Selamat

Rabu, 1 Februari 2023

EKONOMI

26 Januari 2023

14:22 WIB

PBB Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 1,9% Di 2023

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global ini menjadi salah satu tingkat terendah dalam beberapa dekade terakhir. laporan PBB juga berisi soal dampak dan rekomendasi kebijakan.

Editor: Fin Harini

PBB Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 1,9% Di 2023
Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia adalah publikasi unggulan tahunan PBB tentang keadaan ekonomi dunia. Foto PBB

NEW YORK – Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat dari sekitar 3,0% pada 2022 menjadi 1,9% pada 2023. Angka ini menjadi salah satu tingkat pertumbuhan terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Hal tersebut diungkap dalam laporan PBB yang diluncurkan pada Rabu (25/1/2023) waktu setempat, dilansir dari Antara, Kamis (26/1).

Selanjutnya, Laporan Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia PBB 2023 memperkirakan pertumbuhan global akan meningkat secara moderat menjadi 2,7% pada 2024, karena beberapa hambatan ekonomi makro diperkirakan akan mulai mereda tahun depan.

Laporan menjabarkan, di tengah inflasi yang tinggi, pengetatan moneter yang agresif, dan ketidakpastian yang meningkat, penurunan saat ini telah memperlambat laju pemulihan ekonomi dari krisis covid-19, mengancam beberapa negara-baik maju maupun berkembang-dengan prospek resesi pada 2023.

Momentum pertumbuhan melemah secara signifikan di Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan negara maju lainnya pada 2022, berdampak buruk pada ekonomi global lainnya.

Di AS, Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan tumbuh hanya 0,4% pada 2023 setelah perkiraan pertumbuhan 1,8% pada 2022.

Pertumbuhan China diproyeksikan akan meningkat secara moderat pada 2023. Dengan pemerintah menyesuaikan kebijakan covid-19 pada akhir 2022 serta melonggarkan kebijakan moneter dan fiskal, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan meningkat menjadi 4,8% pada 2023.

Ini menunjukkan bahwa pengetatan kondisi keuangan global, ditambah dengan dolar yang kuat, memperburuk kerentanan fiskal dan utang di negara-negara berkembang.

Sebagian besar negara berkembang melihat pemulihan pekerjaan yang lebih lambat pada 2022 dan terus menghadapi kelonggaran pekerjaan yang cukup besar.

Baca Juga: Menkeu: Pemulihan Ekonomi Nasional Merata

Dampak
Laporan itu juga memperingatkan bahwa pertumbuhan yang lebih lambat, ditambah dengan inflasi yang tinggi dan kerentanan utang yang meningkat, akan menghambat pencapaian yang diperoleh dengan susah payah dalam pembangunan berkelanjutan, memperdalam efek negatif dari krisis saat ini.

Pada 2022 jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2019, mencapai hampir 350 juta. 

Periode kelemahan ekonomi yang berkepanjangan dan pertumbuhan pendapatan yang lambat tidak hanya akan menghambat pemberantasan kemiskinan, tetapi juga membatasi kemampuan negara untuk berinvestasi dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030 secara lebih luas, laporan tersebut menekankan.

“Krisis saat ini paling parah menyerang yang paling rentan–seringkali bukan karena kesalahan mereka sendiri. Komunitas global perlu meningkatkan upaya bersama untuk mencegah penderitaan manusia dan mendukung masa depan yang inklusif dan berkelanjutan untuk semua,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial, Li Junhua, dalam sebuah pernyataan pada rilis laporan tersebut.

Baca Juga: CIPS: Kebijakan Makro Indonesia Mampu Cegah Resesi

Rekomendasi
Laporan tersebut meminta pemerintah-pemerintah untuk menghindari penghematan fiskal yang akan menghambat pertumbuhan dan secara tidak proporsional mempengaruhi kelompok yang paling rentan, mempengaruhi kemajuan dalam kesetaraan gender, dan menghalangi prospek pembangunan lintas generasi.

Direkomendasikan realokasi dan reprioritas pengeluaran publik melalui intervensi kebijakan langsung yang akan menciptakan lapangan kerja dan menghidupkan kembali pertumbuhan. 

Hal ini akan membutuhkan penguatan sistem perlindungan sosial, memastikan dukungan berkelanjutan melalui subsidi yang ditargetkan dan sementara, transfer tunai, dan diskon pada tagihan utilitas, yang dapat dilengkapi dengan pengurangan pajak konsumsi atau bea cukai.

“Pandemi, krisis pangan dan energi global, risiko iklim, dan krisis utang yang menjulang di banyak negara berkembang sedang menguji batas kerangka kerja multilateral yang ada,” kata laporan itu. "Kerja sama internasional tidak pernah lebih penting dari sekarang untuk menghadapi berbagai krisis global dan membawa dunia kembali ke jalurnya untuk mencapai SDG."

Kebutuhan pembiayaan SDG tambahan di negara-negara berkembang bervariasi menurut sumbernya, tetapi diperkirakan mencapai beberapa triliun dolar AS per tahun.

Komitmen internasional yang lebih kuat, kata laporan itu, sangat dibutuhkan untuk memperluas akses ke bantuan keuangan darurat, guna merestrukturisasi dan mengurangi beban utang di seluruh negara berkembang, dan meningkatkan pembiayaan SDG.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER