Selamat

Rabu, 20 Oktober 2021

02 Juli 2021|19:33 WIB

Merajut Hobi Menjadi Gaji

Lenns' Craft bukan sekadar wadah hobi. Penghasilan dan rasa bahagia menjadi nilai tambah.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImageLiem Helen, Owner Lenn's Craft. Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Hampir saban siang di kediamannya, Helen Liem duduk di sofa sambil memegang benang dan bilah besi sekira 14 cm. Benang itu ia kait menggunakan kaitan di ujung bilah besi.

Tangan yang memegang kaitan bergerak berulang, hingga benang berubah menjadi semacam rantai. Lantas, bilah berpengait bernama hakpen bergerak keluar masuk rantai, menghasilkan lingkaran.

Kaitan kembali bekerja, lingkaran semakin lama semakin besar, hingga pada satu titik lingkaran itu disusutkan. Voila, jadilah sebuah kantong berbentuk bulat.

Helen mengulang proses yang sama. Namun, kini tangannya menghasilkan kantong yang lebih panjang.

Ia juga membuat empat kantong panjang lainnya, namun berukuran lebih kecil. Tak ketinggalan, dua lembar berbentuk elips.

Aneka kantong itu kemudian ia isi dengan dakron. Lalu, mulailah ia menjahit, menyatukan semua bagian tadi. Kantong bulat menjadi kepala. Kantong panjang menjadi badan. Sisanya menjadi kaki dan tangan. 

Tak lupa, dua lembar bentuk elips menjadi kuping. Dilengkapi potongan kain flannel berwarna hitam untuk mata, dan sulaman untuk hidung dan pemerah pipi. Ujungnya, jadilah boneka kelinci kecil yang menggemaskan.

Mengubah helaian benang menjadi aneka boneka unik dan lucu telah menjadi keseharian Helen, sejak usia remaja.

Di bawah bendera Lenns' Craft, yang ia dirikan sejak 2011, Helen bahkan berhasil menyalurkan hobi merajut amigurumi, atau boneka rajut kerajinan Jepang, menjadi sebuah peluang usaha.

"Bagi saya, boneka rajut amigurumi unik banget, memiliki tingkat kesulitan sendiri dan tidak semua orang bisa. Ini juga merupakan kerajinan tangan Jepang. Dari kecil, saya sudah suka craft-craft Jepang," tutur Helen kepada Validnews saat dihubungi, soal bisnisnya ini, melalui sambungan telepon, Rabu (23/6).

Hobi Masa Kecil
Ketertarikan Helen pada kerajinan tangan bermula sejak Helen duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, ia tertarik memanfaatkan kain sisa jahitan kakek dan menyulapnya jadi boneka kecil.

"Pas kecil suka lihat kakek jahit di rumah Semarang (rumah orang tua). Kakek dulunya penjahit khusus jas pria dan membuka usaha jahit bernama Rapi Tailor di daerah Purwodadi. Walau sudah tidak bekerja, namun kakek masih suka iseng. Dari situ, ada kain-kain sisa, saya coba jahit pakai tangan, kemudian bikin boneka. Belajar boneka itu pakai kain flanel dan lain-lain," kenangnya.

Sekali dua kali mencoba, ia merasa jatuh hati. Telanjur terpikat dengan seni kerajinan tangan, Helen menekuninya sebagai hobi.

Bahkan kelak saat beranjak dewasa, ia mengambil pendidikan fashion designer di sebuah sekolah fashion ternama di Jakarta dan menjadi murid dari designer Adjie Notonegoro.

Tahun 2011, saat ia menginjak usia 18 tahun, ketertarikan pada seni rajut mulai muncul. Dia mulai mempelajari teknik dasar merajut dari seorang pengajar yang sekaligus memiliki toko benang di kota tempat tinggalnya. Helen pun belajar tanpa dikenakan biaya sepeser pun alias gratis.

Tak putus sampai di situ, kebiasaanya berselancar di dunia digital membawanya berbagai ilmu merajut yang baru. Helen belajar secara mandiri atau otodidak dan memperkuat teknik membuat rajutan.

Lewat bacaan di blog dan beberapa kali trial error, Helen menjatuhkan pilihan untuk menekuni boneka rajut kerajinan Jepang, amigurumi.

Tiap boneka yang telah selesai dirajut akan ia posting di Facebook. Bentuk unik membuat ketertarikan warganet terbentuk.

Kian hari kian banyak yang berkunjung ke media sosial miliknya. Tombol like dan komentar positif ia tuai. Kemudian, ia pun memanfaatkan kesempatan itu dengan coba menjual hasil karya.

Bermodal uang Rp100 ribu, Helen membuka usaha Lenns' Craft. Benar saja, tak butuh waktu lama, langkahnya langsung berbuah manis. Modal itu lantas berubah menjadi omzet sebesar Rp500 ribu.

Bergegas ia jadikan sebagai modal lagi untuk membeli bahan hingga kemasan.

"Saya coba iseng jual, upload. Dulu kan temannya masih random, terus ada yang tertarik dan langsung kontak. Ia langsung percaya. Dari sana, jaringannya makin meluas," ungkap Helen.

Amigurumi karya Helen Liem

Mencicip Kerja Kantoran
Meski ada peminat karyanya, Helen tak langsung terjun sepenuhnya di usaha merajut. Selama periode 2014 hingga 2017, Helen sempat mencicip kerja kantoran sebagai asisten designer di sebuah butik custom made gaun pesta.

Tugas yang diembannya saat itu terbilang banyak. Mulai dari bantu jahit, pola, beli bahan, cari bahan, atur penjahit, hingga desain.

Merasa jenuh dan lelah bekerja dalam tekanan, membuat wanita kelahiran 1993 ini akhirnya memutuskan untuk resign.

Seolah tak kapok dan masih penasaran, tahun 2019, ia memutuskan kembali kerja kantoran. Kali ini, sebagai finance di perusahaan berbeda.

Hanya setahun berselang, dia resign diambil. Helen memilih untuk fokus usaha craft.

Labanya ada. Selama periode 2011 hingga 2021, Helen mengaku beberapa kali meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dari bisnis craft-nya.

Tak hanya fokus pada membuat amigurumi, Helen juga membuka kursus merajut untuk tingkat pemula, menengah, mahir, bahkan anak-anak. Ia juga sempat mengajar kursus menjahit dan desain busana.

Tarif untuk kursus dikenakan Rp110 ribu per jam, sedangkan paket lima jam kursus adalah Rp400 ribu. Tarif tersebut belum termasuk biaya perjalanan Rp35 ribu. Tarif perjalanan ke rumah disesuaikan dengan jarak.

Memberikan kursus ia lakoni kurang lebih setahun. Hingga pandemi meledak, membuat Helen terpaksa menggelar kelasnya secara virtual. Sayangnya, ia terpaksa menangguhkan sementara kelas online lantaran lebih sulit dibandingkan mengajar tatap muka..

Meski demikian, Helen masih mampu meraup untung lebih dari gaji UMR saban bulannya atau seperti standar kerja kantoran. Berbagai karakter amigurumi ia tawarkan mengikuti selera pasar. Terkini, produksi Helen yang tengah digandrungi adalah kelinci.

Ia juga menerima pesanan custom, sesuai keinginan konsumen. Kerap juga ada yang memesan dibuat sebagai hampers atau souvenir.

Boneka rajut buatannya berukuran mulai dari 5 cm hingga paling besar ukuran 35 cm. Proses pengerjaannya tergantung dari tingkat kesulitan dan ukuran. Ukuran kecil menghabiskan waktu sekitar dua hingga lima jam.

Sementara untuk ukuran besar, dapat menghabiskan waktu satu hingga tiga hari lamanya. Itu semua dengan catatan tidak ada kesalahan saat merajut atau membaca pola.

"Kalau misalnya ada yang salah atau miss, kita mesti bongkar dan ulang lagi. Karena itu kan satu sama lain saling menyambung. Satu salah, maka salah semua," paparnya.

Untuk harga, Helen menentukan dari bahan yang dipakai, tambahan material, dan tingkat kesulitannya. Boneka amigurumi miliknya dibanderol mulai dari Rp30.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Tak Selalu Mulus
Ide unik usaha Helen ini ia curahkan melalui sebuah blog, lennscraft.com. Tulisannya pun mendapat perhatian dari media. Tahun 2013, pada usia yang saat itu baru menginjak 20 tahun, Helen telah mendapat kesempatan diliput oleh berbagai stasiun TV dan juga tabloid.

"Saya ini kan nulis blog zaman dulu. Zaman dulu Facebook itu lagi happening banget, jadi mereka bisa nemu saya," tutur Helen.

Selain diliput oleh media, tahun 2017, karyanya kembali dihargai. Boneka rajut Helen mendapat kesempatan untuk menjadi properti di film Suami Yang Menangis.

Namun hidup memang tak semulus jalan tol. Ada kalanya harus melewati jalan penuh dengan kerikil, dan ada kalanya pula banyak batu besar yang menghalang.  

Pada tahun 2011, misalnya, saat Helen memperkenalkan produk amiguruminya ke pasar, banyak orang yang masih belum percaya berbelanja online. Bagi mereka pengiriman masih asing, apalagi membayar di muka tanpa tahu kena tipu atau tidak.

Masalah lainnya adalah ketika paket hilang. Di Indonesia, kebanyakan paket hilang atau raib begitu saja.

Tak mau berbuntut panjang dan memperkeruh keadaan, Helen memutuskan untuk menanggung semua sendiri. Mulai dari kirim ulang hingga konfirmasi ke ekspedisi. Itu semua dia lakukan demi membangun kepercayaan pelanggan.

Hal itu ternyata dia juga alami saat melakukan pengiriman ke luar negeri. Biasanya, orang asing akan marah dan segera meminta refund.

"Barang sudah hilang, bayar ongkos kirim mahal, refund pula. Lumayan banget kalau kirim jauh," keluh Helen.


Ujian terberatnya adalah pada awal 2020, tepatnya pada bulan Maret dan April ketika Indonesia mengonfirmasi kasus pertama infeksi virus corona penyebab covid-19. Kala itu ekspedisi terpaksa ditutup.

"Maret dan April 2020 pendapatan benar-benar nol. Itu awal orang panik sehingga kirim pakai JNE juga tidak ada yang mau," pilunya.

Tak lantas putus asa, Helen memberikan diri membuat konten di TikTok dan YouTube. Ya, kini tumpuan terbesar Lenns' Craft berasal dari media sosial Instagram dan marketplace.

Setiap pelanggan yang mengirim pesan, akan langsung segera ditanggapinya. Ia juga terus meyakinkan konsumen bahwa packing di tengah pandemi tetap aman.

Dari dinamika yang dialami, Helen mengaku bahagia dengan pekerjaan yang juga hobi ini.  

Suasana kerja kondusif dan ada rasa kepuasan sendiri ketika hasil karya disukai oleh pelanggan menjadi salah satu alasan Helen tetap bertahan di usaha yang telah berumur satu dasawarsa ini.

Ke depan, Liem Helen mengaku ingin membuat sebuah buku kerajinan tangan. Ia juga ingin men-display produknya di luar negeri saat nanti pandemi corona usai.

"Setiap hasil kita sudah jadi, kita lihat bagus dan pelanggan suka, kita punya kepuasan sendiri dan merasa dihargai," kata Helen. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER