Selamat

Senin, 8 Agustus 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

05 Agustus 2022

20:32 WIB

Merdeka Finansial Dengan Investasi Saham Syariah

Merdeka finansial bisa dicapai dengan memilih instrumen investasi yang sesuai dengan prinsip syariah, salah satunya saham syariah

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

Merdeka Finansial Dengan Investasi Saham Syariah
Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan sambutan saat IDX Debut Bank Syariah Indonesia (BSI) di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (4/2/2021). ANTARAFOTO/Dhemas Reviyanto

JAKARTA - Berinvestasi menuju merdeka finansial secara Islami tak susah dilakukan dengan berbagai instrumen yang kini tersedia, salah satunya saham syariah. Saham syariah sendiri adalah emiten yang secara bisnis dan kinerja keuangannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 

Asal tahu saja, secara umum, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah memberikan fatwa halal dalam DSN-MUI No.80/DSN-MUI/III/2021 terkait penerapan prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan saham di pasar reguler.

Adapun, isi dari fatwa itu, antara lain investasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dianggap sesuai syariah apabila hanya melakukan jual-beli saham syariah dan tidak melakukan transaksi yang dilarang secara syariah.

Sharia Financial Planner Finansialku, Harryka Joddy memberi saran kepada para investor pemula yang ingin memutuskan investasi saham syariah, alangkah baiknya menyehatkan arus kas (cash flow) keuangan terlebih dahulu.

 "Sebelum memutuskan untuk berinvestasi di saham syariah, saran pertama adalah sehatkan dulu cash flow keuangan teman-teman," ujar Harryka kepada Validnews, Rabu (3/8).

 Menurutnya, sehat cash flow di sini artinya masih ada dana yang disisihkan dari pengeluaran tiap bulannya dan tidak mengganggu pos belanja atau konsumsi bulanan. Dari situ, pastikan juga dana yang digunakan untuk berinvestasi nantinya bukanlah dana darurat keluarga atau dana yang bersumber dari utang.

Ada beberapa saran yang dibagikan Harryka bagi investor pemula untuk berinvestasi di saham syariah agar tercapai merdeka finansial. Pertama, menentukan tujuan keuangannya. Dalam ilmu perencanaan keuangan, setidaknya ada tiga macam tujuan keuangan, yaitu tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk jangka pendek, misalnya, target menikah, liburan, atau biaya masuk sekolah dalam kurun waktu 1-3 tahun ke depan. Jangka menengah, seperti kebutuhan pendidikan anak 3-5 tahun kedepan. Serta, jangka panjang seperti biaya kuliah anak atau kebutuhan dana pensiun di atas 10 tahun dari sekarang. 

Oleh karena itu, Harryka menyarankan berinvestasi di saham syariah digunakan untuk tujuan jangka menengah sampai jangka panjang saja. Karena, risiko investasinya yang cukup tinggi.

Kedua, gunakan Perusahaan Efek yang telah memiliki SOTS (Syariah Online Trading System). SOTS adalah sistem transaksi saham syariah secara online yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

SOTS ini disertifikasi oleh DSN-MUI karena merupakan penjabaran dari fatwa DSN-MUI No. 80 tahun 2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Ketiga, membuka Rekening Efek Syariah. Persyaratan untuk membuka rekening efek syariah secara umum sama dengan pembukaan rekening efek konvensional, yaitu mengisi formulir biasanya bisa online yang disediakan oleh perusahaan efek dan melengkapi beberapa berkas, seperti fotokopi KTP/Paspor, fotokopi halaman depan buku tabungan, fotokopi NPWP, dan foto selfie sesuai dengan permintaan dari Perusahaan Sekuritas atau aplikasinya.

Keempat, memilih saham syariah sesuai dengan preferensi atau profil risiko. Untuk mengetahui daftar perusahaan apa saja yang termasuk kategori syariah, dapat cek di Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK.

Pada daftar tersebut, kata Harryka, ditampilkan perusahaan saham yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Saat ini, ada empat macam index saham syariah. Mulai dari ISSI, JII70, JII30, dan IDX MES-BUMN 17.

Kelima atau yang terakhir, terus belajar saham syariah dengan analisa fundamental atau teknikal. Agar investasi saham lebih berkah dan terarah, maka harus juga mempersiapkan ilmunya.

"Terus belajar analisa baik fundamental maupun teknikal membuat kita dapat menentukan strategi terbaik kapan harus beli dan kapan harus jual untuk masing-masing emiten saham yang akan dipilih. Mempelajari fundamental dan teknikal saham juga mampu mengeliminir resiko bagi kita investor pemula dalam pengambilan keputusan," jelasnya.

Pengertian Saham Syariah
Dilansir dari laman idxislamic.idx.co.id, saham syariah merupakan efek berbentuk saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di Pasar Modal. Definisi saham dalam konteks saham syariah merujuk kepada definisi saham pada umumnya yang diatur dalam undang-undang maupun Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) lainnya.

Tercatat, ada dua jenis saham syariah yang diakui di pasar modal Indonesia. Pertama, saham yang dicatatkan sebagai saham syariah oleh emiten atau perusahan publik syariah berdasarkan peraturan OJK No. 17/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Syariah berupa Saham oleh Emiten Syariah atau Perusahaan Publik Syariah.

Kedua, saham yang dinyatakan memenuhi kriteria seleksi saham syariah berdasarkan peraturan OJK Nomor 35/POJK.04/2017 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Kriteria Saham Syariah
Semua saham syariah yang terdapat di pasar modal syariah Indonesia, baik yang tercatat di BEI maupun tidak, dimasukkan ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK secara berkala, setiap bulan Mei dan November. Saat ini, kriteria seleksi saham syariah oleh OJK adalah emiten tidak melakukan kegiatan usaha sebagai berikut:

1. Perjudian dan permainan yang tergolong judi;
2. Perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain:
- Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
- Perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;
3. Jasa keuangan ribawi, antara lain:
- Bank berbasis bunga; dan
- Perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
4. Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
5. Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan, dan/atau menyediakan antara lain:
- Barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi);
- Barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram lighairihi) yang ditetapkan oleh DSN MUI;
- Barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudarat;
6. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

Selain itu, OJK mensyaratkan emiten memenuhi rasio-rasio keuangan sebagai berikut:
1. Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45%; dan,
2. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%. 

Indeks Saham Syariah
Lebih jauh, setelah mengetahui pengertian saham syariah dan kriteria saham syariah, maka perlu diketahui indeks saham syariah. Berikut beberapa pilihan indeks saham syariah:

1. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Indeks saham untuk seluruh saham syariah yang tercatat pada papan utama dan papan pengembangan BEI (daftar konstituen)

2. Jakarta Islamic Indeks (JII)
Indeks saham yang terdiri dari 30 saham syariah yang berkapitalisasi besar dan likuiditas tinggi (daftar konstituen)

3. JII70
Indeks saham yang terdiri dari 70 saham syariah yang berkapitalisasi besar dan likuiditas tinggi (daftar konstituen)

4. IDX-MES BUMN 17
Indeks saham yang terdiri dari 17 saham syariah milik BUMN dan afiliasinya dengan fundamental yang baik (daftar konstituen)




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER