Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

24 September 2022

08:00 WIB

Sektor Pertanian RI Perlu Fokus Pada Keberlanjutan dan Inovasi

Bertepatan dengan Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September, urgensi pertanian nasional pada upaya keberlanjutan dan inovasi semakin tinggi

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Dian Kusumo Hapsari

Sektor Pertanian RI Perlu Fokus Pada Keberlanjutan dan Inovasi
Ladang sorgum yang dibudidayakan di Dusun Likotuden, Demon Pagong, Flores Timur, NTT. Shutterstock/D wi Setijo Widodo

JAKARTA - Urgensi agar sektor pertanian Indonesia fokus pada keberlanjutan dan inovasi semakin besar. Mengingat berbagai tantangan yang mengancam kelangsungannya. 

“Keberlanjutan dan inovasi adalah dua unsur penting untuk memastikan kegiatan pada sektor pertanian bisa berjalan tanpa merusak alam. Keberlanjutan dan inovasi juga dapat membawa manfaat bagi petani dan juga konsumen pangan,” terang Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi, Jakarta, Jumat (23/9).

Azizah melanjutkan, perubahan iklim merupakan salah satu ancaman sektor pertanian yang harus diwaspadai karena dampaknya yang signifikan. 

Beberapa dampak perubahan iklim seperti cuaca ekstrem yang tak dapat diprediksi, termasuk hujan lebat, kekeringan, gelombang panas, dan badai tropis dapat menyebabkan berkurangnya kuantitas dan mutu hasil panen.

Hal di atas menunjukkan, perubahan iklim dapat mengganggu ketersediaan pangan dan mengancam ketahanan pangan. Sederhananya, berkurangnya produksi akan mengakibatkan harga pangan menjadi lebih mahal. 

Kenaikan harga juga dapat berdampak pada akses, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Volatilitas harga berdampak signifikan bagi ketahanan pangan dan pola konsumsi konsumen, terutama yang berpenghasilan rendah. 

“Jika harga protein seperti telur dan produk turunan kedelai seperti tahu dan tempe melonjak, konsumen dengan penghasilan rendah akan cenderung memilih komoditas yang mengenyangkan dengan harga lebih terjangkau untuk dikonsumsi,” ungkapnya.

Hal ini bisa berdampak lebih jauh pada kecukupan nutrisi. Sementara itu, metode bertani yang efisien juga diperlukan untuk meningkatkan daya saing petani. 

Saat ini, petani Indonesia masih didominasi petani gurem, atau petani dengan luas lahan kurang dari 0,2 hektar. Adopsi teknologi di hulu dan hilir akan memberikan petani akses kepada pasar dan pelanggan. 

“Dengan demikian, mereka bisa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi terhadap harga,” sebutnya.

Selain itu, mekanisasi akan membantu produksi pertanian lebih efisien, sehingga memperbesar peluang terserapnya produk petani oleh pasar. Peningkatan produktivitasnya juga diharapkan dapat menaikkan taraf hidup.

Cara bertani juga perlu mengedepankan aspek keberlanjutan. Pembukaan lahan secara masif misalnya, tidak lagi relevan dengan tujuan keberlanjutan. 

“Pembukaan lahan justru mengancam ekosistem dan tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca,” tegasnya.

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penyumbang emisi. Untuk sejalan dengan upaya menurunkan emisi, kebijakan pertanian perlu mengedepankan intensifikasi melalui optimalisasi penggunaan lahan yang ada dengan pemberian intervensi berupa input yang berkualitas.

“Hari Tani sebaiknya tidak hanya diperingati secara seremonial tanpa ada kebijakan yang komprehensif untuk mendukung petani dan sektor pertanian berkembang dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Pandemi dan kondisi global sudah menunjukkan urgensi unsur keberlanjutan dan inovasi,” tandas Azizah.

Tantangan Pertanian Global

Analis Kebijakan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementan Wahida Maghraby menjelaskan, globalisasi membuat kondisi seluruh dunia berada pada kondisi yang paralel. Hal ini juga berlaku pada tantangan pangan tengah dan akan dihadapi oleh seluruh negara, bukan hanya Indonesia.

Perubahan iklim jelas memperparah kondisi pertanian begitu juga dengan tantangan pangan yang sedang dihadapi. Selanjutnya, ada situasi kerawanan pangan yang banyak mencekik banyak negara terlepas dari perubahan iklim yang terjadi.

Seperti diketahui, semua negara belum pulih sepenuhnya akibat diterjang pagebluk covid-19 sejak awal 2020. Tensi geopolitik Rusia-Ukraina di awal 2022 juga menjadi pemberat bagi keseimbangan pangan di tingkat global.

Pasalnya, kedua negara yang berseteru itu merupakan produsen utama gandum, rapeseed oil, hingga bahan baku pupuk ke dunia. “(Akibatnya), ketersediaan pangan negara-negara yang berbasis gandum itu mengalami food insecurity,” ungkap Wahida.

Bagi Indonesia, lanjutnya, dinamika geopolitik tersebut juga berdampak signifikan meski belum begitu terasa. Dampak ini bisa mengganggu ketersediaan pupuk, sehingga mengakibatkan kenaikan harga di pasaran.

Begitu juga bahan baku gandum di Indonesia meski belum seberat 56 negara di Afrika dan Timur Tengah yang mempunyai ketergantungan lebih tinggi pada produk karbohidrat tersebut. Yang jelas, Wahida garisbawahi, kondisi ini akan semakin memperberat beban yang mesti diemban petani di Tanah Air. 

“(Tantangan) akan menjadi sangat signifikan, setelah kita sama-sama sekarang mengalami kenaikan BBM,” ungkapnya. 

Tantangan pertanian Indonesia dari sisi produksi selalu berdampak signifikan terhadap apa yang terjadi di global. Sedangkan di sisi konsumsi, jika Indonesia mengalami kerawanan pangan akan berhadapan langsung dengan situasi stunting dan lainnya.

“Apalagi kalau setelah ini terjadi inflasi, nah kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dalam negeri, semoga kita semua bisa terhindar. Saat ini, Indonesia sangat alhamdulillah masih bersyukur compare to othe contries yang jumlahnya makin bertambah mengalami food insecurity,” terangnya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER