Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

BERITA

22 Juli 2021|18:51 WIB

PPKM Jadi Alasan BI Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

PPKM yang membatasi mobiltas penduduk, membuat BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2021 lebih rendah dari perkiraan

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Faisal Rachman

ImageIlustrasi Bank Indonesia (BI). Antara Foto/Hafidz Mubarak A.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengoreksi ramalan pertumbuhan ekonomi nasional di 2021 menjadi di kisaran 3,5 hingga 4,3%. Sebelumnya, proyeksi BI terhadap ekonomi domestik lebih tinggi yakni 4,1 hingga 5,1%.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia kami sampaikan adalah sebesar kisarannya adalah 3,5% hingga 4,3% ini titik tengahnya 3,9%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Jakarta, Kamis (22/7).

Meski kisaran proyeksi pertumbuhan ekonomi menurun, namun Perry mengatakan titik tengah pertumbuhan ekonomi meningkat. Sebelumnya, titik tengah ekonomi hanya dipatok di 3,8%.

“Titik tengahnya 3,9% lebih tinggi dari yang kami sampaikan sebelumnya pada waktu pembahasan asumsi makro di banggar (badan anggaran DPR) waktu itu 3,8%,” jelasnya.

Perry mengungkapkan, pertimbangannya menaikkan titik tengah pertumbuhan ekonomi dalam negeri, karena melihat kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi covid-19. 

Vaksinasi, peningkatan kinerja ekspor yang diakibatkan dari membaiknya perekonomian global, dan stimulus yang diberikan pemerintah, serta kebijakan moneter disebut akan membuat titik tengah pertumbuhan ekonomi akan meningkat.

“Kami melihat ada potensi akan bisa lebih tinggi dari 3,9% dengan kebijakan-kebijakan, tentu saja vaksinasi yang lebih cepat, sehingga herd immunity-nya bisa dicapai lebih baik dan penerapan protokol covid,” ujarnya.

Lebih jauh, Perry menuturkan, pada kuartal III/2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih rendah. Hal ini berhubungan dengan kebijakan pembatasan mobilitas yang harus ditempuh oleh pemerintah, untuk mengatasi peningkatan penyebaran varian delta covid-19.

Penurunan pertumbuhan, lanjutnya, terutama terjadi pada konsumsi rumah tangga karena terbatasnya mobilitas, di tengah peningkatan stimulus bantuan sosial oleh pemerintah, dan tetap kuatnya kinerja ekspor. 

Ia bilang, pada kuartal IV/2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali meningkat didorong oleh peningkatan mobilitas sejalan dengan akselerasi vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan, berlanjutnya stimulus kebijakan, dan terus meningkatnya kinerja ekspor.

“Secara spasial, penurunan pertumbuhan ekonomi tercatat lebih kecil di luar Jawa, khususnya Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua), didukung dengan kinerja ekspor yang kuat,” ucap Perry.

 

Warga melintas di samping spanduk pengumuman jam operasional di salah satu pusat perbelanjaan di Kot a Bandung, Jawa Barat, Rabu (21/7/2021). Menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo, Pemerintah Kota Bandung kembali memperpanjang PPKM hingga 25 Juli mendatang dengan melonggarkan beberapa kebijakan guna mencegah penyebaran covid-19. Antara Foto/Raisan Al Farisi 

 


Ekonomi Global
Berkebalikan dengan pertumbuhan nasional yang direvisi ke bawah, BI justru merevisi ke atas perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 menjadi 5,8%, dari sebelumnya sebesar 5,7%. 

Alasannya yakni perekonomian global diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat seiring penyebaran varian delta covid-19 di sejumlah negara.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi tercatat di Amerika Serikat (AS) dan Kawasan Eropa seiring dengan percepatan vaksinasi serta berlanjutnya stimulus fiskal dan moneter, sedangkan pertumbuhan ekonomi China tetap tinggi.

“Prospek ekonomi India dan kawasan ASEAN diperkirakan lebih rendah seiring dengan penerapan pembatasan mobilitas untuk mengatasi peningkatan kembali kasus covid-19,” ucapnya.

Ia menambahkan, volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga diperkirakan lebih tinggi. Kondisi ini ditaksir akan mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global meningkat didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap peningkatan penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap prospek ekonomi dunia, serta antisipasi terhadap rencana kebijakan pengurangan stimulus moneter (tapering) The Fed.

“Kondisi tersebut mendorong pengalihan aliran modal kepada aset keuangan yang dianggap aman (flight to quality), sehingga mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujarnya. 

Industrialisasi
Sementara itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menyatakan, industrialisasi menjadi penentu keberhasilan transformasi ekonomi Indonesia. Industrialisasi juga akan berperan sebagai salah satu strategi utama pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan.
 
 “Tanpa industrialisasi, perekonomian kita tidak akan bisa tumbuh dengan cepat,” kata Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti dalam University Lecturer 3 - Road to Indonesia Development Forum (IDF) 2021 di Jakarta, Kamis.
 
Amalia mengatakan, Kawasan Industri (KI) Morowali menjadi contoh, industrialisasi efektif mendorong pertumbuhan ekonomi dari single digit menjadi double digit.
 
 Bappenas mencatat, PDRB Sulawesi Tengah pada 2017 sebesar Rp133,9 triliun dan pada 2018 sebesar Rp150 triliun. Sedangkan pada 2022, PDRB Sulawesi Tengah meningkat menjadi Rp190,2 triliun dengan kontribusi industri sebanyak 35,12% dan proyeksi pertumbuhan sebanyak 15-17%.
 
 “Pembelajaran KI Morowali, pengembangan secara terpadu menghasilkan nilai tambah dan memberikan dampak sosial ekonomi yang besar di daerah dan nasional,” ujar Amalia.
 
Lebih lanjut ia memaparkan, sejak 2014 pertumbuhan industri pengolahan Sulawesi tengah jauh lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB. Begitu juga dengan share industri pengolahan Sulawesi Tengah yang pada 2010 hanya 6,62%, dengan kehadiran kawasan industri Morowali maka di 2020 meningkat menjadi 27,62%..
 
 “Ada hampir lima kali lipat peranan dari industri pengolahan terhadap perekonomian Sulawesi Tengah. Ini salah satu yang luar biasa, hanya dengan kita membawa rantai suplai pengolahan nikel dari hulu ke hilir dalam satu kawasan industri bisa menciptakan nilai tambah yang luar biasa,” jelasnya.
 
 Kawasan industri juga mengubah struktur industri pengolahan Sulawesi Tengah.  Dari sebelumnya teknologi rendah yakni industri kayu, barang dari kayu dan gabus, barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, menjadi industri logam dasar, menjadi industri berteknologi tinggi yakni industri logam dasar.
 
Selain itu, dari kawasan industri Morowali dapat disimpulkan, dukungan dan komitmen tinggi akan mampu menarik investasi dan pengelola berskala dunia dengan basis industrialisasi yang kuat. Pada 2019, nilai ekspor kawasan industri Morowali mencapai US$6,6 miliar. Selain itu, terdapat keterkaitan (forward dan backward) industri inti sebesar Rp65,7 triliun.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA