Sedap Aroma Usaha Kopi Toraja | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

22 November 2021|21:00 WIB

Sedap Aroma Usaha Kopi Toraja

Kopi Indonesia yang beragam punya peluang pasar besar. Edukasi cara produksi kopi yang baik masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ pemerintah

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

Sedap Aroma Usaha Kopi TorajaMalotong Coffee menghadirkan rasa & aroma kopi Toraja pada setiap tegukan. Dok/Malotong Coffee

JAKARTA – “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman.” Demikian cuplikan lirik lagu berjudu “Kolam Susu” oleh Koes Plus, yang menggambarkan bagaimana tanah Nusantara kaya akan potensi untuk dikembangkan. Beragam hasil pertanian ataupun perkebunan di Indonesia, banyak disukai oleh khalayak global.

Tanah dari Sabang sampai Merauke punya beragam karakteristik dan potensi yang tentu bisa membawa keuntungan bagi bangsa ini. Kopi misalnya, jadi salah satu komoditas terbaik dari Indonesia. Hal itu tercermin dari berdirinya Indonesia dalam jajaran negara penghasil kopi terbaik dunia.

Produksi kopi dari seluruh daerah di Indonesia sejak tahun 2017 selalu berada di kisaran 700 ribuan ton. Pada 2017 tercatat 717.962 ton, dan 756.051 ton pada 2018. Pada tahun 2019, jumlahnya mencapai 752.511 ton.  Masuk tahun 2020, angka sementara mencapai 753.941 ton, serta angka estimasi tahun 2021 sebesar 765.415 ton.

Bengkulu, Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Lampung, hingga Jawa Timur merupakan deretan daerah penghasil kopi unggulan. Namun demikian, masih banyak daerah lain yang menjadi penghasil kopi. Daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia punya produk dengan karakteristik dan ciri khasnya masing-masing.

Negeri kaya kopi patut disematkan ke Indonesia. Dari seluruh provinsi di Indonesia, DKI Jakarta dan Kepulauan Riau yang tidak memproduksi kopi. Sementara itu, 32 provinsi lain memproduksi kopi meskipun beberapa masih dalam skala yang kecil, seperti Papua Barat yang produksinya hanya 1–2 ton per tahun sejak 2017.

Data olahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menunjukkan bahwa Indonesia masuk ke dalam empat besar produsen biji kopi dunia dengan sejumlah produk andalan, yakni Kopi Luwak, Kopi Toraja, Kopi Aceh, serta Kopi Mandailing. Negara yang menjadi langganan kopi dari Indonesia antara lain Filipina, Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, hingga Italia.

Dari catatan tersebut, tak heran jika Indonesia punya peluang besar merajai industri kopi dunia pada beberapa tahun mendatang. Pasalnya, komoditas kopi Indonesia bernilai cukup tinggi sejak abad ke-16 karena bahan baku kopi yang bervariasi dan melimpah.

Potensi yang ada dari salah satu jenis kopi unggulan, adalah Kopi Toraja. Potensi ini membuat Samuel Rombe Tombe (31) tertarik untuk memanfaatkannya. Pria asli Sulawesi Selatan itu ingin mengenalkan Kopi Toraja, setidaknya kepada masyarakat Indonesia.

Padahal, banyak pebisnis kopi yang menjual kopi-kopi dari beragam daerah, tak spesifik pada satu daerah asal kopi tersebut. Namun, Samuel memberanikan diri untuk hanya menjual Kopi Toraja karena potensi besar yang dilihatnya.

Provinsi Sulawesi Selatan sendiri menjadi salah satu jajaran daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Produksinya pada tahun 2017 mencapai 33.486 ton, 2018 sebesar 34.716 ton, serta 2019 yang sebesar 34.665 ton.

Kekhasan
Samuel meyakini, Kopi Toraja punya keistimewaan khusus yang jarang orang tahu. Secara garis besar, ia mengatakan bahwa Kopi Toraja punya irisan rasa buah-buahan.

Dalam satu daerah di Toraja saja, ia menyebutkan rasa kopinya berbeda-beda. Ada Arabika Sapan yang sedikit mirip Aceh Gayo, Arabika Gandasil yang mirip dengan Kopi Jember, hingga Kopi Pulu-Pulu yang rasanya sedikit mirip dengan kopi dari Nusa Tenggara Timur.

"Jadi, di Toraja itu dalam satu daerah rasa kopinya berbeda-beda, itu belum aku eksplorasi semua. Selain itu, Kopi Toraja ada identitas seperti rasa-rasa makan coklat, itu hampir tidak ada di daerah lain menurutku," ujarnya kepada Validnews di Jakarta, Rabu (17/11).

Ia meyakini Toraja juga menjadi salah satu lokasi 'Mother of Coffee'. Hal itu tak lepas dari sejarah panjang Kopi Toraja yang sudah ada sejak era kolonial. Samuel mengatakan, khusus untuk Kopi Sapan dan Kopi Pulu-Pulu, pengembangannya masih terus berjalan sejak dibawa oleh Belanda ratusan tahun lalu.

Jika kopi di Pulau Jawa dikembangkan dengan cara kawin silang, Kopi Toraja justru terus dikembangkan dari bibit awal yang dibawa Pemerintah Hindia Belanda. Pengembangan itu dilakukan dengan sistem stek batang. 

Mulai terjun ke bisnis perkopian sejak 2010 silam, Samuel baru merambah ke pasar online pada tahun 2018 dengan nama Malotong Coffee. Terlepas dari sejarah panjang Kopi Toraja, ia mengatakan bahwa kopi yang digunakan Malotong Coffee rata-rata belum terintimidasi pupuk kimia.

Keberaniannya untuk berbisnis kopi spesifik dari Toraja tak lepas dari indra perasanya yang mengatakan bahwa Kopi Sapan dan Pulu-Pulu masih berada di atas Kopi Aceh Gayo yang sering dibanggakan pecinta kopi.

"Yang paling terkenal kan Aceh Gayo, tapi aku bisa compare dengan Arabika Sapan dan Pulu-Pulu dan menurut saya pribadi masih menang Sapan dan Pulu-Pulu, jadi aku berani," kata dia.

Sebagai informasi, beragam produk kopi yang dijajakan, didapat dari tiga sumber. Ketiganya adalah dari menyerap produk petani, mengolah kopi sendiri untuk memberi aroma tertentu, serta kebun kopi kecil-kecilan milik sang kakek yang sesekali diserap untuk dijual secara offline karena stoknya yang terbatas.

Untuk produk petani, ia telah memiliki orang kepercayaan. Proses yang dilakukan petani tersebut sebelumnya sudah diamati, mulai dari seleksi biji hingga ke proses pengeringan yang tidak langsung menyentuh tanah agar memberi ruang untuk sirkulasi udara.

"Sementara yang aku proses sendiri itu wine coffee, itu aku ambil dari daerah Sapan, lalu aku fermentasi sekitar 40 hari hingga menjadi kopi wine," kata Samuel.

Perkembangan Bisnis
Meski terjun ke dunia perkopian sejak 2010, sejatinya dunia kopi sebetulnya bukan hal baru bagi Samuel. Orang tuanya sempat berbisnis Kopi Toraja dalam bentuk green bean alias belum melalui proses roasting. Kemudian, sejak 2010, Samuel berinovasi untuk menjual kopi yang sudah diroasting.

"Karena memang kalau kita jual green bean saja saat itu hanya mendapat untuk seribu, dua ribu, tau bahkan lima ratus rupiah. Artinya, tidak ada nilai tambah," jelas Samuel.

Untuk mengimplementasikannya, dia rela merogoh tabungannya hingga sekitar Rp9 juta untuk membeli alat roasting kopi. Setelah itu, i secara otodidak dia mempelajari karakteristik kopi robusta dari tanah kelahirannya.

"Alat roasting Rp9 juta, lalu alat giling waktu itu sekitar Rp3 juta, berarti modal awal kala itu sekitar Rp12 juta-an deh untuk alat," paparnya.

Sejauh ini, dia tak mengalami kesulitan yang berarti terkait akses pasar dari bisnis kopi. Padahal, tak ada pasar online saat itu sehingga ia mau tidak mau membuka toko offline pada sebuah ruko.

Namun demikian, pada awal langkahnya, Samuel mengalami pengalaman tak mengenakkan. Kala Malotong Coffee masuk ke e-commerce Tokopedia sekitar akhir 2017 atau awal 2018-an, pelanggan cukup sulit dicari. Saking sulitnya, dalam kurun dua bulan tidak ada satupun yang membeli produknya.

Setelah itu, ada pesanan dari Jakarta yang menimbulkan secercah harapan. Kemudian, perlahan tapi pasti pesanan terus bermunculan dari berbagai daerah, seperti Makassar, Palopo, sejumlah wilayah Sulawesi Barat, hingga Manado. Pembeli Malotong Coffee di pasar online justru tidak ada yang berasal dari Toraja. Samuel mengatakan bahwa orang-orang Toraja cenderung datang ke toko offline.

Dengan bujet seadanya, Samuel mendirikan cabang di Surabaya, Jawa Timur dua tahun silam. Seiring berjalan waktu, kini cabang Surabaya tak hanya menjual biji kopi atau kopi bubuk. Di sana sudah ada kafe untuk tempat kongkow arek-arek Surabaya.

Perkembangan bisnis kopi ini tak lepas dari bantuan sang adik, Elsanto Rombe Tombe. Elsanto juga menjadi salah satu penggagas nama Malotong. Nama ini punya filosofi tersendiri, yakni pengorbanan, ketekunan, dan dedikasi tinggi dalam menghasilkan segelas kopi berkualitas.

"Jadi, kita fokus pada filosofi itu dan aku ambil kata tersebut yang sudah melekat di daerah Toraja menjadi bahasa sehari-hari di sana," tandasnya.

Dari proses yang berkepanjangan itu, saat ini Samuel berhasil meraup keuntungan bersih di kisaran Rp18 juta setiap bulannya. Angka tersebut merupakan keuntungan akumulatif dari pasar online maupun offline. Beragam kemasan kopi juga telah menjangkau Nusa Tenggara Barat, Ambon, hampir seluruh Pulau Sulawesi, Bali, Jawa Tengah, Bandung, Yogyakarta, Jakarta, sejumlah kawasan di Pulau Sumatra, hingga ke Papua.

Sementara untuk ekspor, hingga saat ini Malotong Coffee belum melancarkannya. Sebagai penjajakan, beberapa waktu lalu sepupunya di Australia memesan 30 bungkus Kopi Toraja untuk dijual di sana. 

Meski belum memperoleh kabar soal kopi pesanan itu, sepupu Samuel menyarankan agar kemasan Malotong Coffee disediakan dalam bahasa Inggris secara utuh, guna menjangkau pasar luar negeri. 

Peluang
Soal prospek kopi Indonesia, dia meyakini pasar tetap terbuka. Dan, yang juga dibutuhkan adalah campur tangan pemerintah.  Sosialisasi dan edukasi ke masyarakat untuk dapat memproduksi kopi berkualitas, masih harus digenjot. Di Toraja saja, ia mengatakan masih banyak masyarakat yang memetik buah kopi asal-asalan, tanpa memperhatikan dampak terhadap aroma dan rasa nantinya.

"Mereka petik semua itu buah warna merah, hijau, kuning. Padahal, kalau mau yang terbaik itu ambil merah dan kuning saja. Nantinya, bau kopi dan rasa akan berpengaruh dari situ," jelas Samuel.

Di sisi lain, meski kedai kopi banyak kini muncul, pasar kopi juga masih berceruk baik. Optimismenya besar. Meski di wilayahnya ada 6 kedai kopi, dalam sebulan pesanan yang didapatnya masih bisa sekitar 20 kg kopi tiap bulannya. 

Hal yang harus dilakukan dalam persaingan itu, adalah sebuah inovasi yang menarik orang untuk datang ke kedai kopi. Sebuah kedai harus memenuhi standar milenial, utamanya memiliki spot foto instagramable serta tersedianya sambungan wifi. 

Khusus untuk standar kedua, keberadaan wifi akan berguna juga bagi mahasiswa yang datang untuk mengerjakan tugas kuliah, bukan sekadar ‘mejeng-mejeng manja’.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA