Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

16 September 2021|20:10 WIB

Sulitnya Mengusir ‘Hantu’ Kekerdilan

Ketimpangan nutrisi dan ketidaksiapan pasangan menikah, menyebabkan potensi stunting tetap tinggi
ImageIlustrasi stunting dan tumbuh kembang anak. ANTARA FOTO/Dok

JAKARTA – Sadar memiliki aneka kelebihan, sebut saja letak geografis, jumlah sumber daya manusia dan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia pun mencoba menyusun mimpi menjadi salah satu negara maju dan salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia.

Cita-cita yang diberi tajuk Visi Indonesia 2045 itu dicanangkan untuk dicapai 24 tahun mendatang. Tepat pada tahun peringatan kemerdekaan yang ke-100.

Dalam buku Visi Indonesia 2045 yang juga menjadi peta jalan mewujudkan cita-cita tersebut, ada empat pilar yang harus dibangun. Pilar utama adalah pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam penjabarannya, pada 2045 diharapkan derajat kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia semakin baik. Ada peningkatan usia harapan hidup menjadi 75,5 tahun. Penderita penyakit HIV/AIDS, Teburcolosis, dan penyakit menular lainnya menurun. Malaria tereliminasi. Terakhir, balita stunting menurun menjadi 5%.

Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh pada balita yang diakibatkan kekurangan gizi secara kronis dan infeksi berulang. Kondisi ini sangat ditentukan pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Hitungannya sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 23 bulan.

Selain menyebabkan kekerdikan, stunting pun menghambat perkembangan berbagai organ tubuh termasuk otak. Kerusakan yang tak terobati. Dampaknya, risiko terkena beberapa penyakit meningkat, sementara tingkat kecerdasan berkurang. Produktivitas sang anak saat remaja hingga dewasa pun berkurang.

Sayangnya, dampak jangka panjang itu kerap tak disadari orang tua. Langkah proaktif untuk mencegah pun, dinilai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo kerap terabaikan.

Berseloroh, ia menyinggung pasangan yang akan menikah dewasa ini lebih mementingkan foto prewedding ketimbang prekonsepsi kehamilan. Prekonsepsi sendiri ialah persiapan pertemuan sel telur dan sel sperma. .

"Kalau prewedding hanya foto sana, foto sini, itu kan habisnya (uang.red) banyak, bisa puluhan atau ratusan juta. Tapi prekonsepsi itu murah, periksa hb (kadar hemoglobin.red) di puskesmas hanya Rp5 ribu, minum tablet tambah darah ngambil di puskesmas gratis. Kalau mau beli sendiri, Rp10 ribu sudah dapat banyak," imbuh Hasto ketika dihubungi Validnews dari Jakarta, Rabu (15/9).

Padahal, ia menegaskan, pencegahan stunting wajib dilakukan dari hulu yang paling hulu, yakni kesiapan orang tua.

Hasto juga mendorong para pasangan yang akan menikah atau baru menikah agar mengonsumsi asam folat guna menjaga kualitas kandungan nantinya. Mereka juga selayaknya menyiapkan kehamilan paling tidak tiga bulan sebelumnya. Selain itu, wanita yang akan menikah harus mengonsumsi tablet tambah darah, asam folat, serta vitamin D.

"Lalu kepada suami yang biasanya merokok banyak, itu bisa dikurangi dulu merokoknya ketika masuk program untuk hamil," sebutnya.

Ia menyayangkan banyak orang baru tahu sedang mengandung ketika usia kehamilan sudah tiga bulan. Padahal, kehidupan bayi sudah ditentukan 1.000 hari sejak pertemuan sel telur dan sel sperma.

Krusialnya, yang menentukan anak cacat atau tidak ialah pekan-pekan awal kehamilan, setidaknya delapan minggu. Ketidakpekaan terhadap prekonsepsi ini berujung tingginya potensi adanya kelahiran bayi kerdil.

"Hanya butuh waktu paling-paling delapan minggu itu sudah selesai semua, kepala, pundak, lutut, kaki, daun telinga, mata, hidung, itu sudah selesai semua. Jadi kalau ada cacat atau masalah itu munculnya pada 56 hari pertama," terang Hasto.


Daya Saing Rendah
Masalah stunting memang masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Berdasarkan Global Nutrition Report 2016, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 36,4%. Angka ini bahkan lebih besar dibandingkan Myanmar maupun Kamboja, yang memiliki angka stunting masing-masing 35,1% dan 36,4%.

Pada 2018, prevalensi stunting di Indonesia membaik ke angka 30,8%. Ini tetap mengkhawatirkan, karena berarti ada satu dari tiga balita Indonesia mengalami stunting. Lantas, kondisi stunting di Tanah Air kembali membaik menjadi 27,7%. World Health Organization (WHO) masih mencap prevalensi ini ‘very high’.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Bappenas Subandi menjelaskan, prevalensi stunting terus menunjukkan tren penurunan konsisten dalam beberapa periode. Namun, Subandi tak memungkiri berdasarkan, badan kesehatan dunia punya penilaian berbeda.

Di sisi lain, dari skor Indeks Modal Manusia, juga terjadi sedikit perbaikan. Namun, perbaikannya tipis, dari 0,53 pada 2018 menjadi 0,54 di tahun 2020.

Dari kedua penilaian itu, Subandi menyebutkan, ini menggambarkan bahwa balita di Indonesia saat ini hanya akan mencapai 54% dari potensi maksimalnya di masa dewasa nanti.

Indeks Modal Manusia sendiri merupakan ukuran yang diterbitkan World Bank dalam menghitung potensi produktivitas individu pada masa depan dengan mengutamakan aspek peluang hidup anak hingga usia lima tahun, kualitas dan kuantitas pendidikan, serta kesehatan, termasuk permasalahan stunting.

Subandi menguraikan, balita yang mengalami stunting kemudian akan berdampak pada kemampuan kognitif dan motorik, tidak hanya sebatas pertumbuhan fisik. Mereka berpotensi mengidap berbagai penyakit, seperti stroke, jantung, hingga diabetes, saat dewasa.

Terganjal Pandemi
Kemudian pandemi covid-19 hadir, dan mempersulit upaya pengentasan ini.  Pemerintah mengaku, meski dibebani persoalan pandemi, penanganan stunting tak tetap berjalan. Dalam Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN TA 2022, menunjukkan sepanjang 2020 terdapat 86 output pada 20 K/L yang mendukung percepatan penurunan stunting.

Dari catatan itu, sebanyak 23 output merupakan intervensi gizi spesifik yang menyasar bidang kesehatan oleh Kemenkes. Lalu, 31 output melakukan intervensi gizi sensitif yang menyasar penyediaan air bersih dan sanitasi, akses dan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi, konseling pengasuhan dan pendidikan anak usia dini, serta akses pangan bergizi.

Sementara, 32 output sisanya merupakan intervensi pendampingan, koordinasi, dan dukungan teknis yang mencakup penyusunan regulasi, pendampingan, dukungan data dan riset, kegiatan koordinasi, hingga monitoring dan evaluasi dalam rangka menyokong terlaksananya intervensi gizi spesifik dan sensitif.

Pada aspek anggaran, dukungan terhadap penurunan stunting dalam anggaran belanja K/L pada 2020 pun menunjukkan perbaikan jika dibandingkan 2019. Ada kenaikan dari sekitar Rp25,4 triliun pada 2019 menjadi sekitar Rp48,44 triliun pada 2020. Ini mendukung penurunan stunting tumbuh 90,5%

Pertumbuhan kinerja anggaran dukungan stunting tersebut ditengarai tak lepas dari peran alokasi bantuan sosial yang meningkat untuk bansos pangan, bansos tunai, serta bantuan iuran PBI JKN bagi keluarga rumah tangga miskin dengan 1.000 HPK. Dengan capaian tersebut, BKKBN menyebutkan angka stunting pada 2020 turun ke level 26,9%.

Akan tetapi, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) memperkirakan prevalensi stunting justru meningkat di tahun 2020 menjadi 32% Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta, beberapa waktu lalu menyebutkan pengeluaran rata-rata rumah tangga untuk makanan mencapai 56% dari pengeluaran mereka. Bahkan, hampir sepertiga rumah tangga mengeluarkan lebih dari 65% untuk makanan, itu baru untuk pemenuhan kebutuhan kalori tanpa mempertimbangkan nilai nutrisi.

“Kenyataannya, konsumsi pangan masyarakat Indonesia masih didominasi oleh karbohidrat dan semakin banyak makanan hasil ultraproses. Konsumsi buah, sayuran dan protein hewani masih rendah. Artinya walaupun kenyang, nutrisi optimal yang dibutuhkan masih belum terpenuhi,” urai Felippa.

Menu yang lebih beragam cenderung lebih mahal. World Food Programme memperkirakan satu keluarga dengan empat anggota akan membutuhkan nutrisi seharga Rp1,2 juta per bulan. Dengan estimasi ini, 38% rumah tangga Indonesia tidak mampu membeli makanan yang bernutrisi. Persentase ini lebih besar lagi di Papua (48%), Maluku (56%), dan Nusa Tenggara Timur (68%). Hal ini menggambarkan ketimpangan nutrisi secara regional.

Kehadiran pandemi di Indonesia membuat adanya demand shock serta melonjaknya angka kemiskinan. Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF Rusli Abdullah juga mengamini, asupan gizi masyarakat turut berkurang terdampak pandemi.

"Hal itu tercermin dari angka kemiskinan dan pengangguran yang meningkat selama pandemi. Misalnya, orang dulunya punya duit dan bisa makan daging atau telur seminggu sekali, kemudian hanya bisa menikmati nasi dan mi instan, otomatis asupan gizi berkurang," terangnya kepada Validnews di Jakarta, Selasa (14/9).

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto di kesempatan terpisah menguraikan kekhawatiran akan peningkatan angka stunting karena pandemi ini.

Asumsi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyebut dari banyaknya angka pengangguran dan kemiskinan yang naik, akan terjadi penurunan konsumsi pada kelompok ibu hamil, anak-anak, dan balita.

"Dari situ, ada risiko kejadian berat badan bayi rendah. Hal tersebut juga menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan secara fisik organnya juga rendah sehingga dikhawatirkan terjadi stunting," kata Agus dalam keterangan tertulis.

Dalam kesempatan berbeda, Menko PMK Muhadjir Effendy mencemaskan hal sama, Mengutip data BPS, Muhadjir menyebut jumlah penduduk miskin di perkotaan telah naik sekitar 138,1 ribu orang dari 12,04 juta pada September 2020 menjadi 12,18 juta pada Maret 2021.

Atas catatan itu, Muhadjir tak menampik anggapan, pandemi berpengaruh besar terhadap peningkatan stunting pada kelompok miskin yang kemudian akan berdampak pula terhadap anjloknya daya beli terhadap pangan bergizi.

Pendekatan Gizi
Guna mengatasi stunting di tengah pandemi, Rusli menyarankan agar pemerintah serius menggodok kebijakan yang menyasar bagi balita maupun wanita yang sedang menyusui dan mengandung. Masyarakat yang terdapat dalam skema Program Keluarga Harapan (PKH) menurutnya tidak begitu bermasalah karena sudah ada pendampingan.

"Tapi bagi yang tidak masuk PKH, tiba-tiba miskin (akibat pandemi.red) karena kehilangan pekerjaan, ini yang harus menjadi perhatian," tutur Rusli.

Pemberian bantuan sosial (bansos) yang menyasar kelompok rentan di luar PKH, seperti orang yang terkena PHK atau tidak mampu memberi makanan yang layak bagi keluarganya, juga harus ditambah dengan skema pemberian bantuan bagi ibu mengandung dan menyusui, serta balita untuk pemenuhan gizi.

Selama ini skema tersebut tidak ada dalam program bansos yang digulirkan pemerintah. Gizi tak menjadi konsideran utama bantuan.

Padahal, Dokter dan Ahli Gizi dr. Tan Shot Yen tegas menyebutkan, pendekatan gizi menjadi salah satu instrumen ampuh dalam rangka mencegah stunting pada anak.  Dia menerangkan senada dengan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo,

“Pendekatan gizi adalah pendekatan spesifik pencegahan stunting. Dimulai dari menyusui optimal secara eksklusif enam bulan, diikuti MP ASI yang benar hingga usia dua tahun,” katanya kepada Validnews di Jakarta, Rabu (15/9).

Untuk asupan gizi pencegahan stunting, para orang tua dapat membuat makanan pendamping air susu ibu (mpasi) yang berasal dari menu keluarga, seperti nasi, jagung, atau kentang, dipadukan dengan daun bayam, tempe, hati ayam, alpukat. Bahan makanan yang terdapat protein tersebut dapat ditumis kemudian dicampurkan ke bubur nasi atau jagung.

Ia melanjutkan, tekstur MP ASI juga mesti disesuaikan sesuai usia anak. Contohnya, anak umur enam hingga delapan bulan dapat memakan mpasi tersebut sebanyak tiga kali dengan ukuran 125 mililiter (ml). Kemudian, anak dengan usia sembilan hingga 12 bulan dapat menikmatinya sebanyak tiga kali dengan takaran 250 ml.

“Tambah kudapan dengan anak tambah usia. Feeding rules sesuaikan dengan responsive feeding,” tandas dr. Tan.

Sementara untuk menu makan ibu hamil, menurutnya cukup sederhana, yakni harus terdapat makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, serta buah-buahan. “Ini bisa jadi patokan 3 kali makan ibu hamil,” ujarnya.

Tidak lupa, kebiasaan pendukung seperti cuci tangan memakai sabun, aktivitas fisik 30 menit per hari, dan delapan gelas air putih juga mesti diterapkan. Pola makan yang salah dengan kesehatan yang kurang, juga membuat anak sering infeksi.  

Dia menekankan, perlu upaya menghindari “lingkaran setan” stunting. Lingkaran ini bermula dari ketidaksiapan ibu melahirkan. Pola makan yang salah dan layanan kesehatan yang tidak mencukupi akan membuat ibu hamil malnutrisi.  Ibu hamil ini akan melahirkan bayi berberat badan lahir rendah (BBLR).

Alur berikutnya, anak yang lahir dari ibu malnutrisi akan memiliki tumbuh kembang kurang optimal. Pada saat dewasa, dia rentan mengidap penyakit tidak menular (PTM). Dengan kapasitas dan kesehatan terbatas, pola itu rentan terulang kembali ke keturunan berikutnya. “Lingkaran setannya kurang lebih seperti itu,” tutup dr. Tan. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA