Menkop Pacu Peran Koperasi Dalam Ekspor Kelapa | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

10 November 2021|08:36 WIB

Menkop Pacu Peran Koperasi Dalam Ekspor Kelapa

Pengembangan kelapa di Sulawesi Utara masih terhambat tanaman yang sudah tua, serangan hama, hingga alih fungsi lahan

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

Menkop Pacu Peran Koperasi Dalam Ekspor KelapaSeorang pekerja memperlihatkan kopra yang dijemur. ANTARA FOTO/ Akbar Tado

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki terus mendorong daya saing dan ekspor produk kelapa agar dapat dikembangkan melalui koperasi secara terintegrasi dari hulu ke hilir dengan keterlibatan offtaker, keterhubungan kepada akses pembiayaan, serta penerapan teknologi.

Menurut Teten, langkah itu tak lepas dari potensi industri kelapa yang sangat besar, baik di pasar domestik maupun global. Hampir seluruh bagian kelapa, mulai dari daun, buah, hingga serabutnya punya daya guna dan bernilai tinggi.

"Bahkan dalam hal penyumbang devisa negara pada sektor agribisnis, kelapa ada di peringkat empat setelah sawit, karet, dan kakao," sebut Menteri Teten dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (9/11).

Salah satu kawasan dengan produksi kelapa tertinggi ialah Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah tersebut sepanjang tahun 2020 berhasil menempati peringkat kedua dalam hal produksi kelapa dengan kontribusi 8,92% dari total produksi 2,8 juta ton, menurut data dari Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian.

Provinsi Sulawesi Utara sendiri memiliki produktivitas rata-rata 1,2 ton kopra/hektare per tahunnya atau sedikit lebih tinggi dari rata-rata produksi kelapa nasional, yakni 1 ton kopra/hektare per tahun. 

Namun demikian, pengembangan kelapa di Sulut tak lepas dari tantangan yang mencakup sebagian besar sudah tua atau tidak produktif serta serangan hama dan alih fungsi lahan.

Untuk itu, Teten berkomitmen untuk meningkatkan kontribusi koperasi terhadap eksistensi para petani kelapa. Hal tersebut salah satunya diimplementasikan lewat kebijakan pembiayaan LPDB-KUMKM yang 100% diperuntukkan bagi pembiayaan koperasi.

Ia berharap koperasi dapat berpengaruh secara signifikan terhadap ekspor kelapa dari kalangan UMKM. Pasalnya, saat ini catatan kontribusi ekspor UMKM secara keseluruhan masih di kisaran 15,65% atau lebih rendah dibanding negara lain, seperti Singapura 41%, Thailand 29%, hingga Tiongkok sebesar 60%.

"Komitmen ini juga dilakukan untuk memenuhi target kontribusi ekspor UMKM yang akan meningkat menjadi 17% pada tahun 2024," tegas Menteri Teten.

Menurut data olahannya, Teten mengatakan hingga triwulan II 2020 lalu, ekspor kelapa Indonesia berhasil mencapai 988,3 ribu ton atau senilai US$519,2 juta. Capaian itu menunjukkan peningkatan di kisaran 16–17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia juga mengatakan setidaknya ada enam produk kelapa dan olahannya asal Indonesia yang nilai ekspornya cukup tinggi, salah satunya ialah kopra atau daging buah kelapa yang sudah diolah dengan nilai mencapai US$309,4 juta. Dengan pangsa pasar 25,5%, Indonesia saat ini berstatus sebagai negara eksportir nomor satu untuk produk tersebut.

"Sedangkan kopra mentah nilai ekspornya US$236,3 juta dengan pangsa pasar 22,92% dan menempati peringkat kedua dunia setelah Filipina," lanjut Teten.

Produk lain dari komoditas itu antara lain kelapa parutan kering senilai US$178,8 juta dengan pangsa pasar 24,28%, gula kelapa yang bernilai ekspor US$79,1 juta dengan pangsa pasar 3,99%, kelapa segar dalam batok senilai US$58,7 juta dan pangsa 29,8%, serta sabut kelapa yang nilai ekspornya mencapai US$9,2 juta dengan pangsa pasar 1,2%.

"Kami tentu punya harapan produk kelapa dan olahannya bisa terus berkembang, khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara," kata Menkop.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA