Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

23 April 2021|21:00 WIB

Beriman Ala Majelis Preman

Para anak jalanan, preman pasar atau pecandu narkoba bisa hidup lebih layak, secara spiritual ataupun berbisnis
ImageSuasana pengajian Majelis Preman (Maprem). Validnews/Herry Supriyatna

JAKARTA – Sore itu, puluhan preman berkumpul di sebuah rumah berukuran 30x70 meter di Jalan Perdata I, Komplek Pengayoman, Kota Tangerang, Banten. Kedatangan mereka bukanlah untuk berbuat onar, namun untuk mengikuti pengajian rutin menjelang bulan puasa.

Ya, di sana mereka begitu khusuk mendengarkan si pemilik rumah, Gus Dayat, menyampaikan ajaran agama Islam. Gus Dayat dan sebagian jemaah tampak duduk setengah melingkar di sebuah pendopo. Sementara yang tak kebagian tempat, beramai-ramai duduk beralaskan tikar di dekat pendopo.

"Pak, seperti apa sih menjalankan ibadah puasa di zaman Nabi Muhammad SAW?" tanya Muhammad Petra Ismail memecah keheningan pendopo.

"Kurang lebih sama seperti yang kita jalankan saat ini. Tidak ada bedanya, memperbanyak ibadah," jawab Gus Dayat.

Petra memang ini tak lagi sungkan bertanya apapun pada Gus Dayat. Petra dan juga anak-anak lainnya sudah menganggap Majelis Preman (Maprem) sebagai ‘rumah’ untuk memperbaiki diri dan memohon ampun pada Sang Khalik.

Nama preman pada Majelis Preman sendiri sebenarnya pelesetan dari pengamen republik beriman. Maprem dibentuk Gus Dayat sejak bulan Juni tahun 2018 untuk merangkul para anak jalanan, preman, serta pecandu narkoba.  

Sementara, rumah Gus Dayat memang selalu terbuka buat para preman yang mau tobat. Bahkan, sebelum ide membentuk Maprem muncul, tempatnya tinggal sudah dijadikan tempat anak-anak punk, pengamen, dan para preman berkumpul. Masyarakat sekitar rumahnya sampai melabeli kegiatan mereka sebagai kumpulan preman-preman.

"Nama itu lah awal mula sebutan Majelis Preman. Kita senang-senang saja dianggap preman," kata pria 40 tahun tersebut sembari tersenyum ketika diwawancarai Validnews, Jumat (16/4).

Selain memperbaiki keimanan, tujuan berdirinya Maprem adalah membuat anak-anak jalanan, preman, dan pecandu narkoba memiliki hidup yang lebih baik dan bernilai di masyarakat. Kini, sekitar 470 anak-anak jalanan dan preman dinaungi Maprem.

Mereka tersebar di Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Depok.  Malahan sebanyak 20 anak Maprem tinggal di rumah sederhana Gus Dayat.

Walaupun harus hidup beramai-ramai, pria asal Tanjung Perak, Surabaya ini merasa tak terbebani. Dia justru ingin berbuat lebih dengan menampung ratusan anak jalanan lainnya. Namun apa daya, tak ada lagi ruang tersisa di rumahnya.

Gus Dayat juga tidak mengkhawatirkan bagaimana kebutuhan keluarga  dan 20-an anak jalanan di rumahnya bisa terpenuhi. Selama ini, untuk bertahan hidup, Gus Dayat menggunakan uang tabungannya yang dikumpulkan dari hasil penjualan batu akik. Hasilnya cukup menopang kehidupan mereka.

"Saya dulu punya batu cincin agak banyak dibanding kolektor lainnya. Saya punya koleksi batu akik sebanyak dua mobil pick up. Saya menjualnya saat masih digandrungi, sekitar tahun 2014. Saya dapat batu akik saat berdakwah keliling Indonesia," kata dia.

Belajar Mandiri
Gus Dayat juga ingin agar anak-anak Maprem dapat hidup mandiri. Satu orang, satu usaha. Upaya pertamanya dilakukan dengan membukakan tiga warung tembakau untuk anak Maprem.

"Sekarang kita sudah punya tiga tempat, di sini (rumah), Cimone, dan di daerah Sela Panjang. Rencananya mau buka di daerah Cilongok," terang Gus Dayat.

Bisnis jual tembakau kelontongan cukup menghasilkan. Baru sekitar 8 bulan beroperasi, perputaran uang sudah cukup terasa. Maprem bahkan sudah berani berpikir untuk membuka usaha baru, yakni resto atau kafe.

Uniknya, Gus Dayat sama sekali tak meminta bagi hasil atau keuntungan warung tembakau. Keuntungan sepenuhnya milik si penanggung jawab atau anak Maprem.

Hanya saja, ketika si penanggung jawab sudah bisa berusaha sendiri, maka akan ada anak Maprem lainnya yang menggantikannya. Dengan sistem bergiliran seperti ini, Gus Dayat berharap tak ada lagi anak-anak jalanan yang berprofesi sebagai pengamen, atau preman pasar. Dia ingin mereka hidup lebih layak, baik secara spiritual ataupun berbisnis.

"Masih banyak teman-teman di jalan menunggu untuk mendapatkan kesempatan yang sama (diberikan usaha). Kegiatan anak-anak sini sebelum gabung ke Maprem banyak, dari mulai malak, preman pasar, dan sebagainya," ucapnya.

Jadi Diri Sendiri
Usaha mengubah nasib para preman bukan lah hal mudah. Gus Dayat ingat betul bagaimana sulitnya menyadarkan anak-anak jalanan, di masa awal berdakwah di jalan pada tahun 2008. Penolakan selalu ada, bahkan kena hantam pun pernah.

Namun dia mengutamakan rasa belas kasih sayang, kepedulian, dan kepekaan. Apabila ada anak jalanan yang tak memiliki tempat tinggal, dia tak segan menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Bersangsur usaha ini diperhatikan para preman. Selanjutnya,  anak jalanan yang mau mendengarkannya berdakwah kian bertambah.

Penyadaran anak-anak jalanan dan preman diyakini Gus Dayat harus pelan-pelan. Dia yakin setiap manusia pasti akan mengalami titik jenuh, termasuk dalam melakukan hal-hal negatif. Titik jenuh itulah yang dimanfaatkan Gus Dayat untuk menyadarkan anak-anak jalanan. 

"Saya biarkan sampai titik jenuh. Ada yang berantem bawa parang. Sampai urusan ke kantor polisi, tapi tetap kita urusin. Nanti juga ujung-ujungnya nangis. Baru saya kasih nasihat," ucapnya.

Keputusan berdakwah di jalanan juga sempat mendapat tentangan dari keluarga.   Sebab Gus Dayat sampai harus mengubah penampilannya menjadi ala-ala anak punk demi dapat menyampaikan dakwah pada para anak jalanan

Ia juga selalu bilang ke anak-anak Maprem untuk menjadi dirinya sendiri saja. Anak-anak Maprem hanya perlu selalu melakukan hal-hal yang baik tanpa perlu mementingkan stigma terhadap penampilan mereka. 

Muhammad Fadholi yang biasa dipanggil Kutil, mengamini ini. Dia tidak lagi mementingkan lagi omongan nyinyir orang lain tentang penampilannya. Tato permanen memang sudah terlanjur terabadikan di sekujur tubuhnya sejak kelas 3 SMK.

Kutil mulanya anak jalanan yang kecanduan berat dengan narkoba. Dia mengaku, hampir semua jenis obat-obatan terlarang pernah dicobanya. Belum lagi kebiasaannya menenggak minuman beralkohol. Kutil merasa hidupnya tak bermakna. Uang hasil mengamen dan jualan pulsa habis sia-sia untuk narkoba.

Pada suatu ketika, dia jenuh dan memutuskan pergi ke Kota Tangerang untuk mencari tempat mengamen. Berbekal motor dan duit Rp80 ribu, dia meluncur ke Kota Benteng-julukan Kota Tangerang. Akan tetapi, alih-alih mencari tempat mengamen, Kutil tak sengaja bertemu dengan Gus Dayat di Jembatan Kaca.

"Tujuan awalnya nyari tempat ngamen di jalanan. Tapi gak sengaja ketemu Bapak (Gus Dayat) dan diajak tinggal di rumahnya. Lama-lama saya berpikir di sini adalah tempat untuk belajar," ungkap Kutil.

Kutil merasa nyaman di Maprem. Sebab dia sama sekali tidak pernah dipaksa berbuat kebaikan, apalagi dipaksa beribadah atau salat. Tahun-tahun pertama tinggal di Rumah Gus Dayat, Kutil malah masih mengonsumsi narkoba dan mabuk-mabukan.

"Awalnya masih kayak teman-teman yang lain, pulang dalam kondisi mabuk. Padahal bapak lagi menerima tamu, piring saya tendang," katanya.

Kutil mengaku baru benar-benar sadar dan meninggalkan kebiasaan buruknya itu setahun belakangan.  Perlakuan Gus Dayat yang menganggapnya bak anak sendiri juga menjadi unsur penguat dirinya untuk berubah. 

Sementara bagi Petra, Maprem merupakan tempat menangis ketika menyesali hidup. Sebelum bergabung dengan Maprem, pria asli Papua itu bekerja serabutan. Kadang dia jadi MC, pemain teater, stand up comedian, hingga model video klip. Namun penghasilannya lebih banyak dihabiskan untuk mabuk-mabukan.

Mulanya Petra minder masuk ke Maprem. Dia takut ada stigma yang menyasar ke dirinya karena kebiasaan mabuknya. Namun, ternyata dia mendapat banyak hal menarik. Bahkan di Maprem dia mendapatkan keahlian baru sebagai barista.

"Bapak (Gus Dayat) menitipkan saya ke kedai kopi untuk diajarkan sebagai barista dengan gaji seikhlasnya," kata Petra.

Dia akhirnya menyadari, menjadi bagian Maprem tak melulu soal teori belajar agama. Maprem lebih banyak mengajarkan bagaimana cara menjalankan hidup di masyarakat dengan baik dan sesuai ajaran Tuhan.

"Maprem adalah cahaya dalam hidup saya. Menjadi bagian Maprem adalah suatu anugrah," kata pria yang sering dipanggil betap (Betawi-Papua) itu. (Herry Supriyatna)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA