Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

GAYA HIDUP

08 Juni 2021|21:00 WIB

(Agar) Tak Terjebak Kemudahan

Sebanyak 51% penduduk dewasa RI, atau setara 95 juta jiwa belum punya rekening bank

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageLayanan Paylater dari aplikasi uang digital OVO. Shutterstock/dok

JAKARTA – Teknologi yang kian maju memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan masyarakat modern. Tanpa perlu beranjak dari rumah, segala yang dibutuhkan bisa langsung terpenuhi. 

Dengan sentuhan jempol saja, semua masalah nyaris bisa teratasi. Mulai dari layanan transportasi, kirim dan antar-makanan, hingga belanja, bisa dilakukan dengan daring.

Namun, ada satu fenomena menarik yang tengah ‘naik daun’: layanan paylater. Fasilitas paylater ini memungkinkan penggunanya berbelanja sekarang, bayar belakangan. Asyik, bukan!

Fasilitas ini bisa membuat pengguna platform penyedia, membayar barang yang dibeli dengan metode cicilan tanpa kartu kredit. Ini jelas menggiurkan bagi mereka yang tidak punya kartu kredit, atau mereka yang ingin membeli sesuatu, namun kemampuan finansial terbatas.

Meti (26) adalah salah satunya. Menggunakan fitur paylater di platform Gojek, Meti mendapat jatah (limit) bertransaksi sebesar Rp250 ribu. Meski Meti tahu bisa membeli makanan enak dengan limit sebesar itu. 

Dia mengaku tak menggunakannya sembarangan, tentunya hanya menggunakan fitur ini saat tidak memiliki uang tunai.

“Biasanya pakai paylater untuk isi paket internet. Terkadang kalau sedang lapar juga suka pakai kalau uang tunai sedang kurang. Apalagi paylater bisa digunakan di banyak tempat dan untuk berbagai hal sehingga sangat memudahkan,” cerita Meti pada Validnews, Senin (7/6).

Meski jatah bertransaksi Meti terbilang kecil, sebagai pekerja lepas (freelancer) dia pernah kesulitan membayar paylater. Kala itu, Meti kehilangan beberapa pekerjaan akibat pandemi covid-19. 

Utangnya yang semula hanya Rp250 ribu bertambah Rp2 ribu setiap harinya hingga mencapai Rp300 ribu. Nominal Rp2 ribu per hari adalah denda yang dikenakan karena tak kunjung membayar tagihan.

Semenjak insiden itu, Meti jarang menggunakan fitur paylater.

Gloria (26) punya cerita senada. Awalnya, dia mengaku sangat terbantu dengan fitur paylater ini. Tergiur dengan kemudahan yang diberikan, pada 2019 lalu Gloria terbang ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk urusan mendadak dengan membeli tiket menggunakan fitur paylater Traveloka. 

Namun, tak lama ibu rumah tangga yang berdomisili di Kalimantan Timur ini mengaku kapok.  Bunga utangnya melambung. Harga tiket yang dibelinya sekitar Rp2 jutaan, harus dibayar Rp3,5 juta. 

Gloria sengaja memilih cicilan dengan tenor 12 bulan karena iming-iming bayaran bulanan yang lebih murah untuk pelunasan paylater tersebut. Namun ternyata, ketika dikalkulasikan harga yang dibayarkan jauh lebih mahal dibanding perkiraannya semula.   

“Waktu itu pakai untuk beli tiket pesawat ke Makassar pada 2019. Awalnya tidak tertarik tapi ingin coba-coba juga karena kebetulan sedang butuh juga sebab ada urusan di sana,” kata Gloria, Kamis (3/6).

Pengganti Kartu Kredit
Pasar paylater dan berbagai layanan non-bank memang cukup potensial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, ada 51% penduduk dewasa atau 95 juta penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank. Tidak tersentuh perbankan, artinya mereka tidak menaruh uang di bank, apalagi memiliki fasilitas kartu kredit. 

Perencana Keuangan Tatadana Consulting, Tejasari Assad, mengatakan sebenarnya fitur paylater hadir sebagai solusi alternatif untuk orang-orang yang belum memiliki kemampuan atau pantas mendapatkan kartu kredit. Tak heran kalau paylater sangat digemari. 

Umumnya, lanjut Tejasari, paylater digunakan orang baru kerja, anak-anak muda atau mahasiswa, meski tidak menutup kemungkinan orang dewasa lainnya. 

“Untuk buat kartu kredit seseorang harus bekerja dulu agar aplikasinya diterima oleh bank. Untuk mereka yang belum bekerja atau berpenghasilan atau yang menurut bank belum pantas mendapatkan kartu kredit, mereka harus pakai produk lain seperti paylater ini,” cerita Tejasari saat berbincang dengan Validnews, Kamis (3/6). 

Direktur Utama Akulaku Efrinal Sinaga mengatakan, paylater ramai peminat karena belum banyak masyarakat Indonesia yang terlayani bank, terutama di daerah di luar kota besar. Hal itu membuat mereka berusaha masuk ke layanan paylater untuk memenuhi kebutuhan berbelanja di marketplace.

Namun, bukan berarti siapa saja bisa menikmati fitur paylater. Penyedia layanan biasanya mengharuskan calon pengguna memverifikasi data dan profil. Ini dilakukan untuk mengantisipasi oknum-oknum nakal yang menyalahgunakan kartu identitas orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi.  

Mereka juga mengecek individu pengaju di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK untuk mengetahui apakah calon pengguna pernah atau ada masalah keuangan.

“Dengan sistem yang ada, kami akan melakukan perhitungan dalam waktu katakanlah tidak sampai 30 menit, untuk memberikan keputusan approve atau kita reject. Kalau kita approve, berarti kita berikan sejumlah fasilitas pengguna untuk berbelanja di marketplace yang telah bekerja sama dengan kami,” urai Efrinal Sabtu, (5/6).


Akulaku memberi limit transaksi mulai dari Rp3 juta hingga Rp25 juta. Sementara Gojek menawarkan limit paylater yang lebih rendah, sekitar Rp100 ribu sampai Rp1,3 juta. Besaran limit bergantung pada seberapa besar penghasilan penggunanya. 

Untuk nasabah baru, biasanya Akulaku memberikan nilai limit terkecil. Ketika sudah berjalan dan pembayaran lancar, barulah mereka akan menaikkan limit pengguna. Begitupula dengan Gojek, meskipun saat ini mereka menawarkan atur limit paylater sendiri. Seperti pinjaman pada fintech, kenaikan nominal pinjaman akan berjenjang naik berdasar track record peminjam membayar. 

Perilaku Konsumtif dan Ketergantungan
Sayangnya, kemudahan meminjam ini tidak didominasi mereka yang ingin menggunakannya untuk berusaha. Banyak pengguna paylater lebih berperilaku konsumtif. 

Dikutip dari Kajian Pustaka, perilaku konsumtif adalah tindakan individu sebagai konsumen untuk membeli, menggunakan, atau mengutamakan barang atau jasa secara berlebihan, tidak rasional, menimbulkan pemborosan dan hanya mengutamakan keinginan atau kesenangan. 

Perilaku konsumtif biasanya dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau manfaat dari barang. Konsumsi hanya dilakukan untuk memperoleh pengakuan sosial, mengikuti mode, atau kepuasan pribadi. 

Psikolog Mira Amir menjelaskan, fitur paylater sangat memungkinkan terdorongnya perilaku konsumtif. Apalagi penggunanya kebanyakan anak muda. Mereka jadi lebih mudah bertransaksi dan berutang. Tekanan sosial melalui paparan media sosial membuat pengguna lebih tak berpikir panjang risiko dan prioritas kepentingan.

“Bisa saja anak-anak muda ini melihat gaya hidup orang lain di media sosial. Seperti influencer, artis, atau teman-temannya yang kelihatannya gaya hidupnya enak banget. Muncullah istilah BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita),” tukas Mira, Minggu (6/6).

Jika tidak dikendalikan, lanjut Mira, paylater bisa menimbulkan efek ketergantungan dan kebiasaan pada penggunanya. Jadi, alih-alih orang menabung dan berinvestasi, mereka akan lebih memilih berutang bahkan dengan komitmen jangka panjang. Hal ini akan memengaruhi kondisi keuangan mereka dan mencederai keuangan di masa depan.

Perencana Keuangan dari OneShildt, Budi Raharjo CFP, memaparkan kalau kondisi keuangan sudah ‘cedera’, perlu waktu untuk perbaikan. Setidaknya satu hingga dua tahun agar bisa pulih. 

Belum lagi kalau sampai kehilangan aset. Karenanya, masyarakat harus mempertimbangkan masak-masak dalam setiap keputusan keuangan. 

Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan sebelum menggunakan paylater: tahu tujuan penggunaan, pelajari kemampuan membayar, dan pelajari biaya-biaya lain seperti bunga dan administrasi. Berbagai perencana keuangan menyerukan senada. Mengabaikan ketiga hal tersebut sama saja membuka kemungkinan terjadinya gagal bayar dan harus berurusan dengan debt collector.

“Kalau tidak ada pengelolaan risiko hutang, kita berurusan dengan debt collector. Kalau pinjaman berulang, tidak memiliki sumber dana, lalu mencari sumber lain untuk bayar hutang. Jadi, deh, utang tutup utang, itu yang berbahaya. Ini bisa terjadi baik di kartu kredit maupun paylater,” jelas Budi, Sabtu (5/6).

Tidak Melulu Negatif
Konsumerisme tak melulu menjadi efek penggunaan paylater. Kemudahan yang ditawarkan, bisa bermanfaat jika ditujukan untuk kegiatan produktif. Misalnya, untuk modal bisnis atau memperbaiki cashflow pebisnis.

Direktur Utama Akulaku Efrinal menambahkan, pengguna paylater di perusahaannya didominasi pembelian gawai. Akan tetapi, ia tidak menafsirkannya sebagai bagian dari konsumtif. 

Sebab, gawai kini merupakan sarana produktif bagi mayoritas masyarakat. Ponsel atau laptop bisa digunakan untuk keperluan bisnis atau bekerja. 

“Contoh kawan-kawan di Gojek, mereka membeli handphone bukan untuk konsumtif karena itu mendukung pekerjaan mereka. Bahkan bagi karyawan pun sekarang handphone banyak digunakan untuk kerjaan, meeting, zoom, dan lainnya. Begitu juga dengan pengusaha UMKM yang menggunakan gadget untuk mengunggah dagangan mereka,” papar Efrinal.

Ke depannya, Efrinal berharap infrastruktur di Indonesia dapat merata sehingga lebih banyak daerah lagi yang bisa dijangkau marketplace dan merasakan manfaat dari paylater. Namun begitu, Efrinal mengakui perlu edukasi keuangan dan teknologi di masyarakat lebih gencar. 

Pasalnya, belum semua masyarakat melek akan teknologi. Masyarakat yang tidak mengerti teknologi rentan dimanfaatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kadang kami temukan nasabah yang memberikan OTP ke oknum-oknum. Jadi kesadaran seperti itu masih minim sehingga literasi seperti ini perlu terus kita galakkan,” tutupnya. (Gemma Fitri Purbaya/ Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA