Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

11 Oktober 2021|21:00 WIB

Segarnya Bisnis Es Krim Rendah Kalori

Kurang lebih butuh waktu hingga 6–7 bulan bagi tim Glatuk mendapatkan formula yang pas untuk membuat es krim rendah kalori

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Dian Hapsari

ImageSalah satu varian es krim Glatuk. Glatuk/dok

JAKARTA – Pandemi yang merebak pada awal 2020 lalu, membuka mata banyak khalayak, betapa kondisi kesehatan berperan sangat penting dalam kondisi yang rentan seperti ini. Dengan komorbid alias penyakit penyerta, seseorang yang terinfeksi covid-19, bisa terancam nyawanya.

Seperti tersentil, sejumlah orang pun lantas 'kagetan', jadi lebih perhatian dengan kesehatan dan pola hidupnya. Khususnya terkait dengan asupan makanan sehat hingga suplemen yang dikonsumsi. 

Sebelumnya banyak orang yang abai, bahkan terkesan menyepelekan gaya hidup sehat yang ketat. Hal ini setidaknya dapat dibuktikan dari data Kemenkes yang dirilis Januari 2020. Data itu menyebutkan Indonesia mempunyai tiga beban masalah gizi atau triple burden, yakni stunting, wasting dan obesitas; serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia.

Lebih spesifik lagi, masalah prevalensi berat badan lebih atau obesitas mencapai sebesar 16% (remaja usia 13–15 tahun) dan 13,5% (remaja usia 16–18 tahun). Data tersebut bisa dibilang, merepresentasikan kondisi gizi pada remaja di Indonesia yang harus diperbaiki. 

Berdasarkan baseline survei UNICEF pada 2017, ditemukan adanya perubahan pola makan dan aktivitas fisik pada remaja. Sebagian besar remaja menggunakan waktu luangnya dalam kegiatan pasif, sepertiganya mengonsumsi camilan instan atau olahan buatan pabrik. Sepertiga lainnya rutin mengonsumsi kue basah, roti basah, gorengan, dan kerupuk.

Nah, gaya hidup seperti itu disadari banyak orang sebagai gaya hidup yang salah. Pasalnya, di tengah pandemi, imun yang dibutuhkan untuk melawan penyakit, berpotensi turun dengan pola hidup, khususnya pola makan yang sembarangan. 

Menjawab kebutuhan masyarakat yang makin sadar atas gaya hidup lebih sehat itulah, Glatuk hadir menyediakan produk es krim rendah kalori. Chief Operating Officer Glatuk Vicky Wen bercerita, sejatinya produknya tersebut sudah lebih dulu dikembangkan, jauh sebelum pandemi merebak di Indonesia.

Beberapa percobaan sempat dilakukan di awal-awal pembuatan produk. Nah, karena yakin produknya bermanfaat untuk kesehatan tubuh, langkah Glatuk pun makin mantap manakala pandemi masuk ke Indonesia. 

Pengembangan produk, penguatan merek, dan sejumlah langkah lainnya digeber, demi memunculkan produk bernuansa baru sebagai alternatif buat pecinta dessert tetap bisa menikmati hidangan pencuci mulut, tanpa takut merasa bersalah. 

Ia membaca peluang besar, mengingat di Indonesia, panganan diet yang nikmat, beredar sangat terbatas. Sulit diakses khalayak ramai.

"Kita melihat masyarakat sudah mulai aware dengan healthy lifestyle. Sementara, pandemi membuat kita semakin aware menjaga kesehatan," kata Vicky membuka pembicaraannya kepada Validnews di Jakarta, Kamis (7/10).

Vicky menyebutkan kurang lebih butuh waktu hingga 6–7 bulan bagi tim Glatuk, untuk mendapat formula pas yang bisa digunakan untuk membuat es krim rendah kalori. Semua proses ini dilakukan secara in house

Asal tahu saja, pada awal Glatuk menyasar pasar perempuan berusia 20–35 tahun. Nyatanya, antusiasme pasar menyeruak dan membuat target pasar pun meluas. Ia mengaku, sudah beberapa kali menerima pesanan untuk agenda pernikahan dan sejumlah even korporasi.

Rasanya, wajar jika pesenan meluas. Pasalnya, Glatuk punya beragam varian rasa es krim yang menggoda, seperti cokelat, vanila, sereh, mangga dan biskuit Lotus Biskoff. Apalagi, bahan pembuatnya pun dipilih dari bahan lokal berkualitas. 

Seperti vanila yang langsung didatangkan dari Papua, cokelat dari Bali, sereh dan mangga yang berasal dari beberapa daerah di Jawa, serta susu segar yang dipasok dari Malang. Seiring waktu, hingga kini sudah ada 10 rasa yang begitu warna-warni memanjakan lidah dan mata. Uniknya, beberapa rasa uang tercipta datang dari saran konsumen aktif. 

"Mungkin orang mengira es krim rendah kalori enggak bakal creamy atau teksturnya kayak es aja. Tapi di Glatuk kita bisa yakini, semua produk kita creamy, meski ada varian vegan tanpa susu, juga creamy," jelasnya.  

Tentang klaim rendah kalori, pihaknya memastikan hal tersebut. Ia menggaransinya dengan keahlian salah satu shareholders Glatuk dalam bidang pereskriman yang dipandu juga dengan jurnal pangan. 

Hingga kini, kalori yang terkandung dalam 165 ml (satu sajian) Glatuk yang dibanderol Rp32–38 ribu, berkisar antara 72-92 kkal. Sebagai pembanding, dalam es krim biasa, untuk satu cup kecil (setengah cangkir) biasanya punya kalori di atas 200 kkal. 

"Agar mencapai low calori, kita juga pakai beberapa bahan nol kalori, seperti untuk gula kita menggunakan eritritol dari ekstrak jagung," terangnya. 

Penguatan Produk 
Sebagai pendatang baru di industri es krim, selain pendekatan produk, Glatuk juga menjajal kemasan dengan sesuatu yang berbeda. Alih-alih menggunakan plastik, Glatuk memilih menggunakan kotak kertas sebagai bahan pembungkusnya. 

Creative Director dan Co-Founder Glatuk Beverly Faye Budiman menyebutkan pencarian bentuk lipatan yang tepat untuk wadah kertas es krim yang mudah mencair, begitu menantang. 

Bentuk kotak yang tak lazim buat pembungkus, mengharuskan Glatuk menjajaki banyak vendor untuk mendapatkan pembungkus yang diinginkan. 

"Kalau wadah kertas enggak pas, es krim akan bocor dan rembes," ujarnya. 

Sekadar informasi saja, bahan baku kertas juga ditujukan agar nilai produk semakin kuat diterima oleh konsumen, selain tentunya juga demi mendukung gerakan eco-friendly yang tengah hype saat ini. 

Tak cukup dengan bentuk yang unik dan bahan yang artistik, Beverly yang juga lulusan interior arsitektur UNSW Sydney 2020, memperkuat tampilan box Glatuk dengan berbagai motif lokal yang begitu kuat. Seperti warna-warna cerah atau motif yang terinspirasi dari batik Sidoluhur yang dipadu dengan motif tanaman dan corak lainnya. 

"Glatuk sendiri kalau dilihat di kamus (gelatuk) artinya menggigil atau kedinginan, jadi cocok untuk nama produk es krim kita," terangnya. 


Creative Director Glatuk lainnya Rachel Yahya menambahkan, sejak awal didirikan, Glatuk memang berinisiatif untuk menghadirkan produk yang stand out di pasaran. Bukan tanpa alasan, tidak lain, tidak bukan, hal itu perlu dijalankan demi memompa kinerja penjualan ke depan yang bakal dominan dari dunia maya alias online. Apalagi, Glatuk bisa dibilang, lahir di tengah pandemi, ketika penjualan online juga tengah meningkat. 

Penjualan secara luring atau lewat toko fisik, sebenarnya diyakini masih punya potensi. Namun hal tersebut, rasanya sulit dioptimalkan, saat pandemi membatasi pergerakan orang. 

"Kalau (pembeli) online-kan experience yang mereka dapat adalah packaging, jadi kita ingin kasih sesuatu yang baru. Makanya development lama, karena kita pengen banget mendapat packaging yang belum banyak di Indonesia," urai Rachel yang lulusan DKV UPH 2020.

Karena itu, Beverly kembali menegaskan, produk dan kemasan begitu diperhatikan oleh tim selama pengembangan tujuh bulan itu. Buat mereka, kesan pertama saat orang melihat produk Glatuk jadi hal yang penting. 

Karena alasan itulah, ada banyak formulasi rasa yang ditunda dan dibatalkan tim Glatuk, kala pertama kali resmi beroperasi. Impresi yang negatif, diyakini akan membuat konsumen baru sulit mencoba produk Glatuk lainnya, apalagi jadi pelanggan tetap. 

"Makanya di awal kita keluarin variasi rasa yang dasar dan dikenal, baru setelahnya kita keluarin rasa lainnya. Jadi orang sudah tahu es krim rendah kalori dengan rasa basic yang enak dan mereka percaya ke depan," ujar Beverly. 

Andalkan Online
Vicky mengakui, penjualan produk Glatuk lewat platform online memang memiliki tantangan tersendiri dan dengan proses trial-error yang tak singkat. Namun, seiring waktu, ritme penjualan pun ditemukan. 

Karena proses yang tak mudah itu jugalah, peredaran Glatuk sejauh ini masih terbatas di area Jadetabek, Bandung dan Bali. Untuk pengiriman, Glatuk mengandalkan layanan antar kurir instan yang memiliki kelengkapan penunjang berupa ice gel, aluminium bag serta thermobag. 

"Jadi dobel (keamanan pengiriman), sementara penjualan kita tersedia via WhatsApp, Tokopedia, Shopee, GrabFood, dan Traveloka Eats. Jadi ada banyak kanal untuk beli," ujar Vicky. 

Selama kurang lebih 15 bulan beroperasi, semua jerih payah awal tahun lalu itu pun mulai mendatangkan hasil. Dari sistem prapesan yang dikirim 2–3 kali per minggu, saat ini pengiriman sudah berlangsung saban hari. 

Secara umum, Glatuk masih konstan mengalami pertumbuhan hingga 20–30% tiap bulan. Vicky memaparkan, sejak Februari 2021, Glatuk sudah memiliki store di Bali, diikuti store di Bandung dan menambah outlet di beberapa tempat di Jakarta. 


Blessing in disguise, kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat macam PSBB hingga PPKM yang dikhawatirkan pengusaha ritel dan kuliner, justru mendongkrak kinerja penjualan online Glatuk. Singkatnya, makin banyak orang yang tidak keluar rumah, makin banyak juga orang yang jajan. 

"Itu ber-impact banget ke kita. Apalagi kita yang jualan online, kalau ada orang yang bosen WFH, terus iseng main sosmed, penasaran dan coba Glatuk," ujarnya. 

Sejauh ini, Beverly menyampaikan, banyak konsumen yang menanyakan untuk segera buka toko luring dan fisik, agar bisa dikunjungi. Namun, lagi-lagi kebijakan PPKM masih menjadi pertimbangan utama dalam membuka toko. 

Selama kegiatan penjualan masih bisa dijalankan dan stabil seperti saat ini, Vicky mengaku keinginan buka toko fisik masih sebatas rencana, meski kesempatan tersebut masih terbuka lebar. Mereka sadar, keberadaan satu flagship store Glatuk yang ikonik dan estetik kemungkinan mampu meningkatkan marketing Glatuk itu sendiri. 

Namun hal itu tampaknya masih jauh untuk dilaksanakan. Rencana paling dekat, Glatuk, lanjutnya akan berupaya penuh pada pengembangan produk dan upaya penetrasi pasar ke sejumlah kota. Termasuk menyebar produksi ke daerah lain, agar ongkos kirim tak membebani benar harga jual es krim ke tangan konsumen. 

"Salah satu problemnya ongkirnya agak mahal. Jadi ke depannya itu yang mau kita jangkau dengan sistem yang belum bisa di-disclose," jelas Beverly. 

Tantangan Baru 
Antusiasme konsumen baru di banyak wilayah Indonesia, membuat tim Glatuk juga mesti menghadapi tantangan baru yang mesti dipecahkan. Sekadar bocoran, Vicky mengaku tengah merancang bisnis model baru untuk membantu penjualan di waktu mendatang.

Selanjutnya, di sisi operasional akan terus memperbesar rantai pasok dingin atau cold supply chain produknya, agar bisa menjangkau lebih banyak pangsa pasar di kota lain. Kurang lebih, nantinya hal ini akan berbentuk hub di beberapa tempat.  

"Makanya ini kewajiban Glatuk, agar es krimnya lebih bisa reachable," papar Vicky. 

Ada juga rencana menambah kitchen workshop yang masuk dalam roadmap pengembangan Glatuk di waktu yang lebih panjang. 

"Kalau jangka pendek, kita juga sedang membuat es krim seasonal atau edisi musiman, agar konsumen kita enggak bosan dan terus excited," jelasnya. 


Di sisi marketing, Beverly mengupayakan agar Glatuk bisa turut aktif dalam kegiatan offline ketika ada kesempatan. Agenda offline dinilai bisa jadi sarana untuk menjaring saran dari para pengunjung atau konsumen. 

Sementara untuk kegiatan online, Glatuk juga akan ikut aktif mengikuti berbagai event yang hadir. Media sosial Glatuk juga akan berupaya ditingkatkan sisi personanya, untuk menjalin kedekatan dengan para pelanggan. 

"Jadi kita enggak hanya menawarkan produk semata, tapi cerita-cerita yang bisa dilihat di medsos, agar bisa sharing cerita dan inspirasi sama brand lain," pungkas Beverly.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA