Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

WIRAUSAHA

31 Mei 2021|10:38 WIB

Teten: Koperasi Jadi Alternatif Pembiayaan Usaha Mikro Produktif

Mayoritas atau sekitar 99% pelaku UMKM di Tanah Air termasuk golongan usaha mikro

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageLogo Koperasi. ANTARAFOTO/Ari Bowo Sucipto

JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menekankan keberadaan koperasi harus bisa menjadi solusi pembiayan bagi para pelaku usaha mikro di Indonesia, mengingat saat ini mayoritas atau sekitar 99% pelaku UMKM di Tanah Air termasuk golongan usaha mikro.

Menurut Menkop Teten Masduki dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, koperasi harus menjadi jawaban bagi para pelaku usaha, ketika lembaga pembiayaan formal seperti perbankan masih berpikir panjang untuk memberi pembiayaan kepada usaha mikro.

"Kami di Kemenkop UKM juga tengah mendorong koperasi simpan pinjam atau KSP untuk aktif membiayai sektor produktif, tak hanya perdagangan," imbuh Teten, Minggu (30/5).

Ia menyebut KSP Credit Union (CU) Pancur Kasih di Pontianak, Kalimantan Barat bisa menjadi contoh bagi KSP lain di Indonesia. KSP CU Pancur Kasih yang saat ini masuk dalam 100 koperasi besar memberikan pembiayaan mayoritas bagi sekor produktif. Koperasi yang meraih penghargaan sebagai KCU peduli sosial terbaik itu juga memiliki program pendampingan usaha.

Teten menyebut program yang dimiliki KSP Pancur Kasih sejalan dengan pengembangan koperasi oleh Kemenkop UKM secara nasional. Yakni, tak hanya membiayai sektor perdagangan, tetapi juga sektor produktif seperti pertanian, perkebunan, hingga perikanan.

"Sektor itu perbankan tak mau masuk karena terlalu berisiko. Dengan demikian, koperasi diharapkan memperkuat ekonomi rakyat sektor pangan produktif melalui pemberian akses pembiayaan yang mudah dan murah," kata Menteri Teten.

Menurut Menkop, jika hal-hal itu dikelola secara maksimal, maka usaha mikro bisa menjadi pemasok bahkan menjadi eksportir produk hortikultura ataupun buah tropis yang menjadi keunggulan domestik. Fokus pada keunggulan domestik menjadi praktik yang jamak dilakukan berbagai negara.

"Seluruh dunia sedang mencari keunggulan domestik, seperti Norwegia yang pendapatannya banyak disokong budidaya ikan salmon. Saat ini, kita tidak lagi harus mencari investor untuk bangun pabrik," lanjutnya.

Teten juga mengimbau agar koperasi besar turut andil dalam peningkatan daya saing produk UMKM. Hal itu tak lepas dari realita produk usaha mikro yang kualitas produksinya masih rendah sehingga kerap dipandang sebelah mata di negara lain.

Untuk itu, menurutnya sangat penting bagi koperasi untuk membangun rumah produksi bersama atau factory sharing, khususnya mengingat UMKM tak banyak memiliki alat produksi moderen.

Salah satu yang tengah dibangun adalah factory sharing di Provinsi Jawa Tengah untuk usaha furnitur yang permintaannya tengah meroket namun masih ada keluhan karena kayu yang diolah belum cukup baik.

"Dengan masuk factory sharing, maka produk furnitur usaha mikro akan terstandardisasi kayunya," tandasnya.

Lebih lanjut, Teten menegaskan Kemenkop UKM juga tengah mendorong digitalisasi koperasi. Ekonomi digital Indonesia diproyeksi akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan taksiran nilai Rp1.748 triliun pada 2025.

"Jangan sampai potensi ini dikuasai asing. Koperasi harus hadir dan ikut meramaikan perekonomian digital di Indonesia," pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA