode 2000-2015, sehingga menjadikan AMR salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global yang paling berbahaya di dunia. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER