Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

13 Oktober 2021|15:40 WIB

Punya Potensi Besar, Kemenperin Aktif Promosikan IKM Kerajinan

Kinerja ekspor IKM kerajinan yang mendapat fasilitasi Pameran Ambiente meningkat rata-rata 99,5% setiap tahunnya

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImagePerajin membatik pada kain katun saat pameran batik di Kediri Town Square, Kota Kediri, Jawa Timur. ANTARAFOTO/Prasetia Fauzani.

JAKARTA – Industri Kecil dan Menengah yang bergerak pada sektor kerajinan di Indonesia ditengarai punya potensi besar untuk terus berkembang. Hal ini tak lepas dari capaian ekspor produk kerajinan yang menembus US$829 juta pada 2020 silam.

Plt. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyebutkan peluang pengembangan industri kerajinan terbentang luas mengingat pangsa pasar yang baru 2,5% dari pasar dunia dan dapat terus berkembang.

Untuk itu, Reni mengatakan pihaknya terus aktif mempromosikan beragam produk IKM kerajinan Nusantara agar mampu menguasai pasar domestik maupun internasional. Hal ini tak lepas dari jumlah IKM kerajinan yang mencapai lebih dari 700 ribu unit usaha dan serapan tenaga kerja sekitar 1,32 juta orang.

"Capaian ekspor itu merupakan hal membanggakan yang menunjukkan peningkatan kemampuan IKM Indonesia dalam penetrasi terhadap pasar global, khususnya Uni Eropa," terang Reni dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (13/10).

Reni menjelaskan salah satu langkah pemerintah dalam memperluas pasar IKM kerajinan di kancah internasional ialah melalui fasilitasi kepesertaan pada ajang Pameran Ambiente di Messe Frankfurt, Jerman. Gelaran itu merupakan ajang bergengsi skala internasional untuk menampilkan produk kerajinan, khususnya home decoration.

"Kemenperin melalui Ditjen IKMA rutin berpartisipasi pada Pameran Ambiente, kecuali tahun ini karena adanya pandemi covid-19," ungkap Reni.

Perusahaan yang pernah mendapat fasilitasi kepesertaan ajang itu dari Kemenperin antara lain PT Harmoni Jaya Kreasi, CV Industri Classica Variasi, CV Palem Craft Jogja, serta PT Pandanus Internusa yang belum lama ini kembali melepas ekspor produk kerajinan dari Yogyakarta.

Mendapat fasilitas Pameran Ambiente pada tahun 2018-2020 lalu, PT Harmoni Jaya Kreasi yang memroduksi anyaman dari serat alam telah berhasil memperluas pasarnya ke beberapa negara, seperti Prancis, Amerika Serikat, Belanda, Austria, Spanyol, Belgia, Denmark, Norwegia, Inggris, hingga Afrika Selatan.

Sementara untuk CV Industri Clasica Variasi (Enclave) yang memproduksi kerajinan kayu dan small furniture, telah mengikuti Pameran Ambiente era 2017-2019. Negara tujuan ekspornya antara lain Belanda, Hong Kong, Kanada, Jerman, Swiss, Tunisia, Siprus, Rusia, Amerika Serikat, dan India.

Kemudian CV Palem Craft Jogja juga pernah mengikuti Pameran Ambiente pada 2019-2020 lalu. IKM yang memroduksi dekorasi berbahan baku serat alam dan limbah itu punya negara tujuan ekspor antara lain Spanyol, Jerman, Israel, Perancis, India, Denmark, Turki, Belanda, Chili, Belgia, Argentina, China, dan Amerika Serikat.

Terakhir untuk CV Pandanus Internusa, mengikuti Pameran Ambiente pada 2019-2020 dengan produk unggulan dekorasi rumah berbahan anyaman pandan. Produk Pandanus telah diekspor ke Dubai, India, Vietnam, Maroko, Belanda, Jerman, serta Inggris.

"Palem Craft kali ini akan memberangkatkan 16 kontainer ke Spanyol, Perancis, Belgia, Jerman, dan Polandia. Sedangkan Pandanus akan mengirim 10 kontainer ke Jerman dan Amerika Serikat secara bertahap sampai akhir bulan dengan menyesuaikan ketersediaan kapal dan kontainer," jelas Reni.

Secara keseluruhan, keempat perusahaan itu memberangkatkan produk mereka sebanyak 28 kontainer ukuran 40 feet HC secara bertahap. Hal ini tak lepas dari kelangkaan kontainer dan kapal serta meningkatnya biaya pengiriman akibat pandemi yang mengganggu rantai pasok dunia.

Lebih lanjut, Reni memaparkan kinerja ekspor IKM yang pernah mengikuti Pameran Ambiente secara rata-rata meningkat 99,5% per tahun dalam kurun tiga tahun belakangan. Seperti pada 2019, peserta Pameran Ambiente mencatatkan nilai penjualan saat pameran sebesar US$1,57 juta dan nilai ekspor setelah pameran menjadi US$3,28 juta.

Sebelumnya pada tahun 2018, nilai penjualan enam peserta saat pameran tercatat US$705,2 ribu. Angka ini meningkat setelah pameran dengan capaian nilai ekspor dari keenam perusahaan yang menjadi sekitar US$1,2 juta.

"Sedangkan tahun 2017, delapan peserta mencatat nilai penjualan US$439,6 ribu saat pameran dengan nilai ekspor setelahnya menjadi US$950 ribu," tandas Reni.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER