Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

WIRAUSAHA

31 Mei 2021|18:37 WIB

Untung Berlapis dari Produk Berhias Tapis

Tapis awalnya tak banyak dikenal, bahkan oleh orang lampung sendiri karena harganya yang mahal. Peluang usaha pun terbuka dengan menjadikan Tapis sebagai hiasan di berbagai aksesori

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Nadya Kurnia

ImageSalah satu produk Bee Collection berupa totebag yang dikombinasikan dengan tenunan Kain Tapis. Bee C ollection/Dok

JAKARTA – Anda tahu tapis? Bukan, bukan, kalau jajanan dari beras ketan yang dikukus dan diberi siraman gula merah dan parutan kelapa itu namanya, lupis.

Tapis di sini adalah salah satu kain warisan budaya dari Pulau Sumatra, lebih tepatnya Lampung. Mengutip laman Dinas Pariwisata Lampung, tapis dijelaskan sebagai kain wanita berbentuk sarung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif alam flora dan fauna.

Produk tekstil tradisional ini tergolong mewah. Betapa tidak, kain ini dipercantik dengan sulaman yang menggunakan benang emas dan perak. Teknik sulamnya dilakukan dengan cara sulam cucuk.

Umumnya, tapis dipakai oleh wanita dari suku masyarakat adat Saibatin dan Pepadun. Artinya, dahulu kala kain tapis digunakan oleh wanita Lampung di pesisir dan pedalaman.

Kain ini dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga dan muli-muli (gadis) dalam waktu senggangnya. Tujuan memenuhi untuk memenuhi kebutuhan adat istiadat yang dianggap sacral. Asal tahu saja, kain tapis merupakan salah satu bagian penting dalam keseluruhan pakaian adat.

Sayangnya, karena keekslusifannya, banyak warga Lampung yang justru tidak mengenal, apalagi menggunakan tapis. Salah satu alasannya adalah harga tapis yang mahal sehingga produk ini hanya dikenal oleh kalangan terbatas yakni mereka dengan golongan ekonomi menengah ke atas.

Coba saja harga Tapis di mesin pencari online atau marketplace. Anda akan melihat beragam harga yang rata-rata dibanderol di atas Rp1.000.000/kain.

Melihat fakta ini, seorang perempuan bernama Putri Mei Maharani pun mencoba mendobraknya. Dia mengaku prihatin, saat tahu banyak warga di sekitar tempat tinggalnya, yakni Kota Metro, Provinsi Lampung, tidak mengenal Tapis.

“Dulu di sini itu terutama di daerah Lampung tempat saya tinggal itu belum kenal sama yang namanya tapis. Walaupun masih di wilayah Lampung, ternyata tidak semua warga kabupaten-kabupaten di Lampung kenal sama yang namanya tapis dan menggunakannya,” terang Putri kepada Validnews, Senin (31/5).

Merasa ada peluang usaha yang bisa dilakukan, Putri yang kala itu baru menginjak usia 21 tahun dan masih aktif berkuliah ini pun mencoba menjajal memperkenalkan tapis, dengan membuat produk hijab menggunakan tapis. Ia yakin, tapis bisa diperkenalkan ke golongan masyarakat yang lebih luas dan beragam. Intinya, menjadikan kain mewah itu inkusif.

Supaya mudah dikenal dan terjangkau bagi banyak golongan masyarakat, Putri menciptakan produk yang harga jualnya tidak terlalu mahal. Ia mengombinasikan beragam jenis kain dan bentuk produk dengan tapis asli sebagai aksen. Hijab tapis seharga Rp50.000–60.000 pun berhasil dirilis dan laku di pasaran mulai 2017.

Melihat animo masyarakat yang bagus terhadap produk hijabnya, Putri bisnisnya merambah ke ragam produk lain, mulai dari baju, setelan pakaian, tas, sepatu, hingga aksesoris seperti gantungan kunci.

“Dulu tapis dikenalnya oleh kalangan orang tua saja. Sekarang muda-mudi juga kenal Tapis. Bentuknya sudah menyesuaikan kebutuhan, seperti dijadikan totebag hingga outer seperti blazer. Mereka bisa pakai untuk ke kampus,” ungkap perempuan 25 tahun tersebut.

Jiwa Entrepreneur
Asal tahu saja, usaha berbahan tekstil tradisional yang Putri namai Bee Collection ini, rupanya dirintis dengan modal Rp600.000 dari uang hasil menang arisan. Pada tahun pertama menjalankan usaha, ia sudah dapat mengantongi keuntungan Rp500.000–1.000.000 per bulan.

Putri yang kala itu masih menjadi mahasiswa, meluangkan waktu liburnya untuk menjahit dan membuat produknya sendiri. Saban akhir pekan, ia menghasilkan hijab-hijab dengan sentuhan Tapis yang kemudian dipasarkan ke orang-orang terdekat kenalannya.

“Dulu, semua masih tenaga sendiri yang mengerjakan barang. Jadi modal sedikit sudah cukup,” tandasnya.

Hasil penjualan yang ia dapat, diputar lagi untuk belanja modal dan menghasilkan produk yang lebih beragam. Seiring berkembangnya bisnis tapis ini, Putri pernah mencapai titik tertinggi penjualan sampai sekitar Rp1.000.000 per hari. 

Kala itu, sekira 2018, Putri membuka toko luring yang ternyata mampu meningkatkan penjualan hingga mencatatkan untung Rp3–5 juta per bulan. Toko di daerah Bandar Lampung tersebut ternyata cukup strategis, didukung oleh minat dan daya beli masyarakat yang besar.

Mulanya Putri sendiri yang menjalankan bisnisnya. Namun kini, ia berhasil mempekerjakan orang lain. Tiga orang karyawan tetap dibayar untuk mengelola cabang. Lainnya, ibu-ibu rumah tangga di sekitar yang dikerahkan saat banyak pesanan.

Pertumbuhan bisnisnya ini Putri akui turut dipengaruhi oleh bantuan jaringan reseller yang menciptakan pasar lebih luas lagi. Saat ini, reseller Bee Collection sudah mencapai sekitar 40–50 orang. Semakin bertambah anggota grup WhatsApp penjualan produknya, semakin meningkat barang diproduksi dan omzet didapat.

Jadi Merakyat
Untuk memperluas pasarnya, Putri mengubah stigma Tapis yang mahal dan eksklusif menjadi lebih merakyat. Ia membeli tapis langsung dari pengrajin untuk memperoleh harga yang lebih terjangakau.

Untuk mereduksi harga, Putri mengaku juga tidak menggunakan tapis utuh, melainkan mengambil bagian motif khasnya sedikit-sedikit yang dikombinasikan ke barang yang akan diproduksi.

“Jadi di situ kita enggak terlalu banyak material. Cuma visual simbolisnya kelihatan kalau ini Tapis Lampung gitu,” imbuhnya.

Menurutnya, hal yang membuat Tapis Lampung berbanderol mahal adalah masa pengerjaannya yang lama di tingkat pengrajin atau penenun. Bahan yang menjadi barang modal tenunannya juga bukan sembarang benang, melainkan emas dan perak yang harganya terus saja meningkat.

Untuk menekan harga produksi, produk-produk Bee Collection pun lebih banyak memilih tapis berbahan perak yang harganya lebih terjangkau dibandingkan emas.

Namun, bukannya tanpa kendala. Ia mengaku, usaha yang dijalankannya ini sebetulnya agak tricky, mengingat jumlah pengrajin tapis yang saat ini semakin sedikit. Bukan apa-apa, makin sedikitnya pasokan Taopis, kenaikan harga pun tak bisa dihindari.

Dari informasi yang Putri dapat, banyak pengrajin tapis yang beralih profesi. Maklum, proses menenun dan menyulam tapis yang lama, membuat banyak pengerajin kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apalagi, pembelian bahan baku juga membutuhkan modal cukup besar.

Tantangan lainnya, bisnis fesyen Tapis yang sempat tumbuh pesat pada 2018-2019 ini juga mulai menghadapi banyak kompetitor mulai tahun 2019-2020.

“Karena udah booming banget kan, jadi banyak nih masyarakat yang sadar kalau Tapis diminati banget, jadilah mulai bermunculan kompetitor via online. Alhamdulillah kita masih bertahan, cuma di sini kita kurangin tenaganya karena sepi. Tapi setiap hari masih ada penjualan” jelas Putri.

Untungnya, sekalipun ikut terdampak pandemi covid-19, Bee Collection kata Putri masih mampu membukukan untung Rp2–3 juta per bulan.

 


Siasat Bertahan
Untuk menyiasati pandemi, Bee Collection pun bertahan dengan menyediakan sedikit stok untuk contoh bagi calon pembeli. Putri masih optimistis, usahanya masih punya prospek yang bagus, mengingat masih banyak orang yang meminati produk buatannya. Paling tidak hal tersebut terlihat dari respons kontak WhatsApp aktif customer-nya yang masih aktif mengunggah produk Tapis melalui Whatsapp status.

WhatsApp harus diakuinya, menjadi salah satu aplikasi yang cukup membantunya. Melalui aplikasi ini, Putri mampu menjangkau hampir 2.000 nomor customer yang ia kumpulkan sejak 2017.

Bahkan tak sedikit pelanggan yang langsung melakukan transaksi di aplikasi tersebut dan melunasi pembayaran. Untuk pelanggan baru yang masih ragu dan belum mengenal Bee Collection, biasanya melakukan pembelian lewat market place yakni Shopee dengan toko bernama Galeri Tapis Lampung.

Demi menjaga keseimbangan stok dan barang jual, Putri menerapkan sistem pre-order untuk pembelian dalam jumlah banyak. Ia mengaku, produknya dapat tersedia alam jangka waktu 2-3 hari untuk tas dan aksesoris lain, serta 3–5 hari untuk pakaian.

“Tapi kita juga tetap harus punya stok karena ada beberapa pelanggan tidak bisa liat barang dari foto saja, harus pegang gimana teksturnya, benangnya rapih atau enggak. Jadi untuk stok kita tetep ada, hanya tidak terlalu banyak. Mungkin sebagai sample 2–3 potong di masing-masing ukuran produk,” tandasnya.

Sekadar informasi, produk dengan hiasan tapis buah karya Putri saat ini telah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Taiwan, Malaysia, Singapura, bahkan Prancis. Umumnya, produknya dibeli oleh orang Indonesia yang tengah bermukim di negara-negara tersebut.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA