Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

BERITA

22 Juli 2021|15:35 WIB

Pasar Rumah Tapak Mulai Bergairah, Apartemen Lesu Darah

Insentif PPN untuk sektor properti, khususnya rumah tapak menstimulus penjualan rumah tapak pada kuartal II tahun ini

Oleh: Faisal Rachman

ImageSeorang ASN melihat rumah siap huni di kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (17/6/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

JAKARTA – Tak hanya menekan daya beli, pandemi juga terbukti mempengaruhi lansekap pasar properti nasional. Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat, rumah tapak menjadi salah satu sektor properti yang bertahan dan bergairah pada kuartal II tahun ini. Hal sebaliknya terjadi pada apartemen.

"Kami melihat sektor rumah tapak tetap bertahan di tengah pandemi. Kalau kita mengingat kembali di akhir tahun 2020, para pengembang perumahan sangat aktif atau cukup aktif dalam meluncurkan produk dan mendapatkan respons yang cukup baik dari pasar," ujar Head of Research JLL Yunus Karim dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (22/7). 

Yunus mengatakan, hal-hal tersebut juga berlanjut ke semester I tahun ini. Head of Advisory JLL Vivin Harsanto menambahkan, minat pasar terlihat masih cukup tinggi merespons peluncuran produk baru oleh pengembang. 

Permintaan yang mendominasi dari end users dan keterjangkauan harga, menjadi faktor yang memengaruhi sektor rumah tapak tetap memiliki performa yang baik.

Permintaan yang didominasi oleh pengguna akhir dan keterjangkauan harga menjadi salah satu faktor yang membuat sektor ini tetap memiliki performa yang baik. 

Selain itu, insentif PPN, relaksasi Loan to Value (LTV), disertai dengan promosi dari pengembang dan penawaran cara pembayaran yang variatif juga menunjang keberhasilan penjualan rumah tapak.

"Kami melihat di semester I tahun 2021 hampir 80% yang terjual memiliki harga di bawah Rp1,3 miliar sehingga keterjangkauan harga tetap menjadi kunci dari performa sektor ini," kata Vivin.

Insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sektor properti, khususnya rumah tapak juga menstimulus penjualan rumah tapak pada kuartal II tahun ini. Yunus mengatakan, insentif yang diberikan oleh pemerintah cukup menstimulus penjualan rumah tapak.

"Karena memang pembeli dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan pada masa-masa biasa," ujar Yunus.

Seperti diketahui, pemerintah memberikan stimulus seperti insentif PPN dan relaksasi Loan to Value (LTV). Insentif yang diberikan di antaranya membebaskan PPN untuk rumah tapak dan rumah susun (rusun) yang dibanderol berkisar Rp300 juta hingga Rp2 miliar.

 

Foto suasana apartemen di Jakarta Barat, Selasa(8/6/2021). Bank Indonesia (BI) menyebutkan permintaan properti komersial relatif stagnan, permintaan properti komersial pada kuartal I/2021 tercatat 0,00 persen year-on-year (yoy) dibandingkan dengan kuartal IV/2020 yang tercatat -0,05 persen yoy. Antara Foto/Galih Pradipta  


Perpanjangan Insentif
Kementerian Keuangan bahkan sudah memutuskan memperpanjang insentif perpajakan tersebut hingga Desember 2021 untuk mendorong pemulihan ekonomi domestik. 

Sebelumnya, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 21 Tahun 2021, PPN yang ditanggung pemerintah hanya berlaku sampai bulan Agustus 2021.

Secara spesifik, insentif yang masuk ke dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 yaitu rumah dengan tipe rumah tapak atau rumah susun. 

Pemerintah juga memberikan pengurangan PPN sebesar 50% untuk tipe rumah tersebut dengan rentang harga jual dari Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.

Insentif tersebut berlaku untuk maksimal satu unit rumah tapak atau rumah susun untuk satu orang, dan tidak boleh dijual kembali dalam jangka waktu satu tahun. Nah, kebijakan ini lantas disambut pelaku usaha properti yang gencar berpromosi, termasuk menawarkan cara pembayaran yang bervariatif, sehingga menunjang keberhasilan penjualan rumah tapak.
 
"Kami melihat dengan adanya permintaan rumah tapak yang cukup tinggi, pengembang akan terus aktif untuk meluncurkan produk baru di kuartal kedua. Terdapat dua pengembangan perumahan berskala besar yang diluncurkan, sehingga membuktikan sektor ini sangat diminati baik oleh pengembang, investor, maupun pasar," tuturnya.
 
Di samping itu, beberapa fitur-fitur yang ditawarkan seperti smart home, ventilasi yang baik dan taman mini yang dikemas sebagai sebuah produk, menarik para pembeli.
 
Untuk ke depannya, JLL memperkirakan hingga akhir 2021 masih akan ada keaktifan dari para pengembang untuk meluncurkan rumah tapak. Khususnya bagi para pengembang yang memiliki lahan luas atau memiliki township perumahan berskala besar. 

Sementara itu, untuk sektor apartemen dan kondominium kondisinya berbanding terbalik dari sektor rumah tapak.
 
"Terkait sektor apartemen atau kondominium, kita lihat di sini bahwa penjualan masih relatif lemah karena pembeli masih sangat berhati-hati dan menunggu situasi yang tepat untuk melakukan pembelian," kata Yunus Karim.
 
Pada 2020, Yunus melihat sektor apartemen berada di titik terendah sejauh ini. Dari kisaran 1.000 unit saja yang diluncurkan, hanya mendapatkan respons dari pasar sebesar 10 persen.
 
Sementara, pada 2021 sendiri kalau melihat secara spesifik untuk kuartal II, tidak ada unit apartemen yang diluncurkan oleh pengembang. Asal tahu saja, saat ini terdapat 37.000 unit apartemen yang ditawarkan, dengan 62% di antaranya telah terjual. 

Dari segi harga, imbuhnya, selama beberapa tahun terakhir harga apartemen cenderung datar atau rata, tidak mengalami kenaikan. Ini karena pengembang masih melakukan upaya-upaya untuk menarik para pembeli. 

“Salah satunya dengan cara tidak menaikkan harga dan lebih fokus terhadap memberikan alternatif atau cara bayar, agar lebih menarik para pembeli," ujar Yunus.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA