Selamat

Senin, 23 Mei 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

13 Mei 2022

20:00 WIB

Menkeu Dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 Perkuat Ekonomi

Pertemuan di bawah kepemimpinan Kamboja dan Tiongkok kali ini bertujuan untuk membahas strategi dan respons kebijakan regional dalam menghadapi risiko dan tantangan global saat ini.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Dian Kusumo Hapsari

Menkeu Dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 Perkuat Ekonomi
Menteri Keuangan Sri Mulyani. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
JAKARTA – Pertemuan Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 (ASEAN+3 Finance Ministers’ and Central Bank Governors’ Meeting/AFMGM+3) ke-25 telah diselenggarakan secara virtual pada tanggal 12 Mei 2022.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengapresiasi upaya ASEAN+3 dalam mengembangkan Future Initiatives untuk menangani isu terkait pembiayaan infrastruktur, instrumen makro, asuransi bencana, fintech, keuangan digital, dan perubahan iklim. Terkait dengan isu iklim, Menkeu menyambut baik inisiatif keuangan transisi.

"Upaya ini tidak akan mudah dan murah. Oleh karena itu, kerja sama dalam mendesain mekanisme yang efektif dan kredibel, terutama untuk keuangan transisi, menjadi kritikal. Kami menyambut baik inisiatif dari ASEAN+3 ini, dan kami juga akan berpartisipasi bersama organisasi internasional lainnya, seperti ADB, dan melalui kerja sama bilateral," ucap Sri Mulyani dalam keterangan resmi, Jakarta, Jumat (13/5).

Pertemuan di bawah kepemimpinan Kamboja dan Tiongkok kali ini bertujuan untuk membahas strategi dan respons kebijakan regional dalam menghadapi risiko dan tantangan global saat ini.

Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini,  Sri Mulyani Indrawati dalam kesempatan tersebut menyampaikan tiga hal yang perlu diperhatikan oleh setiap negara dalam menyusun kebijakan untuk mengatasi tantangan saat ini yaitu kebijakan untuk melindungi kelompok vulnerable, melindungi dan menjaga momentum ekonomi, dan mengembalikan kekuatan instrumen fiskal.

Sementara untuk memperkuat kerjasama keuangan regional, Menkeu mendorong penguatan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) sebagai lembaga yang berperan dalam memantau dan mengevaluasi stabilitas ekonomi makro di Kawasan.

Menurutnya, AMRO juga berperan penting untuk memberikan rekomendasi dalam proses pengambilan keputusan terkait Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) yang merupakan fasilitas jaring pengaman stabilitas keuangan di kawasan.

Oleh karena itu, peningkatan dari sisi sumber daya manusia yang inklusif dengan dukungan dari seluruh negara anggota menjadi penting untuk dilakukan. Harapannya, AMRO dapat memberikan masukan dan rekomendasi kebijakan yang lebih kredibel kepada negara di Kawasan.

Dalam Pernyataan Bersama (Joint Ministerial Statement/JMS) AFMGM+3 menyadari bahwa kerja sama keuangan ASEAN+3 memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi kawasan dan sepakat untuk lebih memperdalam kolaborasi melalui Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), AMRO, Asian Bond Markets Initiative (ABMI), dan ASEAN+3 Future Initiatives.

Perekonomian ASEAN+3 dianggap tetap tangguh dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi covid-19. Sejak 2021, ASEAN+3 telah berfokus pada peningkatan vaksinasi untuk melindungi masyarakat serta telah mengadopsi langkah-langkah untuk meminimalisasi dampak terhadap perekonomian dan mendukung pemulihan.

Hasilnya, kawasan ini mengalami pertumbuhan yang kuat sekitar 6% pada 2021. Dengan tingkat vaksinasi yang tinggi di Kawasan, diperkirakan pemulihan ekonomi ASEAN+3 ke depan akan lebih kuat.

Namun, normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju yang lebih tajam dari perkiraan, gangguan rantai pasok yang berkelanjutan, dan kenaikan harga pangan serta energi yang diperparah oleh konflik Rusia dan Ukraina saat ini, dapat menimbulkan risiko penurunan terhadap prospek perdagangan, investasi, pertumbuhan, dan inflasi di Kawasan.

AMRO memperkirakan pada 2022, ekonomi ASEAN+3 akan tumbuh 4,7% dan diproyeksikan mencapai pertumbuhan 4,6% pada tahun 2023. Inflasi inti (core inflation) untuk kawasan ASEAN+3 diperkirakan meningkat menjadi 3,5% pada tahun 2022 dan moderat menjadi 2,3% pada tahun 2023.

Peningkatan inflasi tahun ini mencerminkan efek skenario low-base, penghapusan subsidi energi dan beberapa produk penting, serta kendala dari sisi pasokan yang mendorong naiknya harga bahan baku, energi, transportasi, dan makanan. Prospek inflasi bergantung pada perkembangan harga komoditas global dan kekuatan pemulihan ekonomi.



KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER