Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

11 Juni 2021|20:11 WIB

Apa Kabar Pangkas Rambut Tradisional?

Ikhtiar membangun semangat tukang cukur tradisional dan modern

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi Tukang Cukur. Sumberfoto: Shutterstock/dok

JAKARTA - Meski masih ada, namun keberadaannya pangkas rambut tradisional kian menyusut. Satu per satu, kepamorannya mulai tergantikan oleh tempat-tempat cukur modern, yang akrab disebut barbershop. Setidaknya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Suka tidak suka, mereka mulai tertinggal. Apalagi jika dibandingkan dengan segala fasilitas yang ditawarkan barbershop. Sangat jauh rasanya. Tapi bagaimanapun juga, masih saja ada yang bertahan sampai hari ini. Biasanya, mereka mengandalkan pelanggan setia. 

Fakta itu pun diamini Yusuf Aris Sandy, pendiri komunitas Tukang Cukur Grisse. Grisse sendiri adalah plesetan dari kata Gresik, sebuah kota di Jawa Timur tempat Yusuf tinggal. 

Sebagai tukang cukur, dirinya masih memiliki mimpi agar pangkas rambut tradisional tetap eksis. Dia berharap, komunitas yang didirikannya bisa menjadi wadah "penyatu" antara pangkas rambut tradisional dengan barbershop. 

Meski baru berdiri sejak tahun 2020 silam, tepatnya sebelum pandemi covid-19 menyerang, ia berharap semua tukang cukur di Gresik bisa bersatu. Saling berbagi ilmu, agar bisa berjalan beriringan.

"Semua tukang cukur yang ada di Gresik entah itu dari Madura atau manapun bisa bergabung. Tidak hanya dari barbershop saja, bisa juga tukang cukur tradisional. Biar tambah-tambah ilmu. Biar yang buka cukur biasa nggak kalah dapet nama juga," cerita Yusuf kepada Validnews, Jumat (11/6).

Sebenarnya, kata dia, para pelaku cukur tradisional juga memiliki keinginan untuk bertransformasi untuk menjadi lebih kekinian. Tapi sayangnya, untuk membuat gerai modern butuh modal yang tidak sedikit. Hal ini yang otomatis menjadi penghambat untuk mengejar ketertinggalan. 

Dikatakan, komunitas yang beranggotakan 50 tukang cukur itu memiliki visi untuk saling berbagi ilmu. "Jadi teman-teman bisa saling belajar agar teknik dan kualitasnya bisa sama," ujarnya.

Lebih lanjut, Yusuf berpendapat, secara kemampuan, baik antara tukang cukur barbershop dan pangkas rambut tradisional sebenarnya tidaklah berbeda. Yang membedakan hanyalah fasilitasnya saja. Misal di barbershop menggunakan AC, pomade, dan treatment yang lebih lengkap.

Meskipun tidak ada perbedaan, Yusuf mafhum bahwa masyarakat khususnya anak-anak muda lebih suka ke barbershop. Atas dasar itu, lewat komunitas ini, diharapkan sama-sama mencari solusi bersama.

"Jangan ada perbedaan, pangkas rambut dan barber sama-sama jalan, karena kita satu profesi," ujarnya.

Yusuf menjelaskan ada beberapa kriteria yang biasa digemari pelanggan. Misalnya, mereka yang mencari sisi fasilitas, lalu kualitas cukuran, dan ada yang mencari kenikmatan saat dipijat.

Oleh karena itu, Yusuf meminta anggota komunitas untuk bisa membaca apa yang dimau oleh pelanggan. Jika sudah mengetahui, poin itulah yang harus diperdalam agar pelanggan tidak kabur ke tempat yang lain.

"Jadi kita arahkan ke tukang cukurnya apa yang diminati pelanggan itu yang harus ditekankan, dikembangkan atau dikuasai. Kalau mencari kualitas ya kualitasnya harus dibenerin karena modal bikin barber bukan main-main," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER