Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

VISTA

06 April 2021|09:51 WIB

Gembala Anak Jalanan

Usai terentas dari kekelaman menggelandang di jalanan, dia mendatangi kawan-kawan senasib, seraya menawarkan rumah singgah, demi mencapai hidup yang lebih baik
ImagePendeta Rudi Bernadus Elkel . Sumberfoto: Ist/dok Deskripsi : Infografis Rudi Bernadus/Anak Jalanan/Pondok Pemulihan

JAKARTA – Pendeta Rudi Bernadus Elkel tidak mampu menahan air mata saat ingatannya berbalik ke masa lalu. Suaranya berangsur berat dan terbata-bata. Ada nada murung bernuansa penyesalan dalam setiap kalimat yang dituturkannya. Kental dengan logat Timur, dia mengisahkan bagian hidupnya yang tergelap.

Bermula dari jalanan Kota Madiun, Jawa Tengah tahun 2005. Rudi muda baru saja kabur dari rumah karena tidak tahan mendengar omelan sang ayah setiap hari. Hatinya memberontak. Tak ingin terbelenggu lebih lama, dia memilih hidup bebas di jalanan dan menyebut diri ‘anak punk’.

Usia Rudi baru 23 tahun saat itu. Pemikirannya masih polos, belum paham betapa keras kehidupan di luar rumah. Tanpa memiliki pekerjaan, sudah pasti membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Meski dijalani dengan bersama teman-teman senasib, tapi tetap saja tidak mudah. Setiap hari, rasa lapar dan dingin ubin emperan toko kala malam datang, terasa begitu menyiksa.

Untuk makan, Rudi dan kawan-kawan mengamen. Pecahan-pecahan rupiah yang terkumpul sekali waktu cukup untuk membeli nasi, kadang juga tidak. Sayang, ketika pendapatan melebihi harapan, Rudi dan kawan-kawan menggunakan uang lebih itu untuk membeli minuman keras. Mabuk panjang di malam hari hingga lupa diri. Namun, saat perolehan uang seret, Rudi harus mengacak-acak tempat sampah untuk menemukan makanan sisa orang lain.

“Saya merasakan betul betapa susah hidup di jalanan. Kalau saya ingat lagi saat ini, wah, sedih sekali rasanya. Tidak punya rumah, dipandang sebelah mata, dianggap biang masalah,” ucap Rudi kepada Validnews, Sabtu 3 April lalu.

Kini, cara Rudi memandang dirinya sudah berubah 180 derajat. Hari-hari kusam di jalanan tidak lagi membanggakan. Dia merasa sangat terberkati dengan hidupnya saat ini. Berstatus menikah dengan satu orang anak, sudah cukup jadi alasan untuknya bersyukur.

Namun semua tidak terjadi tiba-tiba. Gelar pendeta yang tersemat muka namanya menyimpan sejarah panjang. Ada kisah yang penuh pergulatan batin, sebelum dia menjadi pendeta dan mendirikan rumah singgah untuk memulihkan daya hidup anak punk jalanan di Kota Madiun.

Anak Jalanan
Dari lahir hingga SMP, Rudi tinggal bersama orang tua di Madiun. Masa kecil Rudi tak beda dengan kelumrahan anak-anak yang lain. Namun saat duduk di bangku SMP, dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap terlalu nakal. Rudi pernah tertangkap basah mencuri di sekolah.

Namun, perilaku tidak datang tanpa pemantik. Rudi mengaku jenuh akut dengan keadaan di rumah. Setiap hari, dia selalu menjadi bulan-bulanan kemarahan orang tua. Bahkan si ayah sampai memukul, akibat geram dengan kenakalannya.

Rudi yang putus sekolah, menghabiskan hari-hari dengan gaya hidup berantakan. Merokok, mabuk-mabukan, hingga seks bebas, semua dijamah. Pekerjaan apa saja dilakukan, asal menghasilkan uang. Mulai dari membengkel, menjual koran, sampai memperbaiki mesin jahit.

“Saya berpikir, hidup di jalanan itu bebas. Tidak ada yang mengatur-atur, bisa hidup sesuka hati. Saya pergi dari rumah karena sudah tidak tahan lagi dimarahi terus,” tutur Rudi.

Di jalan, dandanan Rudi mengikuti kelaziman anak punk: bertato, memakai pakaian sobek, menindik wajah, lengkap dengan rambut mohawk.

Saat malam, Rudi dan kawan-kawan berkumpul di satu sudut kota sembari mabuk-mabukkan. Bukan dengan minuman mewah, melainkan menenggak racikan bahan-bahan murah.

“Kalau enggak ada arak, Autan (obat nyamuk) campur kopi saya minum, atau alkohol dicampur sama Fanta (minuman bersoda) saya minum juga,” kisah Rudi.

Dalam keadaan setengah sadar itu, mereka pun melakukan tindakan-tindakan lain yang lebih mencemaskan. Mulai dari bernyanyi bising, sampai hubungan seks liar. Rudi menggambarkan, nyaris tak ada hari tanpa perilaku-perilaku itu.

Rutinitas tersebut dijalani Rudi selama kurang lebih tiga tahun. Rudi menyadari, hidupnya dan kawan-kawan terombang-ambing tanpa arah pasti. Anak-anak punk menggelandang, dan dipandang sampah oleh masyarakat.

“Saya pernah bilang ke saudara di jalanan, apakah iya akan selamanya hidup seperti ini?” katanya.

Pada tahun 2007, Rudi diajak sang kakak pulang ke kampung ke Kota Sorong, Papua. Tanpa pikir panjang, dia ikut saja. Pikirnya, hanya sebentar di sana, lalu pulang ke Madiun untuk kembali hidup bersama teman-teman di jalanan. Rudi pun bertolak ke Papua bersama kakak iparnya dari Surabaya.

Tidak ada yang menyangka, di bumi Cenderawasih itu, titik balik kehidupan dijelangnya.

Suara Tuhan
Rudi bukan orang yang religius. Dia sadar, sudah jauh dari Tuhan. Masuk gereja saja setahun sekali! Namun, setiba di Papua, sang kakak memaksa Rudi ikut beribadah ke gereja.

“Ketika orang-orang sedang bernyanyi untuk Tuhan, saya menangis tiba-tiba. Saya enggak tahu kenapa menangis. Saya juga heran, saya ini preman kok menangis,” ucap Rudi.

“Pendeta mengajak, ‘siapa yang mau didoakan, silahkan maju’. Saya begitu saja maju, lalu saat itu pendeta itu bilang, ‘kamu akan dipakai Tuhan’.  Saya bingung, saya kok dipakai Tuhan. Memang saya siapa? Saya ini rusak. Di situ saya menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil,” kenangnya.

Pada titik itu, Rudi merasa ada ‘suara Tuhan’ yang menghampiri. Sayang, sepulang dari gereja, Rudi kembali ke kebiasaan semula: menenggak minuman keras setiap malam.

Amarah kakaknya tambah meluap melihat pola hidup itu. Rudi kembali dipaksa untuk ke gereja. Kali ini Rudi dibawa ke unit Bengkel Manusia, tempat khusus pemulihan orang-orang yang telanjur hidup di luar jalan Tuhan.

“Satu bulan lamanya. Setiap hari saya didoakan, disampaikan firman-firman Tuhan. Selesai satu bulan itu, saya mulai bertobat. Saya berhenti merokok, berhenti mabuk,” kata Rudi.

Namun, ikhtiar itu lagi-lagi tak berdampak besar. Setelah ‘tobat’ yang tanggung itu, Rudi balik kebablasan. Ia merokok lagi, mabuk lagi, dan mulai berkenalan dengan gadis di Sorong.

Kakaknya makin geram. Akhirnya, diambillah keputusan, untuk membawa Rudi ke Sekolah Teologia Gereja Bethany, Sorong.

Rudi tak berkutik. Ia sadar telah mempermalukan keluarga dengan perilakunya selama ini. Didorong pengalaman samar-samar mendengar ‘suara Tuhan’ sebelumnya, ia memantapkan diri menerima kemungkinan kehidupan baru di gereja.

“Masuknya hari Minggu. Hari Sabtu malamnya, saya habiskan untuk minum, mabuk sepuas-puasnya. Besoknya, saya ke asrama. Masuk asrama saya benar-benar menyerahkan diri pada Tuhan. Saya sekolah satu tahun. Saya ambil doa puasa, baca firman Tuhan, saya menuruti semua ajaran-ajaran di sana,” timpalnya.

Satu tahun berada di sekolah teologia, Rudi berhasil menjalani masa pembelajaran tanpa kabur atau menjajal berbalik ke kehidupan lamanya.

Si Gembala
Selepas sekolah teologia, Rudi benar-benar menjadi sosok baru. Seperti terlahir kembali. Ia resmi menjadi pendeta dan bergabung dalam kepengurusan gereja.

Tahun 2010, Rudi diutus gereja untuk menyambangi Maluku. Dia merintis pendirian Gereja Kalvari Pentakosta Misi Indonesia (GKPMI) di Kepulauan Aru, Kabupaten Dobo, Maluku Tenggara. Dalam rentang tiga tahun, dimakmurkannya tempat ibadah itu. Dari tak ada jemaat, hingga ramai.

Suatu hari, Rudi bertemu seseorang yang memintanya kembali ke Madiun.

“Dia bilang, ‘ada sinar putih masuk tubuhmu. Doa kamu dijawab Tuhan’. Dia ajak ngobrol saya, dia bilang, ‘di sini (Papua) hanya tempat untuk proses kamu, cuma tempat kamu yang sebenarnya itu di Madiun’,” kata Rudi menirukan ucapan orang tersebut.

Ketika itu pula, Rudi teringat pada teman-temannya semasa menggelandang sebagai anak punk. Ia berencana menjumpai mereka untuk menawarkan hidup yang lebih baik. Akhirnya, tahun 2013, dia kembali ke Madiun.

Rudi memulai gerakannya dengan mendatangi Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA) Air Hidup Madiun. Di sana, dia bergabung sebagai bagian dari pengurus gereja. Saat Rudi mengajukan permintaan dana untuk program bantuan anak-anak jalanan, pihak gereja menyetujui.

“Lalu saya bertemu teman-teman jalanan saya. Lalu ngobrol, ‘ayo kita bikin perkumpulan teman-teman di jalanan’. Awalnya kita sebut Satuan Anak Jalanan Madiun, belum ada Rumah Singgah, mereka punya basecamp sendiri waktu itu. Saya di sana, ngobrol sama mereka, bawa makanan. Tiap Sabtu kita bikin pertemuan doa sama mereka,” tuturnya.

Mulai dari situ, Rudi menjelma Bapak Gembala bagi anak-anak jalanan di Kota Madiun. Ia mendampingi mereka memperbaiki diri. Rudi juga berhasil menggaet donatur yang bersedia membiayai sewa Rumah Singgah.

“Kita di sana menyebutnya Pondok Pemulihan. Kegiatannya seputar spiritual dan ekonomi. Ada pertemuan doa rutin setiap minggu. Lalu teman-teman juga berkarya, membuka usaha gorengan, menjual lukisan, sablon, ada juga bercocok tanam hidroponik,” jelas Rudi.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 25 anak punk dari jalanan yang menetap di Rumah Singgah. Mereka menjajal peluang ekonomi baru yang selama ini tak terpikirkan.

Rudi menyebut, tak mudah merangkul mereka untuk berkarya bersama di Pondok Pemulihan. Bahkan hingga kini, kata Rudi, masih belum semua anak-anak itu berhasil lepas dari gaya hidup urakan: mabuk-mabukkan dan seks bebas.

Sebagian dari mereka masih mengamen. Kadang, mereka masih membuat keributan hingga berurusan dengan polisi. Dalam kondisi ini, Rudi berperan sebagai orang tua yang selalu siap menghadapi setiap masalah anak-anaknya. Soal kebutuhan perut, Rudi selalu siap membagi gajinya untuk mencukupi mereka.

“Sebagian ada yang sudah lebih baik. Saya selalu ajarkan, mereka tidak harus melepaskan identitas punk mereka untuk pergi ke gereja. Mereka boleh berpakaian ala anak punk ke gereja, tidak ada masalah,” ucap Rudi.

Berbagai kegiatan positif digelar di rumah singgah. Antara lain, pentas musik yang menghadirkan berbagai komunitas punk. Lain waktu, di bulan Ramadan, mereka berinteraksi dengan masyarakat lewat kegiatan berbagi takjil.

“Respons masyarakat terhadap teman-teman ini sangat baik. Mereka mendukung kegiatan-kegiatan di Pondok Pemulihan karena tahu kegiatan kita itu positif,” tuturnya.

Langkah Rudi bersama Pondok Pemulihan hingga kini tidak berhenti. Pasang surut jumlah anggota, tidak jadi masalah.

Ke depan, Rudi bermimpi ingin membuka pintu Pondok Pemulihan bagi semua orang yang butuh berteduh, tidak hanya anak punk jalanan.

“Keinginan saya itu, suatu saat kami memiliki tempat yang lebih luas, yang permanen, yang bisa juga menampung lebih banyak orang, mulai dari tukang becak, orang-orang tak punya rumah, hingga yatim-piatu,” tutupnya. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER