Selamat

Rabu, 20 Oktober 2021

02 Oktober 2021|18:00 WIB

Bicara Rokok, Bicara Kebudayaan?

Setiap daerah memiliki “produk rokok” sendiri. Sejarah mencatat banyak kaitan rokok dengan budaya lokal

Penulis: Dwi Herlambang, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

ImageIlustrasi rokok. Pixabay/cottonbro

JAKARTA – Wacana kenaikan cukai rokok kembali mengemuka. Para perokok dibikin was-was, berapa persen kenaikan yang akan diputuskan pemerintah pada 2022. Kenaikan cukai berarti naik pula harga rokok, bukan?

Uniknya, kekhawatiran ini sepertinya kurang relevansi langsung dengan aktivitas merokok mereka. Bagi para perokok tulen, rokok akan terus dibakar betapapun harganya menanjak mahal. Potret dari tahun ke tahun memperlihatkan, kaum 'ahli isap' selalu bisa bersiasat dengan keadaan.

Saat pandemi mulai melanda dan perekonomian menurun, fenomena yang terjadi adalah migrasi. Banyak yang mengganti rokoknya dari rokok kelas harga tertinggi ke rokok kelas harga menengah atau bawah. Tak apa, toh rokok tetap nikmat terasa.

Jurus lainnya, beralih ke praktik yang lebih progresif, yaitu ngelinting dewe atau tingwe. Perokok membeli tembakau dan meracik rokoknya sendiri. Ini suatu fenomena mencolok dan menarik untuk dibicarakan. Fenomena ini berkembang pesat sejak dua tahun terakhir, semakin banyak anak muda memilih melinting sendiri sebagai pilihan untuk berhemat.

Tio (28 tahun), seorang anak muda di Jakarta Selatan, adalah salah-seorang di dalam barisan ini. Menurutnya, dengan jurus itu, ia bisa tetap merokok tanpa terganggu karena krisis keuangan pada masa pandemi.

“Ternyata dengan cara tingwe duit jajan sangat irit. Perbedaannya sangat jauh dari yang satu bulan bisa habis sekitar Rp700 ribu hanya untuk rokok, sekarang paling Rp150 sampai Rp200 ribu saja,” terang Tio kepada Validnews, Senin (27/9).

Ia menilai meracik sendiri rokoknya adalah pilihan masuk akal. Semula memang terasa aneh. Sebab, dia terbiasa langsung mencomot rokok dari bungkusnya kemudian dibakar, kini harus melinting dulu sebelum bisa ‘ngebul’. Namun lama-kelamaan, ia beradaptasi dan kegiatan tersebut terasa menyenangkan.

Seorang penjual tembakau di Depok, Arif (35 tahun), mengamini tren ini terus meningkat. Menurutnya, selain karena alasan penurunan daya beli akibat pandemi, tingwe sebaliknya juga memancarkan citra tradisional yang jika dibawa ke lingkungan pergaulan. Para pengusung cara merokok ini malah menarik lainnya, karena dianggap autentik atau khas.

Hal itulah yang membuat usaha Afif terus melonjak dari waktu ke waktu. Setiap hari, banyak yang memesan tembakau kepadanya. Tak kira-kira, ia bisa meraup keuntungan Rp4 juta setiap harinya dari penjualan tembakau.

“Pernah satu kali saya nongkrong di Kemang, ngeliat anak-anak muda pada tingwe. Itu aneh, tapi memang mungkin keadaan yang membuat mereka memilih tingwe untuk menggantikan rokok, karena harganya jauh lebih murah,” ujar dia.

Tak Sekadar Berasap
 
Fenomena migrasi ini adalah bukti betapa kuatnya habit perokok di Indonesia. Dan sebagaimana diketahui, Indonesia termasuk negara dengan pengkonsumsi rokok terbanyak di dunia selain Amerika Serikat, China, India ataupun Rusia.

Kaum perokok tak surut oleh kenaikan harga rokok yang sangat agresif dari tahun ke tahun. Belum lagi fakta adanya beragam regulasi yang membatasi aktivitas merokok di berbagai ruang publik, ditambah teror kesehatan yang santer terdengar terkait aktivitas merokok. Aneh, mengapa mereka seperti tak terganggu oleh apapun?

Jawabannya, karena rokok bukan sekadar asap. Pada titik ini, pembicaraan tentang rokok menjadi lebih rumit untuk diketengahkan, sebab mau tidak mau, kita berpijak pada argumen-argumen yang sifatnya personal dan tentunya subjektif.

Achmad Djailani (30 tahun), seorang perokok aktif, memiliki cara pandang tersendiri tentang rokok. Bagi pemuda yang akrab disapa Kojel ini, rokok adalah medium spiritual, 'obat', hingga bagian mendasar dari kehidupan sosialnya.

Terutama yaitu sebagai media rekreasi atau katakanlah relaksasi. Rokok baginya adalah pereda stres, dan diposisikan sebagai media hiburan layaknya menonton film ataupun mendengarkan musik.

“Orang-orang dengan penat, entah ia kuli harian atau pekerja serabutan, baginya segelas kopi dan sebatang rokok itu, waaah, itu berarti sekali. Itu hiburan bagi mereka,” ucap Kojel saat berbincang dengan Validnews, Minggu (25/9).

Dalam kasus Kojel, rokok juga menjadi obat yang mujarab. Selama ini umum terdengar soal produk rokok tertentu, misalnya Dji Sam Soe, yang dianggap manjur mengurangi flu dan batuk. Sepanjang pengalaman Kojel, hal itu bukan sekadar konon. Ia mengatakan bahwa merokok adalah sebuah ikhtiar menjaga kesehatan.

Rokok bagi Kojel juga adalah media perekat pergaulan. Selama kurang lebih 10 tahun merokok, ia menemukan makna tersendiri dari sebatang rokok dalam suatu ekspresi persahabatan, kebersamaan, toleransi hingga nilai-nilai kebijaksanaan.

Lebih dalam lagi, momen merokok bagi Kojel juga sebagai momen yang takzim dan penuh dengan penghayatan. Ia yang juga memiliki kebiasaan tingwe, mengaku merasa terhubung dengan kehidupan yang lebih luas.

“Saya ketika melinting, saya jadi mengetahui rasa tembakau itu. Kita mengenali di mana tembakau itu tumbuh. Saya merasa ikut serta menghormati proses tembakau itu ditumbuhkan dan diolah, bagaimana ia tumbuh dalam kultur budayanya. Jadi saya merasa takzim, ada sisi spiritual di situ,” kata pemuda asal Tangerang Selatan ini.

Kretek dan Narasi Kearifan Lokal
Banyak perokok yang tegas menyebut rokok, dalam hal ini jenis rokok keretek sebagai produk kebudayaan Indonesia. Narasi ini seringkali dikedepankan dalam setiap gerakan atau kampanye menolak regulasi kontra produk tembakau, atau melawan stigma terhadap kaum perokok.

Menurut argumen pendukungnya, rokok adalah produk kearifan lokal, hasil olah rasa dan kreativitas leluhur Nusantara dahulu kala. Pada sebatang rokok, ada kesadaran kultural yang mengakar kuat.

“Sebelum ada industri, kita sudah bisa bikin rokok yang sekarang kita sebut keretek. Masyarakat kita di masa lalu itu punya daya adaptasi terhadap apa yang ada di lingkungannya. Karena kita punya rempah berlimpah kan, lahirlah keretek. Negara lain enggak akan menemukan keretek,” ungkap Ketua Komunitas Kretek Indonesia, Jibal Windiaz, saat berbincang via sambungan telepon, Minggu (25/9).

Komunitas Kretek Indonesia memiliki pandangan kritis terhadap negara yang selama ini dianggap mendiskriminasi perokok, tidak menghargai jejak kearifan budaya dari masa lalu. Termasuk isu kenaikan cukai yang akhir-akhir ini santer terdengar. 

Menurut Jibal, itu merupakan preseden buruk bagi industri tembakau, serta bagi petani tembakau dengan sejarah panjang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kebudayaan di sekitar produk tersebut.

Jibal merujuk berbagai teks yang mencatat sejarah perjalanan tembakau dan menjelma produk rokok di nusantara dari abad ke-17. Bermula dari penemuan warga Kudus bernama H. Djamhari sekitar abad ke-19, industri rokok keretek rumahan berkembang menjadi primadona seantero negeri, dengan citarasa rempahnya yang khas. Bahkan, dunia pun menggilai keretek Indonesia.

Produk kearifan lokal itu menurut Jibal sepatutnya dinilai secara proporsional, alih-alih “dikambinghitamkan” sebagai penyebab dari berbagai permasalahan, mulai dari kesehatan hingga penghalang kesejahteraan ekonomi keluarga.

“Orang selalu melihat rokok itu kambing hitam. Itu sebenarnya pilihan untuk kita berelaksasi, dan itu relatif terjangkau ketimbang pilihan yang lain. Lalu sering dikaitkan ‘dengan merokok kamu miskin’. Itu enggak berdasar juga. Kemiskinan di Indonesia itu disebabkan sistem, bukan oleh produk. Ini logika harus diperbaiki,” tukasnya.

Komunitas Kretek Indonesia tidak berada pada posisi berdebat dengan isu kesehatan. Jibal tak menyangkal adanya risiko kesehatan di balik praktik merokok. Namun, komunitas ini mengkritisi, ada stigma yang tidak tepat dan rokok bukan faktor tunggal perusak kesehatan. Ada banyak faktor lain terkait itu, mulai dari pola konsumsi hingga pola hidup yang dijalankan seseorang.

Kemudian, fakta bahwa rokok sudah menjadi bagian dari denyut kebudayaan yang juga memiliki nilai positif, tak bisa dikesampingkan. Rokok menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nusantara sejak lama, yang hadir dalam berbagai ruang interaksi sosial.

Rokok dalam Potret Kebudayaan
Potret kehadiran rokok dalam khazanah kebudayaan dibeberkan lebih lanjut oleh Aprinus Salam, staf pengajar Fakultas ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, jejak terkait rokok dalam kebudayaan Nusantara bahkan bisa ditilik dari abad ke-7. Berbagai kajian mencatat bagaimana leluhur nusantara memanfaatkan berbagai tumbuhan untuk dibakar dan diisap.

“Dulu itu banyak daun-daunan yang dipakai untuk merokok dengan tujuan ritual, karena asapnya bisa memediasi dengan kesemestaan. Kemudian untuk tujuan-tujuan pengobatan. Daun yang kita kenal sebagai daun ganja misalnya, itu dari dulu sudah ada, digunakan dan diolah sedemikian rupa untuk tujuan pengobatan, juga penyedap masakan. Kalau untuk pengobatan, enggak selalu harus dibakar, mungkin juga hanya getahnya diambil,” ungkap Aprinus dalam perbincangan dengan Validnews, Senin (27/9).

Setiap daerah memiliki “produk rokok” sendiri. Tentu saja bukan rokok seperti yang dikenal hari ini, tapi dalam bentuk daun-daunan tertentu yang dianggap memiliki citarasa baik, yang dibakar dan diisap.

Namun dalam perkembangannya, karena kontestasi politik perkebunan, akhirnya hanya tanaman tembakau yang mengemuka dan banyak direkam sebagai bahan rokok.

Seiring dengan masuknya penjelajah Eropa, terutama VOC adalah yang paling gencar mengembangkan perkebunan tembakau di Nusantara pada abad 17 hingga 18. Pada masa kolonial Belanda pula, rokok bertransformasi menjadi produk industri.

Sebelumnya, rokok hanya produk yang diolah dalam skala rumahan, dan distribusinya pun bersifat lokal di masing-masing daerah.

“Abad 18 itu masyarakat umumnya masih melinting, belum komersial. Memasuki abad 19 mulai komersial, mulai ada temuan teknologi yang memungkinkan produksi rokok lebih cepat. Saya kira masa-masa transisinya abad ke-19,” ujar Aprinus.

Sejak itu, komersialisasi rokok dimulai. Berbagai pabrik rokok muncul dengan berbagai mereknya. Termasuk yang muncul di masa awal hingga pertengahan abad ke-19 yaitu Sampoerna, Djarum serta Gudang Garam. 

Sementara industri berkembang, rokok terus menyusup ke dalam praktik-praktik kebudayaan masyarakat di berbagai daerah. Rokok digunakan dalam berbagai prosesi adat, seperti perjamuan, selamatan, hingga aktivitas silaturahmi, atau menjadi “pembuka obrolan” paling mujarab bagi semua kalangan.

Di Madura, rokok hadir dalam tradisi pacoten, yaitu tradisi mengundang orang untuk menghadiri hajatan, dengan menggunakan undangan berupa rokok dan sabun. Sementara pada masyarakat Batak Angkola, rokok umum menjadi prasyarat segala acara adat.

Lalu, rokok menyusup dalam pantun ataupun dalam idiom-idiom yang khas. Misalnya, salah-satu yang fenomenal dan tak tergantikan hingga hari ini, yaitu idiom “uang rokok”. Sebagaimana kaum perokok, idiom ini terus eksis hingga sekarang, mengalahkan banyak idiom alternatif lain yang sebenarnya juga bisa diketengahkan, semisal “uang pulsa”, “uang internet” atau “uang makan”.

Gambaran di atas menegaskan bahwa rokok secara tekstual memang merupakan bagian dari kebudayaan. Namun pertanyaan besar dalam tulisan ini belum terjawab. Untuk konteks kekinian, apakah relevan menyebut rokok sebagai produk kebudayaan, mengingat kian menguatnya sorotan isu kesehatan hingga ekonomi yang melekat pada produk tersebut?

Atas pertanyaan itu, Aprinus memberi jawaban agak diplomatis. Ia menggarisbawahi bahwa kebudayaan adalah memanusiakan kemanusiaan dan meningkatkan akal budi. 

Bentuk-bentuk kejahatan tidak termasuk kebudayaan, karena kebudayaan menentang kejahatan. Hampir semua definisi kebudayaan, katanya, adalah upaya-upaya meningkatkan akal budi, meningkatkan makna hidup.

Dalam konteks pengertian begitu, kita lagi-lagi bisa berdebat terkait narasi rokok sebagai bagian dari kebudayaan.

“Rokok itu dalam posisi yang mana? Kalau dia untuk ritual, untuk persahabatan, mungkin ada yang bilang untuk meningkatkan kreativitas. Ada orang yang merasa terbantu dengan rokok di situasi tertentu, itu kita mendukung memang sebagai bagian dari proses-proses kebudayaan,” jelas Aprinus.

“Tapi kalau fungsi-fungsi rokok menjadi sangat komersial, gaya hidup, kemudian ada lagi rokok tertentu disuntik untuk fungsi-fungsi yang tidak benar, ini kan repot jadinya seolah-olah kebudayaan mendukung itu,” pungkasnya.

Pada akhirnya, pemaknaan terhadap rokok harus dilihat dalam konteks penggunaannya, bagaimana dan untuk tujuan apa orang-orang mengkonsumsi produk rokok.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER