Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

VISTA

01 April 2021|11:04 WIB

Pelindung Praktik Rukiah Agar Sesuai Muruah

Di tengah perebakan klinik-klinik pengobatan alternatif, dia berupaya memberi pemahaman kepada khalayak, agar mewaspadai praktik rukiah abal-abal.
ImageAhmad Junaedi, Founder Rumah Ruqyah Indonesia. Ist/dok

JAKARTA – Ustaz Ahmad Junaedi memasang kuping dengan saksama begitu Felicia—bukan nama sebenarnya—mulai berbicara. Dengan kusut, perempuan berusia 39 tahun itu bercerita tentang keadaan dirinya. Dari emosi yang kerap bergejolak, kesehatan sering menurun, dan kegagalan percintaan. Junaedi tekun menyimak.

Sejurus kemudian, Felicia meronta-ronta seraya berteriak, lalu tiba-tiba tak sadarkan diri. Saat itulah, Junaedi mulai menggunakan kebolehannya sebagai perukiah. Ia mulai merapal sekian larik ayat kitab suci. Bibirnya tidak berhenti komat kamit. “Sakiiiit”, lengking Felicia sambil terus bergerak.

Menghadapi keadaan itu, Junaedi tetap tenang. Ia percaya, teriakan itu bukan karsa Felicia, melainkan ulah jin yang bersemayam di dalam tubuh perempuan tersebut.

Felicia sendiri, sudah merasakan kejanggalan dalam dirinya sejak berusia 19 tahun. Imbasnya kemana-mana. Hal yang paling menyebalkan, ia berkali-kali gagal menikah bahkan saat hampir melakukan ijab kabul.

Kemudian, dia mencoba mengobati diri, dengan silih berganti mendatangi ‘orang-orang pintar’. Upaya itu dijalaninya hingga dua puluh tahun. Alih-alih pulih, Felicia malah semakin merasa aneh dengan dirinya. Ia gampang lelah, yang dipercaya, akibat pengaruh kuat jin dalam tubuh.

Lebih mengherankan lagi, Felicia mendadak merasa memiliki kekuatan supranatural, seperti mampu menerbangkan benda, atau mematikan lampu tanpa harus menyentuh. Ia juga tiba-tiba mahir memperbaiki barang-barang rusak.

"Menurut dia (Felicia) sudah dua ratus dukun yang didatangi," cerita Junaedi yang merupakan seorang perukiah kepada Validnews, di Rumah Ruqyah Indonesia, Cililitan, Jakarta Timur, Senin 29 Maret lalu.

Saat sudah mengantongi rentetan keluhan, Junaedi pun siap untuk siap merukiah Felicia. Di luar kebiasaan, ia menata lebih matang segala bekal karena bakal membereskan jin-jin yang bersemayam dalam badan perempuan itu.

"Itu jin dari dukun-dukun masuk ke dalam dirinya. Mungkin tujuannya mengobati, mau ngusir tapi malah jadi anak buah karena kalah (tingkatan)," ujar Junaedi.

Setelah berbulan-bulan menjalani terapi rukiah, misteri hidup Felicia seolah mulai tersingkap. Diawali dengan kedatangan seorang pria yang suka rela mengaku, pernah mengirim jin pengganggu padanya. Tentu bukan kabar yang begitu baik, namun cukup melegakan hati Felicia.

Pria yang mengenalkan diri sebagai teman dari kakak Felicia itu, merasa sakit hati ketika cintanya ditolak Felicia beberapa tahun lalu. Sebab kecewa mendalam, ia pun membalas Felicia dengan merasukkan guna-guna.

Setelah mengetahui semua itu, Felicia masih tetap melakukan terapi rukiah. Kesadarannya pun berangsur kembali sediakala. Kejanggalan-kejanggalan dalam tubuhnya kian terkikis, keahlian-keahlian mistisnya juga turut sirna. Felicia dikabarkan menikah setahun setelah rutin menjalani terapi.

"Semakin hari ada peningkatan kesadaran dan bisa mengontrol diri. Lebih dekat ibadah, mengaji akhirnya bisa. Kasus-kasus seperti ini memang perlu waktu ama," ujar Junaedi.

Kasus Felicia hanya satu dari sekian persoalan ‘aneh’ yang ditangani Junaedi.

Meski sebagian orang meragukan kemujaraban rukiah, cerita-cerita mengenai keberhasilannya juga tidak sedikit.

Kini, rumah-rumah penyedia rukiah menjamur di kota-kota besar antero Indonesia. Pamornya kian mentereng berkat pelatihan serta praktik yang kerap diadakan di masjid-masjid, bahkan sampai masuk kampus.

Seiring itu, bermunculan pula aneka ulasan tentang rukiah. Termasuk, pembahasan-pembahasan mengenainya di media sosial. Lihat saja di YouTube, sangat banyak tayangan yang mempercakapkan rukiah dari berbagai sisi. Bahkan pada 2017, rukiah dirujuk menjadi judul film Ruqyah: The Exorcism dengan jumlah penonton 435 ribu.

Terlepas dari keriuhan fenomenal itu, Junaedi meyakini, rukiah tak lebih hanya terapi pengobatan dengan cara-cara yang dianjurkan tradisi keagamaan. Yakni, melalui rapalan ayat-ayat, mengharap pertolongan Tuhan bagi hamba yang membutuhkan.

Rukiah, kata Junaedi, bermakna meminta perlindungan Yang Maha Kuasa, agar terhindar dari segala bentuk gangguan bangsa jin serta setan.

"Perukiah sejati itu tidak memiliki kemampuan instan (dan memakai jin). Mereka mengaji dan meyakini Al-Qur’an adalah mukjizat yang berpengaruh pada penyakit dan gangguan. Harus diyakini bahwa bukan rukiahnya yang menyembuhkan, tapi atas izin Allah. Ini terapi Al-Qur’an," tutur Junaedi.

Meluruskan Rukiah
Jurnal pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul “Ruqyah Syar'iyyah: Alternatif Pengobatan, Kesalehan, Islamisme, dan Pasar Islam” menyebutkan, ada dua jenis praktik rukiah, yaitu syar’iyyah dan syirkiyyah.

Rukiah syar’iyyah merupakan pengobatan melalui metode pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai tuntunan Rasulullah. Sementara, rukiah syirkiyyah merupakan pengobatan menggunakan ayat-ayat yang tidak dianjurkan Islam. Jenis ini mengarah pada kesyirikan karena mengharap pertolongan kepada selain Allah.

Junaedi termasuk perukiah jenis syar’iyyah. Ia menentang praktik yang mengarah pada kesyirikan. Keyakinan itu dipupuknya sejak mengenyam pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPA) cabang Universitas Imam Muhammad Ibnu Suud, di Riyadhm Saudi Arabia. 

Sejak kecil, Junaedi tidak asing dengan praktik-praktik penyembuhan seperti yang dijalaninya saat ini. Dia lahir dari keluarga yang dikenal mampu mengobati penyakit orang melalui tuntunan agama. Nenek Junaedi bahkan masyhur sebagai peracik obat-obatan herbal.

Latar belakang itu kuat memengaruhi, hingga sewaktu belajar di perguruan tinggi, Junaedi tertarik dengan materi mengenai rukiah.

Semasa kuliah itulah, ia memahami perbedaan antara rukiah sejati dan yang sesat. Pengetahuan tersebut yang membawa Junaedi pada kesimpulan, banyak praktik rukiah di Indonesia yang tidak berlandaskan syariat Islam.

Menurut Junaedi, pada pertengahan dekade 1990-an, bertebaran praktik rukiah yang menjanjikan kesembuhan dengan menggunakan bantuan jin. Hal itu tentu tidak diketahui para peminatnya. Nama ‘rukiah’ dicatut agar masyarakat percaya dengan kemanjuran ikhtiar itu.

"Dan itu bertentang dengan rukiah (yang sebenarnya). Di situ ada energi jin," cetus Junaedi.

Rukiah tidak dilakukan dengan tertutup, apalagi dalam ruang serba gelap, agar semua orang bisa menyaksikan prosesnya. Ritual lazim dimulai dengan wudhu, istigfar, berlanjut pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak ada syarat khusus, seperti dupa, kembang, atau sesaji.

Kemelencengan praktik ini bisa terendus lewat sisi-sisi upacaranya. Misalnya, seorang anak tiba-tiba sakit dan demam sehabis kencing sembarangan. Tak lama kemudian, ia mengalami kesurupan. Setelah dibawa ke ‘orang pintar’, si anak menjawab ingin kopi panas, makanan, bahkan rokok.

Permintaan tersebut sering kali dituruti. Padahal, kata Junaedi, tidak perlu.

"Misalnya dia datang ke orang pintar yang punya jin dengan tingkatan lebih tinggi, kelihatannya memang langsung sehat. Tapi itu salah, informasi soal gaib yang tidak benar dan jauh dari agama," ujarnya. 

Untuk meluruskan berbagai kekeliruan pemahaman terkait rukiah, Junaedi menerbitkan Majalah Ghoib pada Oktober 2002. Media itu menjadi corong Junaedi untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang seluk-beluk wacana gaib yang seusai ajaran Islam. 

"Kami ingin mengembalikan gaib itu akidah. Gaib itu adalah bagian dari prinsip dalam keimanan, maka tidak bisa dikatakan gaib itu berarti hantu," jelas Junaedi.

Pada masa tersebut, jumlah perukiah masih belum banyak. Mereka juga masih bergerak sendiri-sendiri tanpa memiliki klinik khusus. Namun, sejak kemunculan Majalah Ghoib dengan istilah rukiah syariah, praktik ini langsung tenar.

"Secara otomatis mengurangi orang pergi ke dukun. Dan orang yang datang ke dukun-dukun itu banyak sekali yang datang ke sini untuk taubat," kata Junaedi.

Istilah rukiah kian dikenal. Puncaknya, pada tahun 2006, sebuah stasiun televisi menyiarkan sinetron berjudul “Astagfirullah”. Tayangan itu mengangkat cerita nyata berdasarkan pengalaman praktik rukiah Junaedi.

Untuk menyambut ledakan minat masyarakat terhadap rukiah, Junaedi membuka klinik-klinik di beberapa kota besar. Seperti, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Medan, dan 11 daerah lain.

Dari situ, mulai banyak orang yang ingin belajar rukiah. Kemudian, berangsur-angsur bermunculan para perukiah baru, berikut klinik-klinik pengobatan tempat mereka berpraktik.

Mendompleng Rukiah
Seiring keterkenalan istilah rukiah, meruyak pula pihak-pihak yang ingin memanfaatkan keadaan. Tahun 2012, tutur Junaedi, menjadi masa yang paling ramai dengan fenomena itu. Para perukiah ‘abal-abal’ hilir mudik di televisi, mengaku-ngaku bisa menyembuhkan segala penyakit, sesuai syariat Islam.

Padahal menurut Junaedi, orang-orang itu bukan perukiah sejati. Pasalnya, mereka mengenakan tarif hingga ratusan juta untuk satu kali proses rukiah. Ada pula yang tetap tega menangani, hingga hatra si penyandang sakit, terkuras habis.

"Kami khawatir semakin hari orang menunggangi rukiah dengan cara yang salah. Banyak yang menggunakan nama rukiah padahal tidak sesuai dengan yang kita perjuangkan," ujar Junaedi.

Demi mengurangi risiko tersebut, Junaedi bersama almarhum Ustaz Arifin Ilham, mendirikan Asosiasi Ruqyah Syar'iyyah Indonesia atau Arsyi. Perhimpunan itu menjadi yang pertama mewadahi seluruh perukiah di Indonesia.

"Arsyi ini rumah para perukiah yang (sesuai) syariat. Biar memudahkan untuk mengidentifikasi rukiah yang benar dan tidak macam-macam,” lanjutnya. 

Pada masa awal, rapat koordinasi nasional Arsyi hanya dihadiri 80 orang. Seluruhnya sepakat, Arsyi menjadi induk perukiah Indonesia. Sekaligus pula, asosiasi itu menjadi benteng agar praktik rukiah tidak melenceng. Perukiah yang ingin membuka klinik pun harus mendapatkan persetujuan dari Arsyi dan mau diawasi.

Selain itu, Arsyi juga memberi sertifikasi kepada para perukiah. Untuk mendapatkannya, seseorang wajib mengikuti pendidikan rukiah yang tidak sebentar. Ada sejumlah ujian agar bisa lulus. Antara lain, tes peningkatan pengetahuan tentang keesaan Allah, pemahaman rukiah syariat, dan uji membaca Al-Qur’an. Kini, perukiah Arsyi sudah berjumlah lebih dari seribu orang.

Untuk membantu masyarakat agar tidak terjebak dalam praktik rukiah sesat, Junaedi dan Arsyi juga meluncurkan aplikasi Go-Ruqyah.

"Misalnya, ada pasien atau ada orang yang ingin di-rukiah di Surabaya, ketik saja di Go-Ruqyah ‘Surabaya’, nanti muncul nama-namanya. Nanti bisa klik nomor WhatsApp-nya langsung menghubungi ke perukiahnya," pungkas Junaedi. 

Kini, rukiah makin populer di Indonesia. Meski masih banyak yang meragukan praktik ini, namun tak memengaruhi jumlah orang yang mendatangi klinik Junaedi. Pada saat ramai, Junaedi bisa menangani ratusan pasien dalam sehari.

Junaedi bertekad, bakal terus menjaga rukiah agar sesuai syariat Islam bersama ribuan anggota Arsyi. Hal yang terpenting, jangan pernah meminta apapun, selain kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta kehidupan. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER