Selamat

Minggu, 13 Juni 2021

SENI & BUDAYA

03 April 2021|18:00 WIB

Wajah Kekinian Film Kita

Kejayaan film Indonesia diyakini bisa berulang
ImagePengunjung menyaksikan pemutaran film dari dalam mobil saat kegiatan Drive-In Senja di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Badung, Bali, Selasa (22/12/2020). Bioskop drive-in tersebut diselenggarakan sebagai hiburan alternatif bagi masyarakat di tengah pandemi COVID-19 sekaligus sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata Pulau Dewata. ANTARAFOTO/Fikri Yusuf

JAKARTA – Jemari Helmy menari-nari di atas tuts piano. Setelan jas ia kenakan, lengkap dengan dasi kupu-kupu. Kumisnya menggelayut di atas bibir, yang sesekali mengumbar senyum. Sambil bernyanyi, matanya mencuri pandang ke arah Siska. Malam itu, hatinya sedang runtuh karena Leo.

Kepiawaian Helmy mengolah nada piano dan merayu, membuat Siska sontak jatuh hati. Padahal, apa yang dilakukan Helmy adalah palsu.

Helmy merupakan sosok laki-laki licik, miskin, tapi ambisius. Langkah Helmy mendekati Siska hanyalah persoalan harta. Dalam benaknya, boleh lahir dari kemiskinan, namun mati dalam keadaan miskin bukan pilihan.

Dengan segala tipu dayanya, mereka akhirnya menikah. Kisah rumah tangga kedua insan itu disuguhkan Teguh Karya dalam film Badai Pasti Berlalu yang dirilis pada 1977 silam.

Slamet Rahardjo lah yang berperan sebagai Helmy. Sementara, Siska diperankan oleh Christine Hakim. Leo sendiri ialah Roy Marten. Ketiga aktor kawakan itu bermain sangat apik.

"Di film Badai Pasti Berlalu tidak ada buka paha, tidak ada buka dada. Film Indonesia dipercayai kembali, tapi sudah telanjur ada imej bahwa film Indonesia itu porno," kenang Slamet soal film ini, saat berbincang dengan Validnews, Selasa (30/3).

Badai Pasti Berlalu menjadi pembeda. Sebab, pada tahun-tahun itu, industri film Indonesia mulai dihiasi adegan-adegan dewasa. Padahal, sebelum film-film 'panas' menghiasi layar bioskop, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil film yang berkualitas, penuh pesan dan nilai.

Laki-laki kelahiran 1949 itu ingat betul, bagaimana kehebohan masyarakat negara lain ketika ia berkunjung ke luar negeri. "Saya ingat ke Bangkok, saya lihat bagaimana orang Bangkok nonton film Pengantin Remaja. Kami oke banget jalan ke Singapura, ke Malaysia," ujar Slamet.

Bagi Slamet, film Indonesia mencapai masa kejayaannya pada periode 1970–1980. Film dengan beragam genre dan jalan cerita, silih berganti menjadi tontonan. Kebutuhan pasar belum benar-benar menjadi acuan.

Namun, jalur distribusi menjadi cikal bakal merosotnya industri film Indonesia. Dikutip dari laman resmi Universitas Kristen Satya Wacana, Jumat (2/4), monopoli peredaran film dilakukan oleh adik Presiden Soeharto, Sudwikatmono. Selain itu, konstelasi politik internasional juga sedikit banyak berdampak terhadap industri film nasional.

"Tiba-tiba film Indonesia dikuasai oleh orang-orang yang nyari duit. Makanya mulai lahirlah film sekwilda alias sekitar wilayah dada. Film terbuka-buka begitu," ujar Slamet sambil tertawa.

Celotehan macam sekwilda dan bupati alias buka paha tinggi-tinggi, menjadi bahan candaan para sineas atas fenomena yang terjadi pada akhir 1980. Parahnya, negara tetangga, Malaysia, sempat memberikan imbauan agar warganya tak menonton film bikinan Tanah Air.

"Jadi orang Malaysia yang tadinya menghormati memberikan amaran kepada masyarakatnya jangan nonton film Indonesia, tidak bermoral," tukas Slamet.

Dia memang sangat mengagungkan masa keemasannya. Era di mana film nasional membesarkan namanya. Kendati demikian, Slamet tak menutup mata bahwa belakangan ini film-film Indonesia juga patut dibanggakan.

Meski pemeran utama terbaik Piala Citra pada 1975 dan 1983 itu beranggapan, industri film Indonesia saat ini tergantung sangat pada pasar. Jangan pernah terkejut jika produksi film dalam kurun waktu yang sama, hanya akan dihiasi dengan cerita-cerita yang mirip.

"Kalau satu film horor laku, ya horor semua. Kalau film komedi laku ya komedi semua. Kalau film keluarga laku ya film keluarga semua. Nah, di sini masih kesulitan kita," ujar Slamet.

Kakak dari budayawan cum politisi Eros Djarot itu mengatakan, harusnya ekosistem film bisa terus mengepakkan sayapnya. Apalagi dengan segala rupa teknologi yang mengiringi proses pembuatannya. Sementara pada zaman dulu, sineas harus hidup dari keterbatasan.

Slamet mencoba menjabarkan perbedaan antara industri film kuno dan modern. Film Pengabdi Setan dijadikan sebagai perumpamaannya. Jika film horor digarap pada tahun 70-80-an, tak akan sebaik film garapan Joko Anwar itu

"Zaman dulu kalau bikin film setan cuma pakai seprei. Pakai seprei nongol di jendela pakai asap. Artinya kini istimewa," ujar Slamet diakhiri tawa.

Sutradara Terbaik di Piala Citra 1987 itu mengungkapkan, perubahan adalah sesuatu yang pasti dan tak bisa dibendung. Perubahan-perubahan itu akan membawa kepada seleksi alam, pun dengan industri film. Penonton diyakini tahu apa yang dipilih.

Menyoal kondisi film di Tanah air saat ini, dia percaya akan terus tumbuh. Optimisme itu hadir, karena ia melihat realita di lapangan. Masih banyak film-film bermunculan. Bahkan yang berasal dari suatu daerah dan menggunakan bahasa daerah itu.

Film Pendek di Kancah Dunia
Apa yang dikatakan Slamet sebenarnya tak sepenuhnya mengawang-awang. Juan Aldisya adalah bukti terdekat yang bisa kita saksikan.

Film pendek pertamanya bisa lolos seleksi di salah satu festival film pendek, yang dihelat di Inggris.

Pada 9 Juli 2020, menjadi tanggal yang akan dikenang dengan suka cita oleh Juan. Film Nostalgi yang dibuat dengan segala keterbatasan, bisa menembus Official Selection di The Lift-Off Sessions Lift-Off Global Network.

Belum reda segala keceriaan itu, kesenangan kembali menghampiri Juan. Sepekan kemudian, karyanya kembali menembus tahap Official Selection untuk kali kedua. Setelah Lift Off Sessions, Nostalgi berhasil meraih tempat di First Time Film Makers Film Festival, Inggris.

Bukan cuma di dua festival itu, di HECare (The International Human Environment Care) Film Festival, Canada dan Kolektif Film, Jakarta, film garapannya juga masuk ke dalam jajaran kategori Official Selection.

"Official Selection sama panitia dikurasi. Setelah itu baru juri nilai dan masuk nominasi, tinggal best of the best," tutur laki-laki berusia 23 tahun itu ketika berbincang dengan Validnews, Kamis (25/3).

Nostalgi memiliki daya magis bagi Juan. Di antara empat penghargaan Official Selection, Nostalgi juga diganjar penghargaan lain. Film berdurasi 15 menit itu berhasil masuk ke dalam nominasi di Indiskop Short Movie Festival Jakarta, Indonesia pada Agustus 2020.

"Di Indiskop ini masuk nominasi 6 besar. Jadi di antara 350 itu dikurasi jadi 35, dikurasi lagi jadi 15 dan Nostalgi masuk 6 besar. Awarding show-nya ditayangin di NET TV. Itu momen yang akan aku kenang terus seumur hidup," ujar Juan.

Mahasiswa semester 4 di Jogja Film Academy itu mengaku tak pernah membayangkan bisa mendapat apresiasi, apalagi di kancah internasional.

Nostalgi sendiri bercerita tentang dua anak manusia yang berjuang di atas bumi. Kisahnya mengambil latar pandemi yang mengancam kelangsungan hidup siapa saja yang ada.

Dalam Nostalgi, pandemi mengubah banyak hal. Di tengah serba ketidakpastian, perang dan penjarahan di mana-mana, membuat Dirman dan Ginting, tokoh 'Nostalgi', berupaya mencari tempat yang nyaman untuk melanjutkan hidup.

Tak Terhalang Keterbasan
Pembuatannya diawali dengan keterbatasan dan pesimistis. Ia menggarap Nostalgi di Purwokerto, sebuah kota kecil di Kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Menghidupkan ide dan gagasan di tempat kecil menjadi persoalan bagi banyak orang, termasuk Juan. Selain faktor peralatan, fasilitas pendukung lain seperti aksesoris untuk setiap adegan film menjadi barang langka.

"Nostalgi di atas ekspektasi. Delapan orang, termasuk talent, kesulitannya gimana harus bikin film yang proper. Mau enggak mau, kami harus double jobdesk-lah, ada yang triple. Dengan kekurangan-kekurangan alatnya jugakan," ujar Juan.

Atmosfer optimisme yang digelorakan Juan tergambar di Kota Yogyakarta. Di wilayah ini, setiap minggu itu bakal ada garapan film pendek, sebulan bisa sampai 3-4 kali.

Tak hanya di Kota Gudeg, menjamurnya komunitas film juga terjadi di berbagai daerah. Dengan adanya komunitas, artinya kehidupan film pendek di akar rumput bisa terus terawat.

Juan merasa, napas film pendek di Indonesia semakin panjang usai film 'Tilik' viral pada Agustus 2020. Film garapan Wahyu Agung Prasetyo, bercerita soal sekelompok ibu-ibu yang berniat menjenguk kepala desa yang dirawat di rumah sakit.

Di sepanjang perjalanan di dalam bak truk, Bu Tejo, Yuning dan ibu-ibu lainnya terlibat sebuah obrolan. Menggunjing lebih tepatnya. Bu Tejo secara serampangan melontarkan beragam tuduhan kepada Dian, seorang kembang desa di lingkungannya.

Gadis itu menjadi primadona karena parasnya yang menawan, sehingga membuat para laki-laki gemar memandangnya. Cara Bu Tejo melayangkan dugaan kepada Dian menjadi hal menarik perhatian warganet.

Film yang mengambil latar tempat di Bantul dan Sleman itu, sebenarnya sudah diproduksi sejak 2018. Namun, masyarakat baru bisa menonton setelah secara legal diunggah ke YouTube pada 17 Agustus 2020. Film berdurasi 30 menit itu pun Viral. Sejak pertama diunggah hingga Jumat (2/4), Tilik telah ditonton lebih dari 25 juta kali.

"Biasanya kalau biasa main di sirkuit festival, menang festival, terus bisa ngobrol sama yang lebih senior. Nah viral ini jadi sesuatu yang abstrak," ujar sang peracik Tilik, Wahyu kepada Validnews, Kamis (25/3).

Kata Wahyu, suka cita itu hadir karena belum pernah ada yang merasakan momen viral dari kacamata film pendek. Terselip rasa haru di antara banyak rasa. Wahyu lega karena akhirnya film pendek ternyata bisa dilihat banyak mata, diapresiasi di atas ekspektasi.

Penghargaan Adalah Bonus
Menurutnya, apa yang diperoleh Tilik belum tentu bisa diperoleh oleh film lain, pun dengan karyanya yang lain. Bagi laki-laki yang kini berusia 28 tahun itu, Tilik dan filmnya yang lain memakai metode 'coba-coba'. Tentu saja metode itu melalui riset dan pengamatan.

Wahyu mengaku selalu mengamati banyak hal di sekitarnya. Obrolan-obrolan orang di angkringan, kehidupan para petani, bagaimana manusia membicarakan manusia lain. Hal-hal semacam itu ia serap, lalu Wahyu tuangkan dalam bentuk gagasan.

Ditarik ke belakang, sineas muda ini sudah nyemplung ke dalam dunia film pendek sejak 10 tahun lalu. Film pertama yang ia buat, dibikin tanpa pengetahuan mendalam. Sama seperti Juan, keberuntungan pemula juga menghampiri Wahyu.

Film pertamanya menang dalam sebuah lomba. Hal itu menjadi penguat pondasi keyakinan Wahyu, bahwa hidup sebagai pembuat film merupakan takdir yang terbentang ke depan.

Di bawah naungan rumah produksi Ravacana Films, Wahyu melakoni hari-hari sebagai sineas. Tilik adalah film keenam Wahyu, lima judul film pendek lainnya yakni Mak Cepluk, Nilep, Singsot, Kodok, dan Anak Lanang. Dari film-film itu, berbagai penghargaan direngku Wahyu,

Wahyu tak pernah muluk-muluk ketika berkarya, baginya membuat film harus bagus, masalah penghargaan adalah bonus. Suntikan energi yang ia pakai untuk terus hidup di atas dunia film.

Ada beberapa penghargaan yang bakal ia ingat seumur hidup, yakni dari sebuah festival film di Australia, Outstanding Achievement dalam Indonesian Film Festival (IFF) Australia ke-14 dalam Short Film Competition. Kemudian festival film di Genewa, dan Piala Maya 2018. Semuanya dianggapnya sebagai bonus berkarya.

Wahyu mengaku senang dengan ekosistem film pendek di Indonesia saat ini. Tak hanya di Jogja, sineas-sineas film pendek, kata Wahyu, bermunculan dari berbagai daerah di Indonesia, Seperti dari Purbalingga, Palu hingga Makassar. Namun, pertumbuhan itu terhambat oleh pandemi covid-19 yang melanda dunia.  

Di sisi lain, Wahyu merasa orang-orang yang ada di dalam dunia film pendek masih memiliki pekerjaan rumah yang besar. Yakni mendekatan film pendek ke masyarakat. Dia tak menampik kalau selama ini film pendek hanya dikonsumsi secara eksklusif oleh mereka-mereka yang ada di dalam ekosistem film pendek.

Selain itu, luas dan beragamnya orang-orang yang ada di Indonesia juga menjadi tantangan. Film pendek yang dibuat dengan faktor kedekatan tak bisa menjangkau semua wilayah di Indonesia. Semisal film Tilik yang hanya memiliki kedekatan dengan budaya di Jawa.

"Menurutku, Indonesia itu kenapa sulit menemukan identitas filmnya karena kita memiliki beragam identitas budaya dan bahasa. Nah, di situ ada sisi justru semakin kuat Indonesia punya potensi-potensi lain," ujar Wahyu. (Muhammad Fadli Rizal)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA