Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

BERITA

06 Juli 2021|21:00 WIB

Telemedis, Panasea Di Kala Wabah

Kekhawatiran pasien dan dokter mendorong menjamurnya layanan telemedis
ImageIlustrasi pengiriman obat dari aplikasi telemedis HALODOC. Validnews/Fin Harini

JAKARTA – Kehadiran pandemi memaksa orang untuk membatasi kegiatan, menekan mobilitas, serta menghindari kontak fisik dengan orang lain. Karenanya, rumah menjadi pusat kegiatan apapun. Bekerja, kuliah, hingga bersekolah semua dilakukan rumah.

Mengganasnya wabah membuat individu bahkan mulai khawatir jika ingin mengunjungi rumah sakit meski tengah kurang enak badan. Menyiasatinya, inovasi telemedicine atau telemedis pun mulai mencuat untuk kemudahan mengakses pelayanan kesehatan.

Merujuk pada American Academy of Family Physicians (AAFP), telemedis sendiri merupakan teknologi yang memungkinkan pasien berkonsultasi dengan dokter secara privat, tanpa harus bertatap muka secara langsung.

World Health Organization (WHO) juga telah merumuskan, ada empat hal yang mendasari keberadaan telemedis, yakni pendukung perawatan secara klinis, solusi atas masalah jarak dan geografis dalam layanan kesehatan, inovasi menggunakan teknologi informasi, serta meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat luas.

Pada awal masa pandemi covid-19 di Indonesia, Bambang Brodjonegoro saat menjabat Menteri Riset dan Teknologi pun meyakini, akan ada 10 tren baru pada masa pandemi.

Semua tren itu antara lain belanja daring, pembayaran digital, teleworking, pelayanan medis jarak jauh atau telemedis, tele-education, pelatihan jarak jauh, hiburan daring, 3D printing, robot dan drone, serta teknologi 5G.

Sejatinya, telemedis bukan hal baru. Sejumlah negara di dunia sudah memanfaatkan teknologi telemedis sejak lama. Namun, Indonesia baru secara umum memanfaatkan teknologi ini dalam beberapa tahun belakangan.

Alodokter, misalnya. Platform yang berdiri kurang lebih tujuh tahun lalu itu memulai kiprahnya dengan memberikan edukasi atau info kesehatan dalam bentuk artikel yang langsung ditulis oleh para dokter tersertifikasi.

Saat itu, Alodokter sudah memiliki dokter-dokter full-timer dengan latar belakang medis yang jelas untuk menuliskan informasi mengenai kesehatan.

“Karena, kalau kita hanya kasih informasi berdasarkan salinan dari artikel lain, akan banyak yang misleading sehingga kita benar-benar menjadikan artikel itu diolah oleh para dokter di tempat kami,” ungkap VP Partnership Alodokter, Agustine Gunawan kepada Validnews di Jakarta, Senin (5/7).

Setelah konsisten menghadirkan artikel kesehatan, platform ini mulai merambah ke layanan booking. Hal ini membuat para pengguna tidak perlu lagi kebingungan mencari dokter ketika sampai di RS.

Melalui layanan booking itu, para pengguna Alodokter akan ditelusuri keluhan atau sakit apa yang dirasakan. Mereka, kemudian akan dihubungkan dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Kala itu, layanan booking diluncurkan secara gratis kepada para pengguna Alodokter.

“Kurang lebih, memasyarakatkan faskes Indonesia kepada Indonesia karena banyak yang bilang RS di Indonesia rumit, enggak seperti di Singapura yang sistemnya jelas, dokternya jelas, appointment-nya jelas sehingga orang lebih suka ke negara tetangga,” ungkap Agustine.

Setelah artikel kesehatan dan layanan booking, fitur telemedis yang dikhususkan bagi pasien yang berhalangan hadir ke rumah sakit ataupun para pengguna yang baru mengalami sakit ringan, kemudian resmi diluncurkan.

Jika dahulu kala, banyak orang yang memiliki dokter pribadi yang senantiasa stand-by, layanan ini tak jauh berbeda dengan fasilitas tersebut.

“Sakit ringan aja nih, misalnya flu. Obatnya apa? Jangan meminum sembarang obat tanpa arahan jelas dari praktisi medis. Hal ini dapat dijembatani oleh telemedicine. Jadi itu konsep awal telemedis,” kata dia.

Penciptaan Market
Dalam kesempatan berbeda, pakar marketing Yuswohady menyebutkan kehadiran pandemi covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia turut berperan dalam menciptakan pasar telemedis.

Awalnya, Yuswohady memproyeksi rumah sakit akan ramai ketika awal pandemi muncul. Sebaliknya, justru kondisi sepi mengemuka. Banyak yang khawatir untuk berobat.

“Kalau tidak ada pandemi, mungkin tidak tercipta mainstream marketnya. Tapi karena pandemi, kita dipaksa karena takut ke RS atau klinik karena berhubungan dengan nyawa,” ujar dia.

Bagi masyarakat, keselamatan merupakan ‘dewa’. Jadi, telemedis sangat diperlukan untuk keluhan-keluhan ringan yang bisa dilayani tanpa tatap muka dengan dokter.

Tak hanya itu, isolasi mandiri pasien yang terjangkit covid-19 pun memerlukan telemedis, mengingat menumpuknya pasien di banyak rumah sakit.

Yuswohady menyebutkan telemedis merupakan solusi sementara sekaligus solusi selamanya. Ke depan, inovasi ini akan digunakan secara permanen untuk membeli obat hingga konsultasi penyakit ringan yang pasarnya sudah terbentuk secara masif.

Ia menegaskan, faktor fear of dead belakangan ini menjadi melonjak dan turut menyetir pasar telemedis. Dengan begitu, proses transisi dari berobat konvensional menjadi telemedicine akan lebih cepat ketimbang sekolah dan bekerja di rumah.

“Urgensi proses pembentukan pangsa pasar akan berjalan cepat sekali karena bagi konsumen, nyawa adalah prioritas utama,” tandas Yuswohady.

Agustine mengakui, pandemi menjadi momentum melonjaknya pengguna Alodokter. Pada bulan awal covid masuk ke tanah air, Alodokter mengalami penambahan pengguna sekitar 500 ribu orang per bulan, dari monthly active user yang ada di kisaran 36 juta orang per bulan.

Penyebaran virus corona ini juga menyebabkan ada larangan tertentu untuk jenis-jenis layanan medis yang sifatnya tidak urgent.  Misalnya layanan gigi, THT, atau lainnya, disarankan sebaiknya tidak bertemu dokter dulu.


Sulit Diprediksi
Namun, seiring edukasi yang digulirkan pemerintah melalui protokol 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), hingga 3T (testing, tracing, dan tracking), serta program vaksinasi, pengguna Alodokter kembali menurun di angka 300 orang per bulan.

“Penggunanya naik-turun terus, tergantung orang mau keluar apa enggak, dokter pada takut apa enggak, dan lain-lain,” urai Agustine.

Yuswohady, mengamati ini. Menurutnya, pangsa pasar layanan kesehatan nantinya akan terbagi menjadi dua tipe. Pertama yang bersifat ringan dan bisa ditangani secara telemedis. Kedua, pelayanan dokter yang sifat berat dan membutuhkan tindakan operasi.

­­Di sisi lain, masa depan bisnis telemedis di Indonesia masih belum bisa diprediksi keberhasilannya. Bila kasus aktif covid-19 kian tinggi, akselerasi layanan ini diyakini semakin cepat, bahkan menjadi sistem yang permanen. Sebaliknya, bila kasus positif menurun dratstis, pertumbuhan melambat.

Yuswohady meyakini, ekosistem bisnis telemedis di tanah air bisa lebih cepat terbentuk jika rumah sakit yang notabene sebagai pertahanan di sektor kesehatan turut meramaikan sektor itu.

Kalangan rumah sakit mengamininya. Head of Investor Relations Mitra Keluarga Aditya Widjaja mengakui, sejauh ini pihaknya sudah mencoba peluang telemedis, namun masih yang bersifat konvensional.

Sistem telemedis di RS Mitra Keluarga dimulai dari pembayaran yang dilakukan pasien lalu kemudian pihak RS memberikan tautan video conference agar pasien bisa berkonsultasi secara daring dengan dokter.

Kemudian, pasien akan diberikan resep dan tautan pembayaran untuk kemudian obatnya diantar ke rumah melalui jasa pengiriman.

Aditya menyebutkan, ke depan, pihaknya akan merancang sebuah aplikasi agar memberikan kenyamanan bagi para pasien yang akan menggunakannya.

“Kita memang masih pakai Google Meet, makanya belum terintegrasi dan kita akan bikin satu aplikasi yang memang dari awal appointment sampai konsultasi dan butuh obat yang dikirim akan terintegrasi dalam aplikasi itu,” jelas Aditya.

Untuk mengembangkan layanan telemedis, RS punya sejumlah kendala yang memperlambat rumah sakit konvensional. Salah satunya, sistem manual yang sudah lama dianut oleh para dokter senior. Namun kendala itu, menurut Aditya, akan segera teratasi mengingat sudah banyak dokter-dokter baru yang ‘well acceptance’.

Bukan Kompetitor
Kendati punya peluang pasar yang besar, sektor telemedis diyakini tidak akan menjadi kompetitor bagi rumah sakit konvensional. Agustine menyatakan ke depannya, rumah sakit masih tetap diperlukan masyarakat untuk penanganan medis secara berkelanjutan.

Menurut Agustine, layanan telemedis tak akan mampu menggantikan proses lanjutan yang sudah ada di rumah sakit konvensional. Jika layanan telemedis sudah memberikan pertolongan atau obat pertama bagi pasien yang sakit ringan, namun tak kunjung sembuh, rumah sakit kemudian akan memainkan perannya.

Platform telemedis, tegasnya, hanya akan memberikan pertolongan pertama bagi orang yang merasakan sakit ringan. Masing-masing jenis pengobatan, online dan offline, punya layanan berbeda meski user-nya bisa sama. 

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER