Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

WIRAUSAHA

08 Juni 2021|16:53 WIB

Menkop : Bali Harus Maksimalkan Potensi Kakao

Lewat korporatisasi, para petani kakao akan mudah mengakses pembiayaan perbankan

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi. Petani memilah biji kakao di Kare, Madiun, Jawa Timur, Rabu (23/9/2020). ANTARAFOTO/Siswowidodo

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki terus mendorong Provinsi Bali agar memaksimalkan komoditas kakao yang memiliki potensi besar untuk memulihkan kondisi perekonomian yang terdampak pandemi covid-19.

Melalui keterangan resminya, ia menyebut salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah pembentukan korporatisasi petani melalui koperasi untuk memperbaiki ekosistem sehingga nantinya akan tertata dengan baik.

"Di Indonesia sulit untuk menghadirkan corporate farming yang modern, punya kapasitas produksi besar, produk dan daya saingnya kuat karena petani kita perorangan dan lahannya sempit, perlu diperbaiki," jelasnya di Jakarta, Selasa (8/6).

Teten menyebut kakao di Pulau Dewata, khususnya Kabupaten Jembrana merupakan komoditas unggulan se-Indonesia. Namun, ada sedikit permasalahan bagi para petani, yakni mereka sulit untuk memastikan biji kakao yang diproduksi memiliki standar mutu yang sama.

Padahal, kakao asal Kabupaten Jembrana punya peluang untuk memenuhi pasar domestik, atau bahkan ekspor. Menurut Teten, seluruh pihak terkait harus memikirkan cara agar komoditas kakao mulai masuk ke segmen industrialisasi.

"Sehingga UMKM jangan lagi sebagai ekonomi marjinal, tapi kita dorong ke industrialisasi. Di Jembrana harus kita besarkan industri kakao, kita harus berani karena ada peluang di daerah itu," tegasnya.

Korporatisasi petani, lanjut Teten, menjadi salah satu program prioritas bagi Kemenkop UKM. Pasalnya, selama ini para petani memiliki kendala dalam mengakses pembiayaan karena sektor pertanian memiliki risiko yang tinggi.

Melalui pembentukan korporatisasi petani, Teten meyakini pihak perbankan akan dengan mudah memberikan pembiayaan kepada para petani yang selama ini kesulitan mengakses hal tersebut.

"Kenapa selama ini bank tidak mau membiayai? Karena sektor pertanian punya risiko tinggi, tapi kalau dipastikan ada offtaker-nya, pasti bagus, ini perlu ditata dengan baik," kata Menteri Teten.

Sebagai informasi, catatan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan produksi kakao di Indonesia sepanjang 2020 berada di kisaran 713 ribu ton atau menurun dibandingkan produksi tahun 2019 yang mencapai 734.796 ton.

Sementara untuk tahun 2021, Ditjen Perkebunan Kementan memroyeksi produksi kakao di seluruh Indonesia hingga akhir tahun akan menyentuh angka 728 ribu ton.

Khusus untuk Provinsi Bali, produksi kakao hingga akhir tahun ini diperkirakan menyentuh 5.081 ton atau meningkat tipis dari tahun sebelumnya yang tercatat sedikit di atas 5 ribu ton. Untuk tahun 2019 sendiri, produksi kakao di Pulau Dewata hanya sebesar 4.968 ton.

Sementara, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor biji kakao pada 2020 menurun sekitar 7% menjadi 28.768 ton dibandingkan tahun 2019 yang kala itu berhasil menyentuh 30.835 ton.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA