Selamat

Selasa, 5 Juli 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

23 Mei 2022

12:48 WIB

Aphasia, Gangguan Kemampuan Bahasa Akibat Cedera Otak

Biasanya, aphasia terjadi secara mendadak dan tidak jarang terjadi setelah seseorang mengalami stroke atau cedera kepala.

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Rendi Widodo

Aphasia, Gangguan Kemampuan Bahasa Akibat Cedera Otak
Ilustrasi aphasia. Pixabay

JAKARTA - Beberapa kondisi kesehatan pada seseorang mengganggu produktivitas sehari-hari. Salah satunya aphasia, yang dialami oleh aktor Bruce Willis yang membuatnya harus mundur dari dunia akting.

Apakah itu aphasia?

Aphasia merupakan gangguan yang diperoleh dari kerusakan pada bagian otak yang bertanggung jawab untuk bahasa.

Biasanya, aphasia terjadi secara mendadak dan tidak jarang terjadi setelah seseorang mengalami stroke atau cedera kepala.

Gangguan ini menyebabkan pasien sulit untuk mengekspresikan dan memahami bahasa, semisal membaca atau menulis.

Tidak sedikit juga, aphasia memengaruhi kemampuan berbicara pasien, atau yang dikenal dengan nama dysarthria, yang diakibatkan kerusakan pada otak.

Dikutip dari National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, aphasia paling sering terjadi akibat cedera otak seperti stroke.

Sementara itu, stroke terjadi ketika ada gumpalan darah atau pembuluh darah bocor atau pecah dan memotong aliran darah ke otak.

Sel di otak pun perlahan mati saat mereka tidak menerima cukup aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya aphasia.

Selain itu, cedera otak lainnya, seperti tumor otak, luka tembakan di kepala, infeksi otak, dan gangguan saraf progresif seperti Alzheimer juga bisa memicu terjadinya aphasia.

Untuk menegakkan diagnosa aphasia, biasanya pasien akan menjalani sejumlah pemeriksaan, seperti MRI (magnetic resonance imaging) atau CT (computed tomography) scan.

Pemeriksaan ini dilakukan guna mengetahui apakah adanya cedera pada otak dan mengidentifikasi lokasi cedera.

Selain itu, dokter juga biasanya akan menguji kemampuan bahasa pasien, seperti memberikan pertanyaan mendasar, meminta pasien menyebutkan nama objek, hingga melakukan percakapan.

Apakah pasien aphasia bisa sembuh?

Jawabannya adalah tergantung dari penyebab terjadinya aphasia.

Semisal, apabila aphasia diakibatkan oleh stroke, maka tergantung oleh pada bagian otak mata yang terdampak dan seberapa besar kerusakan otak yang alami. Meski begitu, pasien tetap bisa menjalani terapi aphasia.

Terapi yang dijalani bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi pasien agar bisa kembali seperti semula dan mempelajari cara lain dalam berkomunikasi, semisal menggunakan gestur, gambar, ataupun perangkat elektronik.

Akan tetapi, setiap terapi aphasia berbeda-beda tergantung kebutuhan pasien tersebut.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

Tahapan Balas Surat Cinta ETLE

DKI Larang Pedagang Jual Hewan Kurban Di Trotoar

Huawei Rilis Varian Nova 10 Series

Menteri Basuki Ingatkan Aspek Konstruksi Proyek Tol Semarang-Demak

Presiden Ingatkan Rakyat Awasi Kinerja Polri

BKKBN Fokus Tekan Angka Stunting Indonesia Dengan Kolaborasi

MA Rekrut Hakim Ad Hoc Tipikor

Emas Antam Mentok Di Level Rp989.000/gram