Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

11 Oktober 2021|12:49 WIB

Menkop Jadikan Kopontren Role Model Korporatisasi Pangan

Lewat korporatisasi pangan, koperasi bisa berperan sebagai offtaker untuk menjamin produk petani terserap

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi. Petani mengupas jagung di area persawahan Desa Tuko, Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (29/9/20 21). ANTARAFOTO/Yusuf Nugroho

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al Ittifaq di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat menjadi salah satu contoh sukses pengaplikasian koperasi yang berguna dalam rangka memajukan perekonomian desa atau ekonomi umat.

Teten juga menjadikan Kopontren Al Ittifaq sebagai role model korporatisasi pangan. Koperasi yang berdiri sejak 1997 itu bergerak di sektor agribisnis dengan komoditas utama sayur mayur dan telah memiliki aset lebih dari Rp49 miliar.

Melalui konsep korporatisasi pangan itu, Menkop menjelaskan entitas koperasi tak hanya berperan sebagai agregator petani berlahan sempit lagi, tetapi juga menjadi offtaker sehingga tidak akan ada lagi petani yang mengeluh produknya tidak terserap.

"Dengan korporatisasi pangan, tidak ada lagi petani teriak tidak terserap produknya karena koperasi yang menyerap. Jadi, petani dan peternak tak perlu pusing memasarkan produk karena koperasi yang akan menjadi pasar dan mengolahnya," ujar dia dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (11/10).

Capaian Kopontren Al Ittifaq dari segi aset yang tidak kurang dari Rp49 miliar itu tercatat berdasarkan Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2020 dengan jumlah anggota yang sebanyak 1.374 orang. Tak sampai situ, Koppontren Al Ittifaq juga telah menerima pembiayaan LPDB-KUMKM sebesar Rp6,3 miliar tahun lalu dan telah disetujui fasilitas pembiayaan tambahan Rp12 miliar.

Dukungan dari LPDB-KUMKM itu, lanjut Teten, dilakukan demi menguatkan kemampuan dan kompetensi dari Kopontren Al Ittifaq karena dana bergulir yang diberikan dapat berperan lebih besar pada investasi pembangunan greenhouse.

"Kami akan minta LPDB untuk support supaya kemampuan Kopontren Al Ittifaq makin kuat. Pembiayaan dana bergulir ini dapat digunakan untuk modal kerja agribisnis dan investasi pembangunan greenhouse," tambah Teten.

Menteri Teten juga melayangkan apresiasi atas capaian Kopontren Al Ittifaq yang berhasil memasarkan produk sayur-mayur dan buah-buahan hasil dari petani anggota ke beberapa modern market, seperti PT Lion Super Indo, Yogya Dept Store, serta AEON di Bandung dan Jakarta.

"Bahkan Kopontren Al Ittifaq juga mendapat permintaan khusus dari rumah sakit dan rumah makan, penjualan secara daring lewat Alifmart, serta jaringan ritel Alifmart Store," kata Teten Masduki.

Dalam kesempatan itu, Menteri BUMN Erick Thohir meyakini hingga saat ini Kopontren Al Ittifaq telah menjadi contoh nyata dimana pesantren yang selama ini hanya sebatas sarana pendidikan agama Islam, juga dapat menyejahterakan perekonomian rakyat.

Erick menyebut pesantren telah menjadi mercusuar peradaban. Hal itu terlihat dari ekonomi komunitas yang masing-masing saling bergandeng tangan untuk mewujudkan perekonomian yang adil.

"Jadi pesantren tak hanya sebagai sarana pembelajaran keagamaan, tetapi juga mampu menyejahterakan desa dan menjalankan ekonomi umat," tandas Erick Thohir.

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) itu juga berkomitmen akan mendukung pembiayaan Kopontren Al Ittifaq lewat perbankan, seperti Bank Syariah Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, serta PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Sementara itu, Pengusaha sekaligus Anggota Wantimpres Arifin Panigoro mengaku merasa bangga atas perkembangan pesat yang dialami oleh Kopontren Al Ittifaq, khususnya dari segi aset yang melesat hanya dalam beberapa tahun.

"Kemajuan koperasi ini sangat pesat, dari awalnya di hilir itu hanya punya Rp200 juta tapi sekarang punya Rp49 miliar. Saya yakin di era sekarang, sektor pangan mulai dari hulu sampai hilir akan jadi sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA