Selamat

Rabu, 26 Januari 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

15 Januari 2022

16:34 WIB

Pemerintah Targetkan Konversi 1.000 Sepeda Motor BBM ke Listrik

Target konversi 1.000 sepeda motor BBM ke listrik ini dibagi 300 unit dari pemda/pemprov, 400 dari BUMN, dan 300 dari K/L

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Fin Harini

Pemerintah Targetkan Konversi 1.000 Sepeda Motor BBM ke Listrik
Karyawan mengganti baterai sepeda motor listrik di SPBKLU, Gedung Direktorat Ketenagalistrikan di Jakarta, Senin (21/12/2020). ANTARAFOTO/Aditya Pradana Putra

JAKARTA – Pemerintah menargetkan konversi 1.000 unit sepeda motor BBM ke listrik pada 2022 dengan perluasan program untuk kementerian atau lembaga, pemerintah daerah, dan badan usaha milik negara.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menjelaskan, program konversi sepeda motor BBM menjadi sepeda motor listrik ini adalah implementasi  Perpres No. 55/2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Langkah tersebut akan berdampak kepada efisiensi energi dan mengurangi impor BBM yang otomatis akan menurunkan emisi GRK. Program konversi sepeda motor BBM menjadi kendaraan listrik juga disebut-sebut sebagai salah satu upaya pemerintah membangkitkan perekonomian pasca-pandemi covid-19 karena akan melibatkan UMKM.

“Sepeda motor berasal dari  Kementrian atau Lembaga, Pemda (sepeda motor operasional dinas), dan BUMN.  Biaya konversi diharapkan berasal dari instansi pemilik asset,” jelas Dadan kepada Validnews, Sabtu (15/1).

Ia menyebutkan, biaya konversi sepeda motor BBM menjadi motor listrik adalah sekitar Rp10 juta per unit. Program ini akan disupervisi atau diorganisir oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TEK Balitbang KESDM) sebagai  pemilik bengkel atau workshop yang tersertifikasi Kemenhub.

“Dalam pelaksanaanya akan melibatkan bengkel UMKM dan siswa SMK, dan sekaligus P3TEK akan melakukan Quality Control (QC) konversi motlis tersebut,” sambung Dadan.

Sepeda motor yang telah dikonversi, akan dikembalikan kepada pihak instansi pemilik asset, baik Kementerian/Lembaga, Pemda, maupun BUMN.

“Estimasi pembagian kontribusi sepeda motor adalah 300 unit dari pemda/pemprov, 400 dari BUMN, dan 300 dari K/L,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa pihaknya mempunyai Program Konversi 100 Sepeda Motor BBM ke Listrik yang diluncurkan pada 18 Agustus 2021. Hingga Desember 2021, 71 unit sepeda motor telah dikonversi menjadi sepeda motor listrik, sedangkan 29 unit dalam proses penyelesaian konversi.

“Dengan adanya program konversi ini, pemilik sepeda motor tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli motor baru. Dari segi pemakaian bahan energi, pemakaian kendaraan sepeda motor listrik ini akan mengeluarkan biaya sepertiga dibanding harga BBM,” tutur Arifin dalam konferensi pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2021 dan Rencana Kerja Tahun 2022, Rabu (12/1) di Jakarta.

Menurut dia, program konversi ini dapat mengembangkan industri untuk pembuatan baterai, sekaligus menggerakkan sektor UMKM melalui bengkel-bengkel untuk melakukan konversinya.

Net Zero Emission
Sebagai pendukung ekosistem KBLBB nasional, Arifin menyebutkan Indonesia telah memiliki 267 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan 266 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) pada 2021.

“Untuk mendorong KBLBB, kita perlu siapkan dulu infrastrukturnya. Konsumen kendaraan listrik harus bisa lebih didorong karena ini menurunkan emisi di sektor transportasi secara lebih signifikan,” ujar Arifin.

Penguatan ekosistem KBLBB merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission pada 2060. Arifin menyebut, upaya lain yang dilakukan pemerintah, di antaranya retirement PLTU secara bertahap, penggunaan kompor listrik, pemanfaatan teknologi yang lebih efisien, serta penerapan smart grid untuk mengatasi variable renewable energy. Strategi lainnya adalah percepatan pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), terutama tenaga surya dan angin.

“Kita memiliki sumber tenaga hidro yang cukup besar dan geothermal. Tapi kami melihat bahwa tren surya dan angin semakin kompetitif dan implementasinya bisa lebih cepat,” sambung Arifin.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga membeberkan capaian subsektor ketenagalistrikan pada 2021. Antara lain, kapasitas terpasang pembangkit listrik mencapai 74 GW, konsumsi listrik mencapai 1.123 kWh per kapita, dan Rasio Elektrifikasi (RE) sebesar 99,45%. Selain itu, total kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT sebesar 11.152 MW.

“Realisasi bauran EBT sebesar 13,5%, meningkat dibandingkan target sebesar 12,9%,” pungkasnya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER