Selamat

Jumat, 24 September 2021

02 September 2021|15:08 WIB

Menkop Pastikan PON XX Turut Menggeliatkan UMKM Papua

Perputaran transaksi PON XX di Papua diperkirakan sedikit menurun dibandingkan gelaran pada periode sebelumnya di Jawa Barat maupun Riau.

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImageMenteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi.

JAKARTA – Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua menjadi momentum pelepas rindu masyarakat akan gelaran-gelaran olahraga yang ramai sebelum kehadiran pandemi covid-19.

Selain sebagai momentum pelepas rindu akan ajang olahraga, gelaran PON XX di Papua juga ditengarai akan mendongkrak performa penjualan UMKM setempat. Pasalnya, ujung timur Indonesia itu punya banyak potensi dari berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, perkebunan, hingga kerajinan tangan.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam diskusi secara daring menjelaskan gelaran PON XX itu tetap akan memberi dampak ekonomi. 

Namun demikian, Teten tak memungkiri bahwa ada potensi pengurangan nilai ekonomi dibanding gelaran PON sebelumnya, seperti di Jawa Barat tahun 2016 dan Riau tahun 2012.

Berdasarkan data yang ia terima, perputaran transaksi yang terjadi pada PON di Riau tahun 2012 dan Jawa Barat tahun 2016 silam itu mencapai lebih dari Rp100 miliar. Catatan itu ia perkirakan akan sedikit menurun mengingat gelaran PON XX Papua digelar pada masa pandemi.

"Meski menurun, kami yakin punya dampak yang cukup bagus karena akan banyak orang yang datang, kalau tidak salah ada sekitar 11 ribuan orang dimana 9 ribunya itu atlet," ujarnya di Jakarta, Kamis (2/9).

Teten meyakini gelaran PON XX di Papua itu, akan memberi dampak yang signifikan kepada sejumlah sektor UMKM, seperti penginapan, souvenir, makanan dan minuman, hingga kerajinan tangan. Untuk itu, Menkop menegaskan pihaknya telah menggandeng pemerintah daerah terkait untuk menyiapkan pelaku UMKM di sektor-sektor tersebut.

Kemenkop UKM pun telah melakukan identifikasi atas produk-produk potensial asal Provinsi Papua dan Papua Barat. Teten menjelaskan sejumlah produk asal ujung timur Indonesia itu mencakup madu hitam, kopi, olahan sagu, essential oil, hingga aneka produk kerajinan seperti anyaman.

"Tak hanya itu, akhir Agustus lalu, kami juga melepas ekspor kelautan dan perikanan sekitar 28 ton ke Singapura. Kami intervensikan dengan memperkuat koperasi sebagai eksportir dari ikan itu," tutur Menkop.

Untuk itu, Teten meminta para pelaku UMKM di Papua merespon secara positif atas gelaran PON XX tahun ini. PON XX itu, lanjutnya, bisa dimanfaatkan sebagai ajang promosi, termasuk memperkenalkan produk-produk artisan dari Papua dan Papua Barat.

"Ini kesempatan juga bagi UMKM meningkatkan kualitas dan daya saing produk, termasuk pada momen ini kita gunakan agar semakin banyak UMKM Papua yang onboarding ke platform digital," imbuh Teten.

Kendala Bersaing
Lebih lanjut, Teten mengakui bahwa produk-produk UMKM di Papua dan Papua Barat masih kesulitan untuk bersaing dengan produk dari provinsi lain di Indonesia. Untuk itu, Teten menyebut gelaran PON XX turut menjadi ajang peningkatan daya saing produk UMKM khas Papua melalui kurasi produk yang antara lain mencakup perbaikan packaging hingga brand design agar produk menjadi lebih menarik.

Tak sampai situ, kendala UMKM di Papua dan Papua Barat dalam meningkatkan daya saing ialah masih minimnya pembiayaan yang tersalurkan kepada pelaku usaha di sana. Akses pembiayaan yang masih rendah itu disebut tak lepas dari banyaknya UMKM yang belum bankable.

"Jadi kedua hal itu harus kita atasi melalui pendampingan dan pelatihan berkelanjutan. Ini menjadi hal yang penting," kata Menteri Teten.

Guna mengatasi kendala-kendala tersebut, Teten menjelaskan Kemenkop UKM tengah menyiapkan hub ekspor Smesco di Bali dimana produk-produk UMKM orientasi ekspor dari Indonesia Timur juga bisa dipasarkan melalui Pulau Dewata. Kemudian, tengah disiapkan juga Smesco Nokem Movement agar produk-produk khas Papua dan Papua Barat bisa dijual di department store.

Ia juga mengklaim bahwa hingga saat ini telah dilaksanakan pendampingan UMKM oleh Kemenkop UKM lewat kolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya ialah Program Gerakan Bersama (Geber) guna memperbaiki seluk-beluk bisnis pelaku UMKM.

"Selama ini lewat kolaborasi itu kami telah mendampingi UMKM dalam rangka perbaikan, kurasi produk, packaging, hingga branding yang saya kira terus kita perkuat untuk Provinsi Papua ini," ucapnya.

Sementara terkait akses pembiayaan, Menkop menjelaskan hingga saat ini belum ada skema khusus terkait bantuan tambahan modal bagi UMKM di Papua. Hal itu dikarenakan Kemenkop UKM tengah fokus mengoptimalkan dua sumber pembiayaan bagi koperasi dan UMKM, salah satunya ialah melalui LPDB-KUMKM.

"Pemda juga terus kita minta untuk mensupport koperasi agar bisa mengonsolidasikan usaha mikro. Apalagi di Papua itu kan memang usaha mikro yang banyak di sana," jelas Teten Masduki.

Kemudian, Teten juga menegaskan pihaknya berkomitmen memaksimalkan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) yang presentasenya di Papua masih rendah atau sekitar 1,4% atau jauh di bawah rata-rata penyaluran KUR secara nasional ada di kisaran 20%.

"Saya kira akses ke pembiayaan masih rendah karena belum bankable. Ini perlu ada pendekatan lain sehingga kami fokus mengelola dua pembiayaan tadi," tandasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER