Selamat

Kamis, 1 Desember 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

25 November 2022

08:05 WIB

Perpadi: Pasokan Beras Nasional Sudah Mulai Menyusut

Cuaca yang kurang bersahabat dan hambatan pasokan pupuk membuat pasokan beras turun dan meneybabkan penyerapan beras oleh Bulog tak mencapai target.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

Perpadi: Pasokan Beras Nasional Sudah Mulai Menyusut
Petani memanen padi di Cibadak, Lebak, Banten, Kamis (3/11/2022). Antara Foto/Muhammad Bagus Khoirunas

JAKARTA - Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) mengonfirmasi penurunan pasokan beras di seluruh sentra produksi. Jumlah pengadaan pasokan beras dari petani sejumlah wilayah masih di bawah kontrak yang diteken.

Wakil Ketua Perpadi Billy Haryanto mengakui pihaknya kesulitan melakukan pengadaan beras karena pasokan dari musim panen yang sudah habis dan gangguan cuaca. 

Billy juga mengamini pernyataan Perum Bulog yang tengah kesulitan menyerap beras untuk kebutuhan CBP di tingkat petani hingga penggilingan.

Contoh konkret, dirinya mengakui pasokan beras masih belum sesuai kontrak yang diteken, meski sudah sebulan berlalu. Di Sragen, Jawa Tengah dirinya baru mendapat pasokan 3.000 ton beras dari yang seharusnya sesuai kontrak di kisaran 8.500 ton.

“(Pasokan ini) enggak akan bisa sampai menuhin kontraknya, karena panen dah habis, apalagi panen (beras) sekarang hasilnya kurang bagus,” ungkapnya kepada Validnews, Jakarta, Kamis (24/11).

Padahal selama menjadi pedagang puluhan tahun, lanjutnya, baru kali ini Perum Bulog berani membeli beras petani hingga Rp10.200/kg, namun barangnya kosong. Sekali lagi, hal ini dapat terjadi karena pasokan beras pasca panen sudah mulai habis.

Secara spesifik, ia menjelaskan, pasokan padi yang bermasalah karena rusak lainnya disebabkan cuaca yang kurang bersahabat, serta pasokan pupuk yang terlambat. Kondisi ini pun merata terjadi di berbagai wilayah produsen padi atau beras.

Sekali lagi, meski beras tetap ada, harganya sudah tidak pada level yang wajar. Pada akhirnya, situasi ini akan merembet kepada harga yang akan terbentuk di pasaran dengan lebih tinggi lagi.

Sebagai pengingat, Selama Agustus-Oktober 2022, BPS melaporkan, komoditas beras sudah berkontribusi sebesar 3-4% terhadap inflasi nasional. 

Kontribusi ini terlihat cukup besar dibandingkan konstribusi beras terhadap perhitungan makro yang sama di Januari-Juli 2022, yang hanya bergerak di rentang 0,6-1,7% saja.

Dirinya pun keheranan dengan klaim Kementan yang masih menggembar-gemborkan surplus beras, padahal fakta di lapangan malah sebaliknya. Ia berharap dan mewanti Kementan untuk berhati-hati dengan pernyataannya sendiri.

“Hal ini bisa membahayakan (tubuh) pemerintah itu sendiri,” tegasnya.

Perpadi juga menyampaikan, saat ini pedagang beras di Pasar Induk Cipinang juga siap membeli beras, meski harganya sudah berkisar Rp11.000/kg. “Itu pun (beras masuk) kurang bagus dan sedikit barangnya,” katanya.

Dengan kondisi demikian, Billy berujar, sudah pasti akan kembali membebani rakyat miskin akibat pangan yang mahal. Harapannya, presiden bisa turun tangan langsung mengatasi masalah perberasan saat ini.

“Kasihan rakyat miskin, sudah dua bulan ini tidak dikasih bantuan beras, tapi diganti dengan tunai,” paparnya.

Ke depan, proyeksinya, harga semua jenis beras akan melambung pada Desember-Januari jika tidak ada upaya konkret dan pemerintah gagal untuk mengatasi masalah. Setidaknya, harga beras akan lebih tinggi hingga 8% dari yang hari ini dijual di pasaran. Ini berarti harga rata-rata beras akan bertengger di kisaran Rp12.000/kg.

Adapun, panen raya agar dapat mengguyur pasokan beras di dalam negeri paling dekat terjadi pada Februari 2023 nanti. Karena itu, dirinya menyarankan, jika pemerintah memantapkan diri untuk impor beras maka besarannya bisa mencapai 200-500 ribu ton, untuk menjaga cadangan dalam situasi bencana.

“(Intinya), kalau perdagangan netral saja. Mau impor monggo, enggak impor juga monggo, karena kita akan tetap dagang beras. Tapi (kalau) kita belanja mahal, ya pasti jual juga akan lebih mahal,” sebutnya.

Berdasarkan SP2KP Kemendag, dibandingkan awal Oktober 2022, harga beras kualitas premium di tingkat nasional pada 23 November 2022 sudah naik tipis Rp200 atau 1,57%; dari Rp12.700/kg menjadi Rp12.900/kg. Sementara, harga beras kualitas medium di dalam negeri naik tipis Rp200 atau 1,87%; dari Rp10.700/kg menjadi Rp10.900/kg. 

Ancang-Ancang Impor Beras
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebut, pihaknya siap melakukan pengadaan beras untuk CBP via impor. Hal ini diketahui setelah perseroan yang sudah melakukan kerjasama mancanegara, dengan menyimpan stok sebanyak 500 ribu ton beras komersial di luar negeri.

Rencana ini pun ditujukan untuk menggenapi target CBP 2022 yang di target 1,2 juta ton. Terakhir, per 22 November 2022, stok beras yang dikuasai Bulog mencapai 594.856 ton yang terdiri dari stok CBP sebanyak 426.573 ton (71,71%) dan stok komersial 168.283 ton (28,29%).

“Total stok yang kami punya sekarang sudah hampir 1,2 juta ton, tersimpan di gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia, ditambah stok beras komersial hasil kerja sama di luar negeri,” ungkap Buwas, Jumat (18/11). 

“(Jadi), stok beras di luar negeri ini bisa kapan saja kami tarik, jika memang stok dalam negeri sudah habis. Intinya, untuk stok beras tidak ada masalah,” paparnya.

Dia juga menjelaskan, Bulog akan menggunakan seluruh instrumen yang ada untuk menjamin ketersediaan pangan domestik. 

Selain memiliki jaringan infrastruktur kantor dan gudang yang tersebar hingga pelosok Tanah Air, Bulog sendiri juga sudah memiliki gudang ritel modern sebagai pusat distribusi serta penjualan secara ritel.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER