Selamat

Selasa, 21 September 2021

14 September 2021|09:28 WIB

Aksara Nusantara Dalam Digitalisasi

Upaya melestarikan aksara-aksara kuno daerah dengan mentrasformasi ke dunia digital

Oleh: Satrio Wicaksono

ImageAksara Lota Dari Kabupaten Ende. sumberfoto: kemendibud/dok

JAKARTA - Aksara Nusantara perlu dilestarikan karena menjadi bagian dari budaya Indonesia. Keberadaannya pun amat sangat terancam punah, karena tidak ada lagi yang menggunakannya.

Dukungan digitalisasi dan teknologi informasi yang semakin berkembang pesat, diharapkan dapat menjadi cara untuk pelestarian dan pemanfaatan aksara-aksara daerah. 

Upaya mengedepankan pelestarian aksara tersebut tengah dilakukan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), melalui program Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN).

"Mulai saat ini, paradigma tersebut akan ditujukan pada upaya penerapan dan pemanfaatan, yaitu bagaimana agar aksara Nusantara ikut berperan dalam kemajuan teknologi, terutama di era industri 4.0," kata Ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo, dikutip dari Antara, Selasa (14/9).

Meski demikian, hal ini diakui akan menjadi suatu perjalanan panjang yang butuh kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak.

"Saat ini kita fokus mendukung aksara-aksara yang sudah terdaftar di UNICODE agar memenuhi standar ISO dan SNI, sehingga dapat diakui oleh dunia,” kata Chief Registry Operator, M. Shidiq Purnama.

Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Richard Mengko mengatakan, dalam kaitannya dengan aksara Nusantara, PANDI sebagai inisiator digitalisasi aksara harus mampu membuat platform yang merangkum semua aksara. 

Demikian pula dalam kurikulum sekolah, pengenalan aksara harus mencakup kekayaan aksara di Indonesia. Setelah mengetahui keragaman aksara, para siswa dapat lebih spesifik mendalami salah satu aksara.

Senada dengan Richard, pakar teknologi informasi, Onno W. Purbo juga menekankan pentingnya pemanfaatan aksara dalam bidang teknologi informasi. Ada kesempatan bagi aksara Nusantara untuk dijadikan bahasa pemrograman komputer dan sistem keamanan. Namun, masalah terbesar saat ini adalah bagaimana agar aksara Nusantara menjadi default di berbagai sistem operasi.

Di Bali, akademisi Universitas Udayana Cokorda Rai Adi Pramartha mengembangkan papan ketik khusus untuk aksara Bali dan mendapat tanggapan baik dari pemerintah dan masyarakat. Pembuatan produk ini merupakan jawaban atas tantangan dan peluang dalam pengembangan aksara Bali.

"Bukan hanya untuk orang-orang yang tinggal di Bali, mereka yang berada di luar Bali pun dapat belajar aksara Bali. Meskipun ada tantangan bahwa generasi muda Bali lebih menyukai bahasa Indonesia dan aksara Latin, pembuatan papan ketik dapat memberi peluang bagi siapa pun yang mau belajar aksara Bali. Lebih jauhnya, ini merupakan upaya agar komputer bisa mengenali teks beraksara Bali sehingga menghasilkan informasi yang tepat bagi pengguna,” kata Cokorda Rai.

Sementara, Ilham Nurwansah dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Jakarta mengatakan, dalam pengembangan aksara di dunia digital masih ada kendala, karena belum semua aksara tampil dengan baik dalam berbagai aplikasi. Hal ini karena belum ada keseragaman atau standar dari aksara tersebut.

Untuk menjawab masalah standardisasi tersebut, pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN), telah mengupayakan persetujuan usulan Program Nasional Perumusan Standar (PNPS) untuk beberapa aksara Nusantara sebagai kebutuhan mendesak di tahun 2021.

"Kita banyak budaya, tapi tidak didokumentasikan. Jadi ini sebagai salah satu dokumentasi nasional. Di ISO, misalnya ada aksara Bali, tapi tidak ada keterangan bahwa itu aksara milik Indonesia. Agar menjadi milik Indonesia, maka harus tertuang dalam standar nasional Indonesia, selain untuk kebutuhan digitalisasi," kata Mayastria Yektiningtyas.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA