Mendorong Pengembangan Wisata Autentik Indonesia | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

27 April 2021|10:16 WIB

Mendorong Pengembangan Wisata Autentik Indonesia

Keunikan masing-masing desa bisa menjadi daya jual bagi wisatawan
Mendorong Pengembangan Wisata Autentik IndonesiaWarga berfoto dengan latar belakang dinding bermotif batik saat peluncuran Desa Wisata Pemberdayaan Batik di Kampung Neglasari, Kelurahan Cibuluh, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/8/2019). . ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/wsj. (ARIF FIRMANSYAH/ARIF FIRMANSYAH)

JAKARTA – Setiap daerah di Indonesia tidak ada yang seragam. Semua memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing. Itulah yang menjadikan Indonesia kaya. 

Dengan keberagamannya itu, menjadi potensi bagi masing-masing desa untuk mengembangkan dan menghadirkan produk unggulan yang autentik. Jika desa itu memiliki potensi alam, kembangkanlah wisata alam. Jika memiliki potensi budaya, kembangkanlah menjadi wisata adat dan budaya.

Salah satunya adalah Desa Wisata Penglipuran di Bali. Sebagai desa adat istiadat, daerah itu juga tersohor akan kebersihannya. Bahkan masuk dalam desa terbersih di dunia. Ini bisa menjadi "daya jual" bagi wisatawan, tak hanya domestik tapi juga internasional. 

"Dari potensi yang ada dapat memberikan nilai tambah, sehingga wisatawan memperoleh pengalaman berwisata yang memuaskan,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno dalam webinar bertajuk Memperkuat Ekonomi Indonesia Melalui Desa, beberapa waktu lalu. 

Nilai tambah yang dimaksud adalah sesuatu yang bisa dilihat, dilakukan, dipelajari, dan dibeli. Dengan nilai tambah ini, produk unggulan di desa wisata akan bertransformasi menjadi produk wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.

Pengembangan desa wisata merupakan langkah Kemenparekraf dalam hal pemenuhan indikator prioritas pembangunan kewilayahan pada RPJMN 2020–2024. Sandi menargetkan sebanyak 244 desa wisata bersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024.

"Desa wisata ini harus menjadi desa mandiri dari desa rintisan. Oleh karena itu, kita all out, sehingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif itu bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi kita dan menyejahterakan masyarakat," katanya.

Pada tahun 2020, Kemenparekraf telah memfasilitasi sertifikasi desa wisata berkelanjutan di 16 desa wisata. Sementara pada tahun 2021, Kemenparekraf akan menambah angka tersebut menjadi 52 desa wisata.

Dalam pengelolaan desa wisata rintisan menuju desa wisata mandiri, diperlukan SDM yang unggul. Oleh karenanya, pemetaan potensi kompetensi SDM di desa wisata perlu dilakukan.

Misalnya, potensi kompetensi SDM di bidang pariwisata bisa dilihat dari kemampuan dalam mengelola homestay atau menjadi pemandu wisata. Sementara pada bidang ekraf, kompetensi SDM dapat dipetakan dalam mengelola kuliner atau menjadi pengrajin kriya dan fesyen.

"Kita telah melakukan pemetaan kompetensi SDM di 67 desa wisata, tapi jumlah ini masih kurang, dan kita akan terus tingkatkan dengan kolaborasi. Sudah ada 14 asosiasi atau komunitas, dan 20 perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Kemenparekraf," ujarnya.

Setelah melakukan pemetaan SDM, Kemenparekraf memfasilitasi pelatihan berbasis kompetensi bagi SDM di desa wisata melalui up-skilling maupun re-skilling yang disesuaikan dengan kebutuhan pelatihan di desa tersebut.

Selain menciptakan SDM yang unggul, komponen yang diperlukan dalam kemajuan desa wisata antara lain atraksi, amenitas, aksesibilitas, serta aktivitas di desa wisata tersebut.

Jika seluruh komponen terpenuhi, urbanisasi masyarakat dari desa ke kota diharapkan dapat berkurang, karena banyak aktivitas ekonomi yang diciptakan. Selain itu, desa wisata dapat menjadi upaya dalam melestarikan dan memberdayakan potensi budaya lokal dan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di kalangan masyarakat. (Dwi Herlambang) 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA