Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

WIRAUSAHA

09 Juli 2021|18:32 WIB

Teten: HBDI Jadi Momen Optimalisasi Perdagangan Daring

Nilai transaksi pada program HBDI tahun 2020 mencapai Rp22,5 triliun

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageWarga membeli barang secara online melalui gadget miliknya di Bogor, Jawa Barat, Selasa (24/11/2020). ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya

JAKARTA - Dalam upaya menggulirkan roda perekonomian, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) secara resmi melanjutkan program Hari Belanja Diskon Indonesia untuk tahun 2021.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut HBDI menjadi momentum bagi para peritel agar lebih memaksimalkan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) di tengah pandemi covid-19 yang masih merebak.

"Ini juga menjadi momen kebangkitan ritel. HBDI yang berlangsung sepanjang Agustus 2021 nanti juga bertepatan dengan momen Hari UMKM Nasional dan Hari Kemerdekaan Indonesia," ujarnya dalam Kick Off HBDI 2021 di Jakarta, Jumat (9/7).

Di sisi lain, Menteri Teten juga mengimbau agar masyarakat berpartisipasi aktif dalam program HBDI. Ia menyebut belanja dewasa ini menjadi bagian dari ibadah karena dapat menghidupkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Program HBDI gagasan Hippindo sendiri merupakan gelaran yang selalu meningkat setiap tahunnya. Dalam 4 tahun ajang itu, jumlah peritel yang berpartisipasi tumbuh hampir dua kali lipat.

Hari Belanja Diskon Indonesia pun turut diwarnai oleh partisipasi dari 500 brand dan melibatkan 375 pusat perbelanjaan di 91 kota pada tahun 2020, dengan nilai transaksi mencapai Rp22,5 triliun atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp20 triliun.

"Tren baik ini tentu membawa harapan akan berdampak positif dari sisi transaksi yang meningkat, baik bagi peritel maupun UMKM di Indonesia," kata Teten.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah menjelaskan kondisi pandemi memaksa sektor ritel untuk menggagas terobosan-terobosan, seperti penjualan digital, jenis pembayaran yang beragam, hingga kelanjutan program HBDI.

Budihardjo pun berharap dalam situasi seperti inni, upaya perdagangan harus dimulai dengan cara baru, seperti misalnya mengundang platform e-commerce hingga menyediakan berbagai jenis pembayaran yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

"Sektor ritel akan terus melakukan terobosan agar ekonomi terus berjalan. Harapannya, ekonomi dari Sabang sampai Merauke bisa cepat pulih," sebut Budihardjo.

Lokomotif Digitalisasi
Lebih lanjut, Menteri Teten berharap gelaran HBDI bisa menjadi lokomotif transformasi digital bagi UMKM unggulan Indonesia serta membuka akses para pelaku UMKM kepada rantai pasok industri besar.

Menurut Teten, transformasi digital bagi para pelaku UMKM membuka kemungkinan kepada akses pasar yang lebih luas, penataan bisnis yang efektif dan efisien, SDM yang lebih teratur, tata kelola usaha, hingga akses pembiayaan.

"Transformasi digital bagi UMKM adalah keniscayaan. Setahun belakangan, kita menyaksikan harmonisasi pemerintah dan seluruh elemen, termasuk para peritel yang sukses menghadirkan tambahan 6,7 juta UMKM dalam ekosistem digital," imbuh Menkop.

Hingga saat ini, Menkop Teten meyakini setidaknya sudah ada 13,7 juta pelaku UMKM yang onboarding atau sekitar 21% dari total UMKM yang ada di Indonesia.

"Kami juga telah menargetkan angka itu digenjot hingga mencapai 30 juta pada 2024. Dengan begitu, HBDI diharapkan bisa mengakselerasi capaian itu," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER