Selamat

Rabu, 26 Januari 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

15 Januari 2022

18:00 WIB

Peti Mati Ramah Lingkungan Tembus Pasar Eropa

Eco Green mengekspor peti mati ramah lingkungan dengan bahan rotan, eceng gondok, mendong, rami, dan pelepah pisang. Biasa disebut green coffin.

Editor: Fin Harini

Peti Mati Ramah Lingkungan Tembus Pasar Eropa
Ilustrasi. Pekerja menyelesaikan pembuatan peti mati di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (7/7/2021). ANTARAFOTO/Fransisco Carolio

JAKARTA – Peti mati berbahan ramah lingkungan buatan Eco Green diminati pasar Eropa dan Amerika Serikat. Untuk memenuhi permintaan, Eco Green kini mempekerjakan 100 orang di pabrik yang berlokasi di Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Purwanto, 42 tahun, pemilik Eco Green mengatakan peti yang dibuatnya berasal dari bahan ramah lingkungan, mulai dari rotan, eceng gondok, mendong, rami, pelepah pisang, dan aneka bahan alam lain yang ramah lingkungan, yang disebutnya green coffin.

Produk seperti itu diminati pasar Eropa hingga Amerika Serikat, negara-negara yang kesadaran terhadap lingkungannya relatif sudah tinggi. Kayu-kayu sebagai rangka penguat peti menggunakan kayu yang sudah memiliki sertifikat SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu), sebagai syarat untuk bisa masuk ke pasar Eropa.

"Saya memulai bisnis ini pada tahun 2002. Permintaannya terus naik dari tahun ke tahun. Apalagi setelah kami mendapat pendampingan dan pembinaan, juga dibantu mencari pasar dan permodalan" ujar Purwanto, dilansir dari Antara, Sabtu (15/1).

Melalui Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI), asosiasi di mana Purwanto bergabung, tiap bulan setidaknya tiga kontainer berisi peti mati dikirim ke luar negeri. Tiap kontainer bisa memuat 80 peti, sehingga tiap bulan setidaknya terjual 240 buah peti.

APIKRI tidak cuma menampung produksi peti buatan Purwanto. Sebagai asosiasi pengrajin, asosiasi tersebut juga menjadi penampung produk sejenis buatan produsen seperti Purwanto. Dari bisnis itu, setidaknya sudah ada tiga klaster usaha di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo.

Ketua APIKRI Kemiskidi mengatakan yang ikut menikmati manisnya bisnis peti tersebut memang sangat banyak, mulai dari pengumpul eceng gondok, pelepah pisang, sampai dengan tukang pembuatnya.

Untuk meningkatkan ekspor peti mati, APIKRI berkolaborasi bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Corporate Secretary LPEI Chesna F Anwar mengatakan pihaknya berkomitmen membukakan pasar yang lebih luas bagi perajin, termasuk menyediakan permodalan untuk pengembangan usaha.

"LPEI memiliki mandat dari pemerintah untuk mendorong ekspor. Jadi, kami sangat serius membantu para perajin melalui asosiasi. Kami optimis produk yang unik ini punya pasar yang sangat besar di luar negeri," ujar Chesna.

Sejak 2017 pihaknya telah mendampingi para pengrajin melalui APIKRI dan mulai 2019 para perajin sudah bisa mengekspor. Ekspor perdana ke Belanda pada 2019 nilainya sekitar Rp150 juta, kemudian ekspor ke Amerika Serikat. Jika dihitung rata-rata per bulan dilakukan ekspor tiga kontainer senilai Rp450 Juta, dalam setahun ekspornya mencapai lebih dari Rp5 miliar.

"Ini bisnis yang prospeknya menjanjikan. Apalagi pasar luar negeri mencari produk ramah lingkungan, termasuk memikirkan persiapan ketika kelak menutup usia, maka mereka membutuhkan peti," ujar Chesna.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER