Selamat

Kamis, 1 Desember 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

25 November 2022

15:39 WIB

Otomatisasi Robot Meningkat, Kekhawatiran Akan Peretasan Mencuat

Survei yang dilakukan Kaspersky menyebut, risiko keamanan siber meningkat karena robotisasi. Mayoritas responden (85%) percaya, robot dapat mengalami peretasan

Editor: Faisal Rachman

Otomatisasi Robot Meningkat, Kekhawatiran Akan Peretasan Mencuat
Ilustrasi robot yang menggantikan pekerjaan manusia. dok. Kaspersky

JAKARTA – Peningkatan otomatisasi dari penggunaan robot di perusahaan, menjadi keniscayaan belakangan ini. Namun, tren otomtaisasi sendiri memunculkan kekhawatiran lain, yakni meningkatnya potensi peretasan melalui robot yang digunakan. 

Studi Kaspersky baru-baru ini tentang konsekuensi otomatisasi dan pertumbuhan penggunaan robot menunjukkan, peningkatan robotisasi di perusahaan, diiringi dengan meningkatnya jumlah risiko keamanan siber yang ditimbulkan. 

Saat ini, 79% karyawan percaya robot harus lebih banyak digunakan di berbagai industri. Namun sebanyak 69% dari mereka, juga takut akan terjadi peretasan di teknologi tersebut.

“Sistem siber-fisik lebih sering menggunakan robot industri untuk meningkatkan efisiensi produksi. Namun, teknologi baru seperti ini membawa risiko dunia maya baru karena berpotensi rentan terhadap ancaman dunia maya,” kata Andrey Strelkov, Head of Industrial Cybersecurity Product Line di Kaspersky dalam keterangannya, Jumat (25/11). 

Saat ini, robotika digunakan untuk mengatur sistem kontrol industri, proses produksi, dan teknologi informasi lainnya. Robot cukup efektif menggantikan kerja manual, juga meningkatkan efisiensi, kecepatan, kualitas dan kinerja. 

Dengan pemikiran ini, Kaspersky melakukan penelitian untuk mempelajari pandangan karyawan perusahaan manufaktur dan organisasi besar lainnya di seluruh dunia, tentang konsekuensi otomatisasi dan peningkatan penggunaan robot. 

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan pemikiran karyawan tentang keamanan robot dan sistem otomatis di perusahaan mereka. 

Survei dilakukan di 15 negara seperti Amerika Serikat, Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Argentina, Brasil, Mesir, Afrika Selatan, Arab Saudi, UEA dan Turki. Dari survei yang dilakukan, karyawan melaporkan peningkatan tingkat robotisasi di perusahaan mereka selama dua tahun terakhir.

Sebanyak 41% karyawan mengatakan, organisasi mereka telah menggunakan robot, dan 29% organisasi berencana untuk menggunakannya dalam waktu dekat.

Salah satu temuan dalam penelitian tersebut adalah, responden percaya robot dapat membantu industri meningkatkan keuntungan ekonomi serta menyelamatkan orang dari tugas berbahaya.

Sudut pandang ini dibagikan oleh lebih dari separuh karyawan yang disurvei karena 52% berpendapat, penggunaan robot dapat mempercepat dan meningkatkan efisiensi proses produksi dan memangkas biaya. Lalu, 60% percaya robotisasi dapat membebaskan orang dari tugas berat atau berbahaya. 

Penggunaan robot juga mengurangi risiko terhadap kehidupan dan kesehatan pada masa depan. Hal ini pada gilirannya, akan membantu karyawan menghindari tugas rutin dan membosankan serta mempertahankan posisi yang lebih menarik dan berpendapatan tinggi (36%).

Lebih dari sepertiga responden menganggap, salah satu tugas utama yang dapat dilakukan robot dengan baik adalah membangun lingkungan yang aman dan mengurangi kemungkinan kecelakaan akibat kesalahan manusia. Sudut pandang ini dibagikan oleh 36% karyawan.

Temuan penting lainnya adalah bahwa risiko keamanan siber meningkat karena robotisasi. Mayoritas responden (85%) percaya, robot dapat mengalami peretasan, dan 51% mengetahui insiden seperti ini terjadi di perusahaan mereka atau bisnis lokal lainnya.

Keamanan Siber
Dalam hal ini, responden terpecah dalam penilaian mereka tentang seberapa aman teknologi robot. Hampir setengah dari karyawan (44%) menilai, tindakan keamanan siber tidak cukup untuk melindungi robot di berbagai industri, sementara 40% percaya, upaya perlindungan yang memadai sudah diterapkan.

Kaspersky, kata Andrey Strelkov, memastikan keamanan siber tetap berada di garis depan adopsi teknologi robot sebagaimana misinya, membantu mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang dihadirkan robotisasi.

“Dalam penelitian kami, kami meminta responden untuk menilai tidak hanya seberapa nyaman dan efisien robot untuk digunakan dalam produksi, tetapi juga tingkat keamanannya. Ternyata banyak karyawan yang percaya bahwa penggunaan robot akan menimbulkan resiko,” tuturnya. 

Dia melanjutkan, robot, alat pengontrol robot, sistem otomasi, dan rantai pasokan akan menjadi vektor utama serangan dunia maya di tahun-tahun mendatang, dan mereka membutuhkan perlindungan di sini dan saat ini. 

Karena itu, sebelum mengintegrasikan robot ke dalam produksi, seseorang perlu menjamin ketahanan intrusi jaringan dan keamanan jaringan secara keseluruhan. 

“Tidak semua teknologi modern dirancang dengan pertimbangan keamanan. Jadi hanya penggunaan perlindungan jaringan industri mendalam dan platform pemantauan multifungsi yang akan memastikan operasi perusahaan tanpa gangguan. Solusi khusus seperti Kaspersky Industrial CyberSecurity dapat menjadi asisten yang efisien untuk melindungi robotika dalam produksi,” bebernya. 

Agar sistem komputer industri Anda terlindungi dari berbagai ancaman, pakar Kaspersky pun merekomendasikan:

1.Melakukan penilaian keamanan sistem OT secara teratur untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kemungkinan masalah keamanan dunia maya.

2. Menetapkan penilaian dan triase kerentanan berkelanjutan sebagai dasar untuk proses manajemen kerentanan yang efektif. Solusi khusus seperti Kaspersky Industrial CyberSecurity dapat menjadi asisten efisien dan sumber informasi unik yang dapat ditindaklanjuti, tidak sepenuhnya tersedia untuk umum.

3. Melakukan pembaruan tepat waktu untuk komponen utama jaringan OT perusahaan. Di antaranya dengan menerapkan perbaikan dan tambalan keamanan atau menerapkan langkah-langkah kompensasi sesegera mungkin secara teknis sangat penting untuk mencegah insiden besar yang mungkin menelan biaya jutaan akibat gangguan proses produksi.

4. Menggunakan solusi Industrial EDR seperti Kaspersky Industrial Cybersecurity for Nodes dengan EDR untuk deteksi tepat waktu atas ancaman canggih, investigasi, dan remediasi insiden yang efektif.

5. Meningkatkan respons terhadap teknik lanjutan berbahaya baru dengan membangun dan memperkuat keterampilan pencegahan, deteksi, dan respons insiden tim Anda. Pelatihan keamanan OT khusus untuk tim keamanan TI dan personel OT adalah salah satu langkah utama yang membantu mencapai hal ini.

Pekerjaan Baru Tercipta
Dari dalam negeri, berdasarkan studi McKinsey, adanya otomatisasi akan menggantikan 23 juta pekerjaan di Indonesia pada 2030. Namun sisi positifnya, sebanyak 46 juta pekerjaan baru akan tercipta jika Indonesia mampu mengimbangi transformasi ini.

“Dengan pergeseran struktural tersebut, keterampilan yang dibutuhkan industri juga ikut berubah,” ujar Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Arus Gunawan lewat keterangannya di Jakarta, Rabu.

Arus menyampaikan, World Economic Forum telah memperkirakan bahwa ada sepuluh keterampilan teratas yang dibutuhkan pada tahun 2025. Antara lain kemampuan analitis, pemecahan masalah yang kompleks, kreativitas, dan orisinalitas.

“Untuk memanfaatkan keuntungan dari mega tren ini, Indonesia harus meningkatkan produktivitas pekerjanya, termasuk di sektor industri,” ungkapnya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

Pemprov DKI Tata M Bloc Jadi Pusat Rekreasi

Melandai, Inflasi November 2022 Tercatat 5,42%

Presiden Instruksikan Kepala Daerah Amati Inflasi Per Jam

Jangan Minum Teh Saat Makan Besar

Penangkaran 'StAR Project' Kembang Biakkan Hiu Belimbing

Ada 183 Investor Malaysia Berminat Berinvestasi Di IKN

Rambut Rontok Bisa Jadi Indikator Kurangnya Asupan Zat Besi

Pemerintah Relokasi Korban Gempa Cianjur